Kompas.com - 02/01/2015, 11:41 WIB
EditorI Made Asdhiana

Selama ini, untuk menuju Pulau Bawean yang berjarak sekitar 128 kilometer dari Pelabuhan Gresik, pengunjung dapat menggunakan kapal penyeberangan KMP Gili Iyang dengan waktu tempuh delapan jam, serta kapal cepat KM Express Bahari dan KM Natuna Express, masing-masing dengan waktu tempuh empat jam. Transportasi laut ini beroperasi setiap hari secara bergantian.

Faisyal Akli (35), warga Bawean, berharap agar bandara dapat segera dioperasikan sehingga baik warga maupun angkutan barang tidak hanya dilakukan lewat laut. Alasannya, jika terjadi cuaca buruk dan gelombang tinggi, harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak bisa naik dua hingga tiga kali lipat.

Sayangnya, pengoperasian bandara Bawean dipastikan molor dari target semula, yakni akhir tahun 2014. Untuk itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta Kementerian Perhubungan untuk mempercepat proyek pembangunan bandara tersebut. ”Soalnya ini proyek pemerintah pusat sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali minta agar segera dioperasikan,” katanya.

Di samping obyek wisata alam, Bawean juga memiliki sejumlah desa penghasil produk kerajinan tangan dan makanan khas yang dapat menjadi buah tangan ketika berkunjung ke pulau tersebut. Salah satu makanan yang diburu adalah kerupuk posot-posot dan martabak khas Melayu yang dikenal dengan nama mutabeb.

Hamsiyah (50), pemilik usaha kerupuk posot-posot, dapat menjual rata-rata 50 bungkus kerupuk per hari. Kerupuk seharga Rp 15.000 per bungkus yang terbuat dari ikan tongkol dan tenggiri itu dipasarkan tidak hanya di Surabaya dan Gresik, tetapi juga dibawa hingga ke Malaysia dan Singapura untuk oleh-oleh.

Hal itu tidak terlepas dari banyaknya warga Bawean yang merantau untuk bekerja ke luar negeri. ”Mereka yang lagi pulang kampung beli banyak untuk dibawa ke tempat mereka kerja, di Malaysia atau Singapura. Namun, kalau kapal tidak datang karena gelombang tinggi, ya macet dagangan,” ujar Hamsiyah.

Daerah asal TKI

Selama ini, Pulau Bawean memang lebih dikenal sebagai daerah pengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) dibandingkan sebagai daerah tujuan wisata. Sebagian besar TKI bekerja di Malaysia, Singapura, Australia, dan Taiwan.

Salah satunya adalah Abdul Wahid Jufri (54), warga Desa Gunung Teguh, Kecamatan Sangkapura, yang kini tinggal di Perth, Australia. Abdul bekerja di Australia sejak tahun 1987 dan saat ini mengantongi izin tinggal tetap (permanent residence). Berawal dari bekerja sebagai buruh bangunan, Abdul kemudian pelayan restoran hingga menjadi pegawai di sebuah perusahaan manufaktur dengan penghasilan Rp 230.000 per jam.

Tidak hanya Abdul, sekitar 70 persen warga Bawean bekerja merantau sebagai TKI ke luar negeri. Hal ini tecermin dari tingginya transaksi uang lintas negara ke pulau ini. ”Saya kirim Rp 10 juta untuk orangtua di Bawean setiap tiga bulan sekali,” ujar Abdul, yang saat ditemui tengah pulang kampung menengok keluarganya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Festival Golo Koe di Labuan Bajo, Tampilkan Keunggulan Kopi Colol

Festival Golo Koe di Labuan Bajo, Tampilkan Keunggulan Kopi Colol

Travel Update
Festival Kuliner dan Budaya Minangkabau Digelar di Bekasi Akhir Agustus 2022

Festival Kuliner dan Budaya Minangkabau Digelar di Bekasi Akhir Agustus 2022

Travel Update
Rekomendasi 10 Destinasi Wisata di Trenggalek yang Wajib Dikunjungi

Rekomendasi 10 Destinasi Wisata di Trenggalek yang Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Liburan 2 Hari 1 Malam ke Sumatera Barat, Ini Total Biayanya

Liburan 2 Hari 1 Malam ke Sumatera Barat, Ini Total Biayanya

Travel Tips
5 Wisata Jakarta dan Sekitarnya dengan Promo Spesial 17 Agustus

5 Wisata Jakarta dan Sekitarnya dengan Promo Spesial 17 Agustus

Travel Promo
Lumba-lumba Muncul di Pantai Tiga Warna Malang, Dianggap Kejadian Langka

Lumba-lumba Muncul di Pantai Tiga Warna Malang, Dianggap Kejadian Langka

Travel Update
Upacara HUT ke-77 RI Akan Digelar di Tengah Laut Pantai Baron Yogyakarta

Upacara HUT ke-77 RI Akan Digelar di Tengah Laut Pantai Baron Yogyakarta

Travel Update
17 Tempat Wisata Bandung Selatan, Bisa Kemah di Alam Terbuka

17 Tempat Wisata Bandung Selatan, Bisa Kemah di Alam Terbuka

Jalan Jalan
Panduan Naik Jip Menyusuri Ngarai Sianok, Harga dan Rutenya

Panduan Naik Jip Menyusuri Ngarai Sianok, Harga dan Rutenya

Travel Promo
Absen 2 Tahun, Kontes Roket Air Taman Pintar Yogyakarta Digelar Lagi

Absen 2 Tahun, Kontes Roket Air Taman Pintar Yogyakarta Digelar Lagi

Travel Update
5,9 Juta Wisatawan Kunjungi Malang Sepanjang 2022

5,9 Juta Wisatawan Kunjungi Malang Sepanjang 2022

Travel Update
Wisata Petik Stroberi di Lereng Gunung Singgalang

Wisata Petik Stroberi di Lereng Gunung Singgalang

Jalan Jalan
15 Hotel Dekat Malioboro, Instagramable dan Nyaman buat Nginap

15 Hotel Dekat Malioboro, Instagramable dan Nyaman buat Nginap

Travel Promo
Mengapa Pendakian Gunung Gede Pangrango Tutup Saat 17 Agustus?

Mengapa Pendakian Gunung Gede Pangrango Tutup Saat 17 Agustus?

Travel Update
Wisata Sejarah Bakal Hadir di Kota Malang, Pemkot Siapkan Penataan Kawasan Kayutangan

Wisata Sejarah Bakal Hadir di Kota Malang, Pemkot Siapkan Penataan Kawasan Kayutangan

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.