Kompas.com - 06/01/2015, 16:11 WIB
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F

CIREBON, KOMPAS.com – Keraton Kasepuhan Cirebon mendadak diserbu oleh warga desa. Bukan, bukan karena ada masalah. Masyarakat datang berbondong-bondong demi menyaksikan tradisi yang telah dirawat sejak ratusan tahun lalu, Panjang Jimat. Maka tak heran, bagi masyarakat Cirebon, tradisi ini merupakan bagian yang tak terpisahkan. Mereka menikmatinya sejak mereka kecil hingga turun temurun seperti sekarang.

Pada dasarnya, Panjang Jimat dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi besar umat Islam, Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Tahun ini jatuh pada 3 Januari 2015. Di Cirebon, bulan Rabiul Awal disebut juga dengan bulan Muludan. Ketiga keraton di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon, Keraton Kanoman Cirebon, dan Keraton Kacirebonan ikut merawat tradisi ini. Ketiganya menyelenggarakan Panjang Jimat hari itu.

Kebetulan, saya berkesempatan melihat upacara yang menjadi magnet masyarakat ini di salah satu Keraton yang mengadakan, Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Sejak sore saya sudah di sana, kurang lebih 4 jam sebelum upacara berlangsung. Walaupun gelaran dilaksanakan malam hari, bukan berarti pada sore harinya kawasan ini sepi.

“Kami biasanya menyebut bulan Rabiul Awal sebagai bulan Mulud. Sebagai bulan yang dianggap istimewa, hadir juga Pasar Mulud di pelataran kawasan Keraton yang selalu ramai,” ungkap Wakil Ketua Panitia, Elang Rochadi.

Ramai menurut Rochadi memang benar adanya, di sepanjang jalan menuju Keraton menjadi pasar dadakan saat bulan ini, berbagai macam barang dagangan dijajakan. Mulai dari makanan, kerajinan tangan, pakaian, hingga barang-barang elektronik. Orang yang datang tentu saja ribuan. Tua, muda memenuhi pasar sampai kawasan Keraton. Pada sore seperti hari itu saja perlu upaya untuk dapat masuk dengan selamat. Selain ramai dan harus antre masuk, kawasan itu jadi rawan copet. Belum lagi hujan yang hampir setiap hari mengguyur kawasan ini. Tetapi tetap saja, pengunjung antusias datang.

“Puncaknya memang ada pada acara Panjang Jimat yang malam ini digelar. Mulainya pukul 7 malam tapi kalau bisa harus datang sebelum waktunya karena selain pintu ditutup, kawasan akan sangat penuh. Ribuan orang akan memenuhi tempat ini,” tambah Rochadi.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Prosesi Panjang Jimat

Untuk masuk ke kawasan ini, diwajibkan untuk membeli tiket seharga Rp 8.000, lebih murah bila dibandingkan tidak ada acara. “Kalau tidak ada acara, harga tiket masuk mencapai Rp 15.000,” ujarnya.

Tetapi jangan kaget kalau banyak yang memaksa pengunjung bayar lagi dengan tameng, “Sumbangan seikhlasnya untuk kebersihan”. Ketika saya masuk, sudah dua kali menemukan rombongan yang meminta sumbangan sebelum sampai pada pintu masuk dengan tiket yang sebenarnya. Di gedung-gedung dalam kawasan juga seperti itu, Anda akan dimintai sumbangan sebelum masuk.

Prosesi Panjang Jimat

Prosesi upacara Panjang Jimat berlangsung 1,5 jam. Isinya, arak-arakan berbagai benda yang melambangkan kelahiran nabi. Arak-arakan dimulai sejak berada di Bangsal Prabayaksa Keraton Kasepuhan menuju Langgar Agung yang berjarak sekitar 100 meter. Pimpinannya, tentu Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.