Tersihir Keindahan Gunung Merbabu...

Kompas.com - 09/02/2015, 09:48 WIB
Gunung Merapi, 2.928 mdpl terlihat ketika berada di Pos Watu Tulis, Jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah. KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJOGunung Merapi, 2.928 mdpl terlihat ketika berada di Pos Watu Tulis, Jalur Selo, Boyolali, Jawa Tengah.
|
EditorI Made Asdhiana
MATAHARI telah kembali ke peraduaannya ketika saya bersama anggota Mapala UI tiba di basecamppendakian Gunung Merbabu di Desa Cunthel, Salatiga, Jawa Tengah. Lampu-lampu kota di kaki gunung mengerjap seakan sengaja menyeret bola mata ke arahnya. Udara berembus tajam menusuk kulit. Kami semua beristirahat setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam lamanya. Dengan sebuah bus kami bertolak dari Jalan Raya Semarang-Salatiga.

"Besok pagi kita mendaki mulai pukul 07.00 WIB," seru saya sebelum menutup malam. Kami segera tidur agar tak kesiangan. Pendakian esok hari diperkirakan cerah. Bulan Agustus memang waktu yang disarankan untuk mendaki Gunung Merbabu.

Semburat jingga matahari mewarnai langit Salatiga di awal pagi ini. Terkadang kabut muncul membayangi. Walaupun akhirnya disapu angin. Warga-warga sekitar mulai menyibukkan diri. Ada yang mencari rumput untuk ternak, ada yang berkumpul untuk berbagi beras hasil sumbangan, atau hanya sekadar mencari sarapan pagi. Desa Cunthel bergeliat. Begitupun juga kami bersiap untuk mulai meninggalkan jalan aspal di desa yang berketinggian 1.720 meter di atas permukaan laut ini.

KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Anggota Mapala UI memulai pendakian Gunung Merbabu dari Jalur Cunthel, Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (8/23/2014).
Setengah jam melangkah meninggalkan desa, kami mulai menginjak tanah. Di samping kiri dan kanan menghampar hijau ladang kubis. Pada satu kesempatan, kami bertemu seorang nenek yang sedang mengurus ladang tanaman tembakau. "Permisi nek," ujar kami ketika lewat. “Inggih. Mari dek,” balasnya sambil melempar senyum. Keramahan khas pedesaan sebentar lagi akan sirna. Berganti dengan sunyi hutan yang termasuk ke dalam kawasan taman nasional ini.

Target pendakian hari ini adalah mendirikan kemah sebelum Pos Helipad. Tim harus mencapai tempat kemah ini sebelum senja berakhir. Dari posisi kami saat ini yang berada di Pos Bayangan I, masih delapan jam perjalanan untuk sampai. Jalan mulai meliuk-liuk. Debu terkadang menyelinap masuk ke lubang hidung. Badan-badan mulai merunduk untuk menyeimbangkan langkah. Pada Pos Bayangan Gumuk, kami menghentikan pendakian. Sekadar untuk menghilangkan dahaga yang menyerang tenggorokan. Ada monyet. "Itu yang kata penjaga basecamp pendakian sudah jinak sama pendaki," ucap Daniel, rekan satu tim pendakian.

Hutan yang sedari tadi melindungi dari pancaran sinar matahari tersingkap ketika kami melewati Pos I Watu Putut. Alang-alang (Imperata cylindrica) tumbuh tinggi mendominasi. Tumbuhan paku-pakuan juga tak mau kalah. Saat ini panas terik langsung menerjang kepala. Kembali jalur pendakian berubah menanjak setelah beberapa saat. Debu-debu kembali beterbangan. Angin kencang mengempaskan. Buff atau scarf hanya menutup seadanya. Napas berdengus. Peluh bercucuran. Semua berharap segera mencapai ke Pos Pemancar atau sering disebut Pos Watu Tulis yang berada di ketinggian 2.896 meteri di atas permukaan laut.

Kini, kami berjalan di tengah puncak bukit yang kiri dan kanannya membentang jurang terjal. Kurang hati-hati akan menyebabkan tergelincir. Perlu kewaspadaan tinggi ketika melewatinya. Sementara di ujung pandangan, menara pemancar berdiri gagah. Itu sedikit lagi. "Ayo semangat. Atur langkah," saya berkomentar.

Dari Pos Pemancar, pendaki dapat menikmati jajaran gunung yang tampak dari kejauhan sembari beristirahat. Sebut saja Gunung Ungaran, Telomoyo, Sindoro dan Sumbing. Belum lagi padang rumput yang menyelimuti bukit-bukit. Perpaduan warna hijau dan kuning memanjakan mata. Di ujung punggung bukit, warna putih kawah menyambut. Esok harinya, kami akan melampaui kawah itu.

KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Para pendaki Mapala UI sedang memperhatikan jalur setelah Pos Pemancar, Gunung Merbabu, yang merupakan pertemuan Jalur Wekas dan Cunthel.
"Yuk sedikit lagi kita sampai tempat kemah. Kita dirikan tenda," kata Mujab, yang juga alumni Program Studi Ilmu Arkeologi ketika meninggalkan menara pemancar. Dia menunjuk sebuah tanah lapang yang ada di sebelah kanan punggung bukit, seberang kawah. Kami berhati-hati menuruni medan terjal berbatu ini. Kedua tangan mencengkeram batu. Membantu pijakan kaki agar tetap seimbang. Kemah sudah dekat. Sementara mentari sudah hampir sampai menuju barat. Sedikit lagi akan tergelincir.

Di tempat kemah, kami membagi tugas. Perempuan memasak, sementara laki-laki mendirikan tempat peraduan untuk kami nanti malam. Pelan-pelan, senja bergelayut seakan menunggu untuk dinikmati. Setelah kemah berdiri dan nasi telah dimasak, kami menuju puncak bukit untuk menikmati sang surya tenggelam. Rona langit menyihir mata. Jingga dan biru berbagi warna. Hingga akhirnya padam. “Klik…,” bunyi kamera merekam peristiwa ini.

Malam di gunung yang juga dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung, cakrawalanya penuh bintang. Hanya sedikit polusi yaitu awan tipis. Di arah selatan dari tempat saya berdiri, Bima Sakti membujur di langit. Tak mau ketinggalan, kembali kamera saya bidikkan. “Kliik..” kembali kamera berbunyi. Di layar, milky way terabadikan. Gurat warnanya mengagumkan. Kerlip bintang juga terekam. Sayang banget ngelewatin isi angkasa pas cuaca cerah di gunung, tutup Shafiera, rekan pendakian saya untuk malam ini.

Fajar mulai datang dari timur. Tampak malu-malu. Kami bergegas keluar dari hangatnya peraduan. Sementara, kehangatan lain menunggu. Yuk, hunting sun rise. Mumpung masih belum tinggi, ajak saya. Bak pekerja yang tak ingin ketinggalan kereta di pagi hari, kami berlari. Di punggung bukit dekat kawah, kami berkumpul. Menunggu si penguasa siang muncul. Kilau kemerahan mentari memantul di rerumputan. Sambil mengapit tangan di ketiak, kami menikmati mentari yang menyembul perlahan. "Ah gak mau pulang rasanya," kata Anzil, salah satu pendaki yang tergabung dalam tim.

KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO Jalur pendakian menuju Puncak Merbabu dilihat dari Puncak Syarif, 3.119 mdpl. Jalur terlihat seperti beberapa punuk unta yang bergabung.
Tepat pukul 08.00 WIB, kami kembali mendaki. Saatnya summit attack.Di Gunung Merbabu ini terdapat tiga buah puncak yang terkenal untuk dicapai yaitu Puncak Syarif, Puncak Kenteng Songo, dan Puncak Merbabu. Masing-masing berketinggian 3.119 mdpl, 3.120 mdpl, dan 3.142 mdpl. Sebelum mencapai Puncak Syarif, kami harus melewati punggung gunung yang tetap di kiri dan kanannya terdapat lembah terjal. Puncak Helipad dan Geger Sapi harus dilewati. Hingga sampai di pertigaan jika berbelok ke kiri menuju Puncak Syarif dan ke kanan menuju Puncak Kenteng Songo. Cukup mendaki selama 15 menit, sampailah di Puncak Syarif. Terik siang membakar kulit. Keringat tak mampu mendinginkan suhu.

Sesuai rencana, kami pilih jalur turun melalui Selo. Maka dengan demikian, kami akan melintasi Puncak Kenteng Songo dan Triangulasi. Matahari tepat berada di atas kepala ketika kami berada di Puncak Triangulasi. Di depan masih ada Puncak Kentheng Songo. Karena kami mendaki saat musim kering, konsekuensinya adalah harus siap ketika debu melumuri wajah. Di depan membentang tebing terjal. Di kalangan pendaki, tebing ini dikenal dengan nama Tanjakan Setan. Disebut demikian karena untuk melintasinya memerlukan kewaspadaan ekstra agar tak tergelincir. Selain itu, untuk melewatinya juga perlu sedikit memanjat.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X