Menuju Puncak Gunung Suci dengan Nilai Budaya

Kompas.com - 27/01/2015, 19:32 WIB
Bibir kawah di puncak Gunung Agung (3.142 mdpl), Bali, Kamis (6/10/2011). Gunung stratovolcano ini terakhir meletus dahsyat 1963 menelan korban jiwa 1.148 orang. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Bibir kawah di puncak Gunung Agung (3.142 mdpl), Bali, Kamis (6/10/2011). Gunung stratovolcano ini terakhir meletus dahsyat 1963 menelan korban jiwa 1.148 orang.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

RUMAH para dewa demikian orang yunani menyebut Olympus. Gunung yang menjadi kediaman para dewa Yunani kuno, yang dipimpin oleh Zeus. Hal serupa dirasakan oleh warga Pulau Dewata dalam memaknai Gunung Agung (3.242 m). Di situlah kediaman naga besukih bersisik emas dan berekor berlian.

Bagi masyarakat Bali, Gunung Agung merupakan gunung utama untuk upacara keagamaan hindu. Meski demikian, terbuka kesempatan bagi awam untuk melakukan pendakian, dengan mengindahkan aturan dan adat setempat. Seperti pantangan naik bagi para perempuan yang mengalami menstruasi, atau membawa bekal daging sapi, atau lembu dalam bentuk apapun, sesuai yang diajarkan agama hindu.

Jalur pendakian terpopuler adalah jalur pura besakih, pura terbesar di Bali membutuhkan waktu 8-12 jam. Ciri khas antar jalur pendakian tak berbeda jauh. Saya dan teman mendaki pada malam hari agar dapat menikmati terbit matahari dari puncak.

Diawali melalui hutan 3-5 jam, tak begitu curam dan bentuknya cukup jelas terlihat. Pada beberapa bagian memang ada jalur curam, tapi bantuan alam seperti akar pohon sangat mempermudah pendakian. Di sini tiada tempat berkemah, dan kami memang tak berniat melewatkan malam di Gunung Agung.

Pada ketinggian 2.500 m, batas hutan sudah terlewati. Pepohonan mulai digantikan perdu yang tak lebih tinggi dari tubuh manusia. Terdapat tempat berkemah, ditemani monyet-monyet yang dikeramatkan di Pulau Dewata. Dari sinilah para pendaki melakukan summit attack sekita 3-4 jam. Jalur tanah digantikan batu dan kerikil dari lava membeku.

Saya melewati jalur melikuk-lukuk ini dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Batu kerikil yang membuat jalur makin licin dapat menyebabkan pendaki terpeleset. Karena tiada pepohonan untuk berpegangan, terpeleset dapat berarti jatuh ke jurang.

Selain pemandangan matahari terbit. Gunung Batur di Bali serta Gunung Rinjani di pulau Lombok pun terlihat dari puncak Gunung Agung. Sementara nuansa magis sebagai puncak yang disucikan masyarakat Hindu Bali membuat pendakian juga memuat nilai-nilai budaya lokal.

(Seto Wardhana. Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah National Geographic Traveler)

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengalaman Menjelajahi Museum Nasional Indonesia Secara Virtual

Pengalaman Menjelajahi Museum Nasional Indonesia Secara Virtual

Jalan Jalan
Sejarah Makan Daging Anjing di China, Bukan Tradisi?

Sejarah Makan Daging Anjing di China, Bukan Tradisi?

Whats Hot
Imbas Wabah Corona, Kucing dan Rakun di Kafe Hewan Seoul Kesepian

Imbas Wabah Corona, Kucing dan Rakun di Kafe Hewan Seoul Kesepian

Jalan Jalan
Pengalaman Bikin Dalgona Coffee Tanpa Mixer, Pakai Saringan Sederhana

Pengalaman Bikin Dalgona Coffee Tanpa Mixer, Pakai Saringan Sederhana

Travel Tips
InterContinental Bali Resort Bikin Masker Sendiri, Berikan ke Pegawai dan Warga

InterContinental Bali Resort Bikin Masker Sendiri, Berikan ke Pegawai dan Warga

Whats Hot
Ngopi di Rumah? Coba Resep Baru Ini, Kopi Campur Kunyit

Ngopi di Rumah? Coba Resep Baru Ini, Kopi Campur Kunyit

Makan Makan
Turis Berkurang karena Corona, Gajah Thailand Alami Kelaparan

Turis Berkurang karena Corona, Gajah Thailand Alami Kelaparan

Jalan Jalan
Bandara Soetta Sediakan 270 Parking Stand untuk Tempat Parkir Pesawat

Bandara Soetta Sediakan 270 Parking Stand untuk Tempat Parkir Pesawat

Whats Hot
Simak, Cara Permintaan Pembatalan dan Refund di Tiket.com

Simak, Cara Permintaan Pembatalan dan Refund di Tiket.com

Whats Hot
[POPULER TRAVEL] Simpan Telur di Dalam Freezer | Alasan Teripang Mahal

[POPULER TRAVEL] Simpan Telur di Dalam Freezer | Alasan Teripang Mahal

Whats Hot
11 Inisiatif Restoran Terbaik Dunia Saat Pandemi Covid-19, dari Bagi Makanan sampai Bikin Petisi

11 Inisiatif Restoran Terbaik Dunia Saat Pandemi Covid-19, dari Bagi Makanan sampai Bikin Petisi

Makan Makan
Kunjungan Turis Asing ke Bali Menurun, Nyaris Sudah Tidak Ada Tamu

Kunjungan Turis Asing ke Bali Menurun, Nyaris Sudah Tidak Ada Tamu

Whats Hot
Mesin Penyemprot Disinfektan ke Bagasi Hadir di Bandara Soekarno Hatta dan 18 Bandara Lain

Mesin Penyemprot Disinfektan ke Bagasi Hadir di Bandara Soekarno Hatta dan 18 Bandara Lain

Whats Hot
KBRI di Washington Imbau Turis Indonesia di AS Cepat Pulang ke Tanah Air

KBRI di Washington Imbau Turis Indonesia di AS Cepat Pulang ke Tanah Air

Whats Hot
Amerika Serikat Tunda Penerbitan Paspor Baru, Kecuali Urusan Darurat Kesehatan

Amerika Serikat Tunda Penerbitan Paspor Baru, Kecuali Urusan Darurat Kesehatan

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X