Kompas.com - 25/01/2015, 17:43 WIB
Para tetua adat memperlihatkan tarian adat Reba, sebagai salah satu bagian penting dalam pesta Reba Ngada di Desa Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/1/2015). KOMPAS/KORNELIS KEWA AMAPara tetua adat memperlihatkan tarian adat Reba, sebagai salah satu bagian penting dalam pesta Reba Ngada di Desa Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/1/2015).
EditorI Made Asdhiana

Hewan kurban itu dibelah untuk diamati jantung, hati, dan usus sambil menghadap mesbah rumah atau maga raga, tempat penyimpanan benda-benda purba seperti keris, mas kawin, mata uang purba, mangkuk tua, dan seterusnya. Saat itu semua anak laki-laki harus berada di dalam Sao Meze. Jika ada bagian tertentu dari hewan kurban rusak, tidak ada, berarti ada kesalahan dari pemilih hewan kurban itu, mereka harus mengakui kesalahan di depan ”mata raga”.

Kobe dhoi yakni saat mendekati akhir pesta Reba, sebelum bubar, semua anggota keluarga besar berkumpul pada malam hari untuk pesta Reba.

Zaman dulu kala, pesta yang dimaksud adalah perjamuan asli, yang disebut uwi, jenis umbi-umbian rambat yang biasa tumbuh di hutan dengan isi yang panjang (1,5 meter) dan lebar (80 cm). Ubi itu dibawa ke tengah pelataran, dimakan bersama sambil menari dan bernyanyi, mengelilingi kampung. Sisa dari ubi itu dimasukan ke dalam rumah sebagai persiapan Sui Uwi, makan bersama dalam keluarga masing-masing.

Uwi dipahami sebagai anugerah Tuhan dalam kehidupan masyarakat Ngada, dengan berbagai ungkapan adat seperti uwi meze go lewa laba atau ubi sebesar gong setinggi gendang, khoba rapuh lizu (menjalar sampai ke langit). Ladhu wai poso berbentuk tiang agung bagaikan gunung tinggi. Kehebatan ubi jenis ini yakni meski dimakan babi hutan, tidak pernah punah, dan tetap bertahan sepanjang masa. Lalu, kutu koe koe koe, ana koe, meski landak menjungkir balik tanah dengan duri tajam sampai dalam, ubi tetap ada untuk anak cucu. Inilah makanan hutan milik leluhur.

”Dalam perkembangan, setelah gereja Katolik masuk tahun 1800-an, pemahaman Reba dengan pesta uwi seperti ini masuk dalam inkulturasi gereja, sehingga upacara Reba selalu diawali dengan misa. Ubi kemudian diterjemahkan sebagai simbol anugerah Tuhan, dewa zetha nitu zale atau Tuhan penguasa yang tersirat dalam pribadi Yesus,” kata Soli.

Tahun 1900-an ketika padi mulai dibudidayakan, Reba tidak lagi menyajikan uwi, tetapi makanan berbagai jenis, dengan mempertahankan menu tradisional yakni beras, daging hewan kurban, dan minuman tradisional, arak, dengan ungkapan, kha maki nazi, inu thua theme, makan nasi yang enak, minum tuak yang sedap. Setelah sesajian hewan kurban diberikan kepada leluhur, kepala rumah besar mengajak semua peserta untuk makan pesta bersama. Pada pesta ini semua orang yang datang dipanggil makan.

Marselinus Ngamo, tokoh Langa yang juga dosen Unika Kupang, mengatakan, malam perjamuan dilaksanakan bersamaan dengan khobe sui (malam perutusan).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Soa Meze menyampaikan pesan-pesan moral, antara lain, jangan menjelekkan orang lain dengan lidah dan mulut, jalan lurus ke depan (perilaku jujur dan adil), dan pergi mencari hidup yang lebih baik.

Hari berikutnya, dilaksanakan tarian tradisional secara massal, yang disebut Oouwi Reba. Tarian tradisional itu digelar setelah desa-desa tetangga hadir di pelataran kampung adat, tempat pesta Reba diselenggarakan. Warga Bhorani sebagai penyelenggara Reba wajib memberi makan dan minum tamu. (Kornelis Kewa Ama)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jalan-jalan ke Tepi Laut di Lhokseumawe, Wisata Sambil Kulineran

Jalan-jalan ke Tepi Laut di Lhokseumawe, Wisata Sambil Kulineran

Jalan Jalan
Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Jalan Jalan
Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Travel Update
Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Travel Update
Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Travel Update
Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Travel Update
Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Travel Update
Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Jalan Jalan
4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

Travel Update
Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Travel Update
4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

Travel Tips
Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Travel Tips
Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Travel Tips
Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Travel Promo
Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.