Kompas.com - 21/12/2014, 12:31 WIB
Tiga orang anak sekolah dasar di Kompleks Mabako, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Jumat (19/12/2014) membunyikan meriam bambu di samping rumah mereka. Tradisi meriam bambu merupakan warisan leluhur orang Flores untuk menyambut kelahiran Isa Almasih.  KOMPAS.COM/MARKUS MAKURTiga orang anak sekolah dasar di Kompleks Mabako, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT, Jumat (19/12/2014) membunyikan meriam bambu di samping rumah mereka. Tradisi meriam bambu merupakan warisan leluhur orang Flores untuk menyambut kelahiran Isa Almasih.
|
EditorI Made Asdhiana
MEMASUKI bulan Desember, warga Flores, Nusa Tenggara Timur mulai menyiapkan berbagai tradisi dalam menyambut Kelahiran Yesus Kristus. Pembuatan kandang Natal bernuansa Kandang Betlehem berjejer di Jalan Transflores Labuan Bajo-Maumere. Juga di kota-kota membangun kandang Natal. Di Paroki Santo Arnoldus dan Yosep Waelengga, setiap komunitas basis membuat kandang Natal dinilai oleh tim pastoral.

Di Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT, sementara berteduh saat hujan mengguyur, tiba-tiba terdengar suara dentuman. Suara itu awalnya terdengar hanya sekali, tiba-tiba terdengar bertubi-tubi. Ternyata anak-anak muda dan orangtua memainkan tradisi meriam bambu. Hampir seluruh warga di Pulau Flores memiliki kesamaan dalam menyambut Kelahiran Isa Almasih, yakni menyuarakan meriam bambu di kampung-kampung.

Suasana menjadi panik. "Ada perang ko?" tanya seorang bapak yang berteduh di salah satu kios di Kelurahan Karot. Karena tidak ada yang menjawab, bapak tua tersebut, gelisah, lalu nekat mengendarai kendaraan ke arah pusat Kota Ruteng, meskipun hujan belum berhenti.

Di tengah hujan gerimis, bunyi ledakan dan tembakan itu semakin keras. Suasana tiba-tiba berubah menjadi sepi, sunyi. Terdengar jelas suara teriakan dan hura-hura warga, menyusul ledakan bertubi-tubi di udara, dilanjutkan dengan suara meriam yang keras, membuat suasana kembali mencekam.

Suara ledakan dan tembakan itu tetap terdengar sampai hujan berhenti pukul 20.27. Setelah hujan berhenti, banyak anak-anak  yang turun ke jalanan, berlari menghampiri suara ledakan dan tembakan tersebut. Bapak Teo yang panik, segera menghidupkan motornya dan pergi tergesa-gesa karena panik dan takut dengan suasana tersebut.

Anak-anak dan orang tua masing-masing yang berkerumun di jalan saling bertanya, dari mana suara itu. Setelah beberapa menit tiba-tiba suara ledakan terdengar, semua warga menengadah ke atas, dan cahaya warna-warni terlihat jelas di langit. "Wow keren!" sahut Rio, anak kelas 3 SDK Karot, ketika menyaksikan kembang api warna-warni tersebut.

"Itu kembang apinya," ujar Nanik sambil menunjuk ke arah cahaya dan warna-warni.

Namun aneh, begitu suara kembang apinya hilang, suara tembakan masih terdengar. "Ramai suara meriam bambu," sahut Dami, pemuda karot ketika mendengar suara seperti bunyi tembakan itu.

"Meriam? Memang ada meriam di sini?" tanya pak Ahmad yang berlibur ke Ruteng.

"Meriam bambu Pak!" ujar Dami menanggapi pertanyaan pak Ahmad.

Sementara menyaksikan kembang api atau petasan, tiba-tiba hujan turun, semua berlari berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Lalu anak-anak bahu membahu memikul bambu, ada yang membawa botol berisi minyak tanah, ada yang membawa kain dan kayu. Kemudian mereka meletakkan bambu tersebut, bagian depannya di alas dengan batu sehingga lebih tinggi dari bagian belakang.

Tono, segera memerintahkan Mikael untuk memasukkan minyak tanah di dalam bambu tersebut melalui lubang yang sudah dipahat rapi dengan ukuran yang sangat kecil. Setelah memasukkan minyak tanah, Tono lalu memberikan abu dapur ke Miko untuk memasukkan ke dalam lubang tersebut. "Cepat masukkan lalu nyalakan api," kata Tono.

Setelah semua dimasukkan, maka Tono memberi isyarat agar segera memasukkan api ke dalam lubang tersebut. Tanpa basa-basi, Miko lalu menyudutkan ke dalam lubang bambu tersebut, api pun menyala di dalam lubang bambu tersebut, asap keluar melalui dua lubang, lubang yang kecil, dan lubang bagian depan bambu tersebut yang sudah dipotong.

Miko sesekali meniup, sampai asap mengepul keluar dari dalam bambu tersebut. Setelah sepuluh menit, dan bambu mulai panas, Tono dan Miko mulai beraksi, Tono meniup sampai asap di dalam bambu tersebut keluar, kemudian Miko menyudutkan api melalui lubang kecil, suara keras seperti tembakan pun terdengar. Blarr!!

Belasius Nalur, tokoh adat Flores menjelaskan bahwa bunyi meriam hanya pada bulan Desember. Semua orang memahami kalau bulan Desember adalah bulannya meriam bambu. Namun, lanjut Belasius, dari perspektif budaya Manggarai dan Flores, meriam bambu menandakan bahwa ada orang yang meninggal dunia. Dikampung-kampung masih berlaku, hal ini disebabkan karena jarak antar-kampung sangat jauh dan medannya sangat berat.

Selain ada orang yang diutus untuk "siro atau rekadu" dan sekarang dengan zaman teknologi dengan pesan singkat melalui handphone, meriam bambu tetap dibunyikan, karena suaranya besar. Sehingga kalau di kampung-kampung meriam dibunyikan sekali pun bulan Desember itu merupakan suara dukacita, menginformasikan bahwa ada yang meninggal.

Warisan Leluhur Orang Flores dan Manggarai

Tokoh Masyarakat Manggarai Timur, Yosep Geong dan Agustinus Nggose kepada Kompas.com, Sabtu (20/12/2014) menjelaskan, salah satu warisan yang masih terus dipertahankan di masyarakat Flores pada umumnya dan Manggarai Raya pada khususnya adalah tradisi meriam bambu.

“Zaman dulu, meriam bambu dibunyikan ketika ada peristiwa kematian tokoh besar di kampung-kampung. Meriam bambu memberikan pesan kepada seluruh masyarakat bahwa di salah satu kampung itu terjadi kematian. Dan warga yang meninggal adalah salah satu tokoh masyarakat yang berpengaruh di kampung tersebut. Bunyi meriam bambu diperuntukkan tokoh masyarakat yang meninggal dunia,” katanya.

Belakangan, menurut Yosep, tradisi meriam bambu dibunyikan pada masa adventus dan Natal sampai dengan perayaan tahun baru. Selain dibunyikan pada saat tokoh masyarakat meninggal dunia.

“Tradisi ini sudah diwariskan oleh leluhur orang Flores dan Manggarai. Salah satu cara menyambut kegembiraan kelahiran Isa Almasih dengan membunyikan meriam bambu di kampung-kampung,” jelasnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bandara Halim Perdanakusuma Tutup Sementara per 26 Januari

Bandara Halim Perdanakusuma Tutup Sementara per 26 Januari

Travel Update
Berwisata ke Danau Toba Naik DAMRI, Ini Rute dan Tarifnya

Berwisata ke Danau Toba Naik DAMRI, Ini Rute dan Tarifnya

Travel Promo
Pertama Kali Naik Pesawat? Ini 10 Tahap Naik Pesawat dari Berangkat sampai Tujuan

Pertama Kali Naik Pesawat? Ini 10 Tahap Naik Pesawat dari Berangkat sampai Tujuan

Travel Tips
Ketahui, Daftar Tarif Parkir Resmi di Yogyakarta Sesuai Lokasinya

Ketahui, Daftar Tarif Parkir Resmi di Yogyakarta Sesuai Lokasinya

Travel Update
Ketinggalan Barang di Kamar Hotel? Ini Prosedur Pengembaliannya

Ketinggalan Barang di Kamar Hotel? Ini Prosedur Pengembaliannya

Travel Tips
14 Tempat Bersejarah di Jakarta Pusat, Ada Museum dan Taman

14 Tempat Bersejarah di Jakarta Pusat, Ada Museum dan Taman

Jalan Jalan
Rute ke Bukit Kayoe Putih Mojokerto, Tempat Sunset berlatar 3 Gunung

Rute ke Bukit Kayoe Putih Mojokerto, Tempat Sunset berlatar 3 Gunung

Travel Tips
Bukit Kayoe Putih Mojokerto, Indahnya Sunset Berlatar Tiga Gunung

Bukit Kayoe Putih Mojokerto, Indahnya Sunset Berlatar Tiga Gunung

Jalan Jalan
Instalasi Seni Imagispace 2022 di Jakarta, Hadirkan Teknologi Sensor Ikuti Gerak Tubuh

Instalasi Seni Imagispace 2022 di Jakarta, Hadirkan Teknologi Sensor Ikuti Gerak Tubuh

Jalan Jalan
20 Tempat Wisata Alam di Aceh, dari Pantai hingga Air Terjun

20 Tempat Wisata Alam di Aceh, dari Pantai hingga Air Terjun

Jalan Jalan
Berburu Oleh-oleh Khas Kulon Progo, Bisa ke Pasar Sentolo Baru

Berburu Oleh-oleh Khas Kulon Progo, Bisa ke Pasar Sentolo Baru

Jalan Jalan
Viral Foto Parkir Bus Rp 350.000 di Malioboro, Lokasi Ilegal hingga Permainan Kru Bus dan Petugas Parkir

Viral Foto Parkir Bus Rp 350.000 di Malioboro, Lokasi Ilegal hingga Permainan Kru Bus dan Petugas Parkir

Travel Update
Awas Uji Nyali di Tengah Hutan, 5 Tips ke Bromo via Lumajang

Awas Uji Nyali di Tengah Hutan, 5 Tips ke Bromo via Lumajang

Travel Update
Mantan Pramugari Ini Ungkap Rahasia Penumpang First Class di Pesawat

Mantan Pramugari Ini Ungkap Rahasia Penumpang First Class di Pesawat

Travel Update
Thailand Terapkan Lagi Skema Turis Asing Bebas Karantina Per 1 Februari 2022

Thailand Terapkan Lagi Skema Turis Asing Bebas Karantina Per 1 Februari 2022

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.