Kompas.com - 19/12/2014, 11:52 WIB
Menu andalan di Rumah Makan Dua EM Bersaudara Mataram, Nusa Tenggara Barat. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANMenu andalan di Rumah Makan Dua EM Bersaudara Mataram, Nusa Tenggara Barat.
EditorI Made Asdhiana
Oleh: Sri Rejeki & Dwi AS Setianingsih

LOMBOK lekat dengan rasa pedas. Tak jarang kepedasan itu malah kelewatan. Namun, mengapa menu seperti ayam julat, yang pedasnya minta ampun, itu tetap dikejar konsumen?

Ayam julat adalah salah satu turunan ayam taliwang yang diracik dengan sangat pedas. Menu itu bisa ditemukan di Rumah Makan Dua EM Bersaudara di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Julat dalam bahasa Sasak berarti terbakar. Sensasi bumbu yang membaluri ayam memang membuat lidah seperti terbakar. Lalu, Anda akan berucap, huh-hah pedes. Namun, ritual makan bukan berarti berhenti sampai di sini.

Ayam julat malahan menjadi salah satu makanan favorit pengunjung RM Dua Em Bersaudara yang berlokasi di Jalan Transmigrasi, Kota Mataram. Ayam ini sejatinya adalah ayam taliwang yang dibakar. Taliwang merujuk pada bumbu khas yang berasal dari Kampung Karang Taliwang, yakni bumbu pelalah. Bumbu ini terbuat dari ulekan bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai kecil, dan garam yang dimasak lantas ditambahkan santan. Ayamnya sendiri bisa diolah dengan cara dibakar ataupun digoreng.

Jika dirasa masih kurang pedas, pengunjung dapat meminta agar bumbu ditambah tingkat kepedasannya. Proses memasak menu ini: ayam dibakar terlebih dahulu hingga 80 persen matang, lantas disiram bumbu plecingan. Bumbu ini terbuat dari ulekan bawang merah, bawang putih, cabai, dan garam. Ayam yang telah diberi bumbu dibakar kembali sehingga bumbu terasa benar-benar meresap. Ayamnya diambilkan dari jenis ayam kampung berusia 6-7 bulan. Tidak heran jika dagingnya terasa empuk.

Plecing dan tahu

Ayam julat biasanya disantap bersama plecing kangkung, sambal beberok, dan sayur lebui. Plecing kangkung terdiri dari potongan kangkung, kacang panjang, dan taoge dengan sambal tomat yang diberi terasi dan taburan parutan kelapa atau urap serta kacang tanah goreng. Sambal urapnya dibuat dari kelapa yang dibakar lantas diparut.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Ayam bakar taliwang irama di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Teman makan lainnya tahu goreng sambal kecap yang juga sungguh nikmat. Tahunya gurih dan lembut dengan tingkat kepadatan yang pas, tidak mudah hancur, tetapi juga tidak terlalu keras. Menurut salah satu pemilik rumah makan ini, Ahmad Fahmi (40), kualitas kacang kedelai dan air-lah yang membuat perbedaan tahu Lombok dengan tahu-tahu dari daerah lain. Tidak jarang tahu dari Pulau Lombok juga dibawa sebagai oleh-oleh ke luar pulau.

Agar acara makan bertambah segar, jangan lupa cicipi sayur lebui, semacam sayur asam berisi kacang hitam dengan bumbu bawang merah, kemangi, tomat, dan irisan cabai. Adapun beberok adalah sambal tomat dengan terasi lantas dicampur potongan terong bulat segar dan kucuran jeruk limau. ”Sayur-sayuran di Lombok ini terasa segar. Mungkin karena kondisi tanah dan airnya. Banyak yang minta dikirimi sayuran segar dari pulau ini,” kata Fahmi.

Selain ayam julat, juga tersedia ayam goreng, ayam bakar madu, dan ayam bakar kecap. Menu lain yang jadi ciri khas rumah makan ini adalah sate sumsum yang terbuat dari sumsum sapi. ”Menu ini ide dari ibu saya. Sudah ada sejak pertama kali rumah makan ini berdiri,” kata Fahmi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X