Kompas.com - 26/01/2015, 13:47 WIB
EditorI Made Asdhiana
KOICHI Yunoki menjelaskan perbedaan konstruksi bangunan tahan gempa dan yang tidak dengan menggunakan alat peraga sederhana. Tiga model kerangka bangunan diletakkan bergantian di atas meja uji yang lalu digerakkan horizontal dan vertikal. Mirip gaya guncangan gempa.

Model dengan bantalan karet di fondasinya dan yang memiliki konstruksi silang bertahan dari guncangan ”gempa”. ”Namun, konstruksi ini belum cukup untuk menghadapi dampak liquefaction (pencairan tanah) akibat gempa. Diperlukan jenis fondasi dengan tiang pancang yang kedalamannya hingga bed rock (batuan dasar),” kata Kochi, relawan Museum Pengurangan Bencana Kobe, Jepang.

Lelaki dengan rambut memutih itu lalu menunjukkan proses terjadinya pencairan tanah dengan cara sederhana, tetapi mudah dimengerti. Satu kotak kaca diisi pasir dan air lalu diratakan. Air terserap ke dalam pasir sehingga seolah-olah menjadi daratan kering. Satu model bangunan diletakkan di atasnya.

Saat Koichi mulai mengguncangkan tanah itu naik-turun dan juga secara horizontal, dengan meniru gaya gempa, perlahan muncul genangan air di atas lapisan tanah. Model bangunan itu roboh, tenggelam dalam air. Koichi lalu mengganti model bangunan yang sudah dilengkapi fondasi tiang pancang. Sekali lagi ia mengguncangkannya, terjadi pencairan tanah, tetapi model itu masih berdiri.

Alat-alat peraga sederhana yang mudah dimengerti itu ciri dari Museum Pengurangan Bencana (Disaster Reduction Museum) Kobe. Museum dibangun untuk mengingatkan kehancuran akibat gempa, disusul kebakaran hebat, yang melanda Kobe, 17 Januari 1985. Sebanyak 6.243 orang tewas akibat gempa 7,2 skala Richter itu.

Museum dibagi dalam dua bagian: sayap timur dan barat. Sayap barat lebih banyak memberikan informasi dasar dan penjelasan apa yang terjadi saat gempa melanda Kobe. Sayap timur terdiri atas lima lantai.

Pengunjung biasanya akan diajak mulai dari lantai empat berupa perpustakaan dan studio audiovisual sehingga mereka seolah-olah merasakan sendiri gempa itu. Suara teriakan orang, gedung roboh, dan api yang menjalar setelah gempa seolah-olah mengepung kita. Di lantai yang sama terdapat pula ruang pemutaran film tentang kejadian gempa itu dengan pesan kuatnya, Kobe akan dibangun lebih kuat dan aman bagi generasi mendatang.

Di lantai tiga terdapat diorama kerusakan, juga proses rekonstruksi kota secara bertahap pasca bencana. Lantai itu juga didedikasikan sebagai ruangan memorial dan suara korban. Berbagai barang sisa dari gempa dipajang, mulai pernik kecil seperti buku dan album foto hingga sepeda motor. Semua barang itu disumbangkan masyarakat Kobe dilengkapi narasi dan foto-foto yang juga ditulis masyarakat.

Lantai dua berisi edukasi tentang bencana alam dan upaya yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Edukasi itu dibuat menyenangkan, bahkan bagi anak-anak dengan eksperimen sederhana dan permainan, seperti diperagakan Koichi Yunoki. Tak hanya soal gempa bumi, beberapa bencana alam lainnya juga dibahas, seperti banjir, topan, hingga tsunami.

Adapun di lantai pertama, selain pengarahan, pengunjung bisa berdiskusi dengan pemandu yang juga korban. Pengunjung disediakan ruang untuk bertukar pengalaman dan gagasan tentang kebencanaan. Beberapa alat dan logistik yang harus disiapkan di setiap keluarga untuk mengantisipasi kondisi darurat juga dipajang, misalnya berjenis beras instan dan biskuit yang bisa tahan hingga lima tahun. Logistik itu sangat mudah ditemui di toko-toko di Jepang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.