Kompas.com - 29/01/2015, 16:08 WIB
Kondisi bangunan yang dulu difungsikan sebagai ruang tunggu Bandar Udara Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (21/1/2015). Bandara yang dibangun tahun 1934 secara resmi berhenti beroperasi 1984. KOMPAS/LUCKY PRANSISKAKondisi bangunan yang dulu difungsikan sebagai ruang tunggu Bandar Udara Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (21/1/2015). Bandara yang dibangun tahun 1934 secara resmi berhenti beroperasi 1984.
EditorI Made Asdhiana
"TIGA antariksawan Amerika Serikat ... hari Rabu kemarin tiba di lapangan terbang Kemajoran. Mereka disertai istri-istri, tiba dengan pesawat milik AD Amerika Serikat. Dan mereka masing-masing mendapat kalungan bunga.." (”Kompas”, Para Penakluk Bulan Tiba, edisi Kamis, 19 Maret 1970).

Ya, para penakluk bulan itu bukan cuma Tintin, Kapten Haddock, dan Profesor Lakmus, tiga tokoh khayalan komikus Herge yang dalam komik ”Penerbangan 714 ke Sydney” diceritakan singgah di Bandar Udara Internasional Kemayoran di Jakarta. Pada 18 Maret 1970, disinggahi astronot sungguhan, Charles Conrad, Richard Gordon, dan Alan Bean.

Bukan cuma penakluk bulan yang mendarat di Kemayoran. Pada April 1946, Laksamana Louis Mountbatten, Panglima Tertinggi Tentara Sekutu di Asia Tenggara, mendarat di Kemayoran dan menemui Perdana Menteri Sjahrir untuk membicarakan nasib Republik Indonesia pasca Perang Dunia II.

Pada 1955, para kepala negara dan diplomat 29 negara peserta Konferensi Asia Afrika tiba di Indonesia dengan mendarat di Kemayoran. Pada tahun 1970, giliran Nixon menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang mengunjungi Indonesia, juga dengan mendarat di Kemayoran.

Namun, Rabu (21/1/2015) lalu, sisa hujan melengkapi kesendirian bekas bandar udara yang ditutup sejak 1984 itu. Selasar bekas ruang VIP bandar udara itu sunyi, dingin, dan penuh genangan sisa hujan. Yang mengembik cuma puluhan kambing piaraan yang digembalakan di pelataran parkir kosong berumput tinggi.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Relief karya seniman Yogyakarta tahun 1957 di ruangan Bandar Udara Kemayoran.
Relief Sudjojono

Dingin makin terasakan di ruang dalam terminal VIP tempat para pemimpin negara Asia dan Afrika membincang cara membajak dominasi Eropa dan Amerika dalam pergaulan internasional. Tak ada lagi aroma kopi atau teh di ruang tunggu, juga tak ada cakapan persuaan ataupun senyuman perpisahan para sahabat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Cuma sepi yang menemani sebuah relief beton di sepanjang dinding lantai pertama ruang VIP. Keindahannya terasa ganjil di tengah segala kemuraman ruang tunggu itu. Cerita tentang keseharian Indonesia ada di sana, orang membajak sawah, nelayan mengarungi samudra, tifa, rebab dan gamelan, binatang mitologi, ragam buah dan hasil bumi, eloknya bentang alam Nusantara. Di sudut kiri bawah, terukir dua penanda, ”Seniman Indonesia Muda” dan ”Jogja1957”.

Anak tangga yang basah membawa kaki ke lantai dua ruang tunggu VIP yang berkilauan oleh genangan bocoran air hujan. Sepasang relief beton yang berhadapan di lantai dua sama merananya. Beberapa bagian relief rancangan tiga seniman kondang Indonesia pada masa itu, S Sudjojono, Harijadi Sumadidjaja, dan Surono, bahkan telah rontok, hancur.

”Pada tahun 2005, sudah banyak detail relief yang rontok. Beberapa bagian relief dipotong ketika gedung direnovasi, bagi saya itu brutal. Itu relief beton pertama dalam khazanah seni rupa modern Indonesia. Relief itu menjadi gambaran kekayaan budaya dan alam Indonesia. Nilai karya itu bagi sejarah seni rupa Indonesia tak terhingga. Kehancurannya adalah kebiadaban,” ujar pengajar sejarah seni rupa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Aminuddin TH Siregar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Jalan Jalan
Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Travel Update
Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Travel Update
Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Travel Update
Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Travel Update
Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Travel Update
Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Jalan Jalan
4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

Travel Update
Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Travel Update
4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

Travel Tips
Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Travel Tips
Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Travel Tips
Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Travel Promo
Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Jalan Jalan
Jangan Lakukan 3 Hal Ini di Polandia, Bisa Datangkan Nasib Buruk

Jangan Lakukan 3 Hal Ini di Polandia, Bisa Datangkan Nasib Buruk

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.