Kompas.com - 31/12/2014, 11:34 WIB
Wisatawan mengabadikan kunjungan mereka di salah satu rumah milik warga China peranakan di kawasan George Town, Penang, Malaysia, Rabu (28/10/2009). KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYATWisatawan mengabadikan kunjungan mereka di salah satu rumah milik warga China peranakan di kawasan George Town, Penang, Malaysia, Rabu (28/10/2009).
|
EditorI Made Asdhiana
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Hilangnya pesawat AirAsia QZ8501 kembali menjadi pukulan bagi pariwisata Malaysia. Padahal, Malaysia baru saja berusaha pulih kembali dari tragedi kembar MH370 dan MH17. Hal tersebut diungkapkan Malaysian Association of Tour & Travel Agents (Matta).

Presiden Matta Hamzah Rahmat mengatakan kepada Malay Mail Online, walaupun tragedi AirAsia QZ8501 melibatkan otoritas Indonesia, namun tetap saja kejadian tersebut dihubungkan dengan Malaysia. Sebab, merek AirAsia dipandang sebagai bisnis asal Malaysia.

"Ini suatu ketidakberuntungan bagi kami, secara tidak langsung kami kembali terlibat dalam hal ini. Ini akan memperlambat industri (pariwisata) untuk beberapa waktu," ungkap Hamzah, Senin (29/12/2014).

"Pemikiran bahwa lagi-lagi produk lain dari Malaysia terlibat insiden, bisa memicu ketakutan di kalangan penumpang, mengingat tragedi dunia aviasi Malaysia terus terjadi sepanjang tahun ini," katanya.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Kuil Kek Lok Si di Penang, Malaysia.
Hamzah mengungkapkan saat ini Matta tengah mengumpulkan umpan balik dari pemegang kunci industri pariwisata untuk bisa mengukur dampak dari insiden tersebut terhadap pemesanan pesawat dan hotel.

"Banjir yang terjadi tahun ini (di Malaysia) tidak mengganggu pariwisata karena area yang terdampak banjir bukan merupakan daerah turisme. Tetapi insiden pesawat belakangan ini kemungkinan akan kembali berdampak ke pariwisata, dan kami harus bersiap-siap," katanya.

Pesawat AirAsia QZ8501 dinyatakan hilang kontak dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura, Minggu (28/12/2014) pukul 07.55 WIB di sekitar perairan antara Belitung dan Kalimantan. AirAsia merupakan maskapai berbiaya rendah asal Malaysia dan bermarkas di Kuala Lumpur. Pesawat yang hilang berada di naungan AirAsia Indonesia, anak perusahaan yang berbasis di Indonesia.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Pesawat AirAsia.
Sebelumnya, maskapai nasional Malaysia, Malaysia Airlines mengalami dua kecelakaan di tahun 2014 dengan selang hanya beberapa bulan. Pada 8 Maret 2014, pesawat MH370 hilang saat melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing. Pesawat tersebut membawa 239 penumpang dan kru. Hingga kini, pesawat tersebut masih hilang.

Sementara tragedi kedua di 17 Juli 2014, pesawat MH17 jatuh setelah ditembak rudal saat melintas negara Ukraina. Sebanyak 298 orang di dalam pesawat meninggal dalam tragedi tersebut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X