Kompas.com - 24/01/2015, 15:10 WIB
Para pria mengikuti tradisi Pasola, perang di atas kuda di Desa Ratenggaro, Sumba, NTT, 22 Maret 2014. Pasola dirayakan untuk menyambut masa panen. Biasa dilakukan untuk memulai masa tanam. AFP PHOTO / ROMEO GACADPara pria mengikuti tradisi Pasola, perang di atas kuda di Desa Ratenggaro, Sumba, NTT, 22 Maret 2014. Pasola dirayakan untuk menyambut masa panen. Biasa dilakukan untuk memulai masa tanam.
EditorNi Luh Made Pertiwi F
PADA hari Pasola, kuda-kuda dari berbagai kampung dikumpulkan di arena untuk ikut Pasola. Para penunggangnya, hari itu, melengkapi pakaiannya dengan kain tenun hinggi kombu yang diikatkan pada pinggul dan ikat kepala yang disebut hinggi kaworu.

Pasukan berkuda ini berkumpul dalam dua kubu. Ritual Pasola dimulai setelah Kuda Nyale milik Rato (ketua adat) dan Kuda Haloto (kuda patroli) memasuki arena. Begitu kedua kuda ini menempati posisinya di pinggir lapangan sebagai pengamat, kuda-kuda Pasola langsung bergerak untuk terjun di medan laga.

Para penunggang kuda memberi aba-aba kudanya untuk berlari kencang. Dengan keterampilan melempar sola, para penunggang kuda mencoba menyerang lawan dengan menghujamkan solanya ke arah lawan.

Dalam perang Pasola, tongkat-tongkat kayu akan beterbangan mengarah kepada sasaran. Tak jarang tongkat kayu yang melesat ke arah seseorang berhasil ditangkis dan dipatahkan. Suara derap kaki kuda dan tongkat kayu beradu membuat acara ini makin seru.

Setiap pemain Pasola tidak hanya memikirkan bagaimana menyerang lawan. Sambil mengincar kelemahan lawan, mereka juga harus waspada terhadap serangan lawan yang bisa datang tiba-tiba. Lengah sedetik,  sebatang sola bisa melukai tubuhnya atau merobohkan kudanya.

Pasola sendiri adalah ritual perang adat masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Ritual perang adat ini dilakukan di atas kuda yang sedang berlari dengan menggunakan senjata tongkat kayu yang disebut sola. Sola dalam bahasa Sumba adalah tongkat kayu yang digunakan untuk mengendalikan kuda. Sehingga “pasola” berarti perang sola yang dilakukan sambil berkuda.

Tidak Ada Kalah-Menang

Inti perang Pasola adalah melempar dan menangkis sola. Siapa yang akan diserang dan kapan harus menyerang lawan, terserah pada masing-masing peserta. Tidak ada yang memerintah. Juga, tidak ada yang memimpin.

Meski berperang, dalam Pasola, tidak ada yang kalah dan yang menang. Pasola adalah ritual perang adat. Bukan perang sungguhan atau pun pertandingan. Bahkan, peserta bebas memilih kubu mana yang ia akan ikuti.

AFP PHOTO / ROMEO GACAD Seekor kuda berada di area penyelenggaraan tradisi Pasola di Desa Ratenggaro, Sumba, NTT, 22 Maret 2014.
Setiap kubu, jumlahnya tidak harus sama dan seimbang.  Andaikan saja kubu lawan jumlahnya ada 100, sedangkan kubu lain jumlahnya hanya 5; kubu yang jumlahnya kecil pun tak bakal gentar menghadapi lawan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X