Tersihir Keindahan Gunung Merbabu...

Kompas.com - 09/02/2015, 09:48 WIB
Ketika sampai di Pos Sabana Satu, Gunung Merbabu, alang-alang menghampar luas. Di belakang jalur, bukit-bukit berjajar indah. KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJOKetika sampai di Pos Sabana Satu, Gunung Merbabu, alang-alang menghampar luas. Di belakang jalur, bukit-bukit berjajar indah.
|
EditorI Made Asdhiana

"Hati-hati. Fokus. Fokus. Pegangin temannya," saya mengingatkan. Tangan  membelai tebing. Jari-jari mencengkeram batu. Kaki berpijak di tebing yang hanya seukuran telapak. Merayap bak seperti cicak di dinding. Konon di tebing ini adalah jalur tersulit bagi pendaki Gunung Merbabu karena membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Menoleh ke belakang dari bagian atas tebing, punggung bukit yang tadi kami lewati membujur panjang. Tipis seperti garis. Sedikit lagi Puncak Merbabu. "Ayo bergegas sebelum sore. Kita harus sampai di kaki gunung sebelum malam," kembali Mujab yang telah mendaki gunung ini mengingatkan. Akhirnya setelah bersusah payah meniti punggung bukit, Puncak Merbabu berhasil kami raih. Dari puncak ini, Jalur Selo kembali terlihat seperti garis. Memanjang dan kadang menghilang di kejauhan. Tepat pukul 15.00 WIB, kami mulai menuruni Jalur Selo.

Kram betis. Kesan itulah yang saya rasakan ketika turun melalui jalur yang berujung di Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini. Medan yang terjal membuat betis tidak ada tenaga dan seperti terbakar. Beban yang masih cukup berat juga mengakibatkan lutut bergetar. Perjalalan melambat. Lebih baik turun dengan langkah pelan daripada terjungkal menghantam batu. Dalam batin terngiang, sampai di rumah dengan selamat adalah harga mati.

Penderitaan menuruni Puncak Kentheng Songo tak sia-sia. Padang rumput menghampar luas. Kuningnya rerumputan sekejap menghipnotis mata. Di tempat yang bernama Pos Sabana Dua ini biasanya pendaki berkemah sebelum summit attack jika mengawali pendakian melalui Jalur Selo. Ayo Nis jalan lagi. Di depan terlampau jauh jaraknya. Udah makin sore, ajak saya buru-buru. Target hari ini adalah mencapai Base Camp Pendakian Pak Parman. Masih ada empat pos lagi untuk sampai di batas hutan.

Sekitar satu jam dari Pos Sabana Dua, setelah melewati kebun edelweis (Anaphalis javanicus), Pos Sabana satu menyambut. Padang rumput yang gersang membentang. Keindahannya tak lama. Di depan, medan terjal menunggu. Hati-hati. Pulang harus selamat, seru saya. Kebalikan dari kami, pendaki lain banyak yang tersengal-sengal nafasnya. Memang ketika kami berbalik melihat dari Pos Watu Tulis, jalur sangat curam. Gak kebayang kalo naik dari sini. Fisik harus prima, kenang saya.

Di Pos Watu Tulis, pendaki dapat menikmati lanskap Gunung Merapi jika tak tertutup kabut. Punggung gunung nampak berurat tipis. Di punggung gunung itulah jalur yang dapat didaki. Sementara hari semakin sore. Kami melanjutkan perjalanan. Membelah rerumputan. Beberapa pendaki lain meminta kami untuk turun bersama. "Mas, bareng ya. Kami gak tahu jalurnya," kata seorang pendaki bersama dua orang lainnya.

"Boleh, Mas. Ayo silakan," jawab saya. Pengetahuan tentang jalur pendakian gunung yang itu mutlak dimiliki oleh pendaki. Jangan sampai tidak tahu jalur, kenang saya ketika anggota senior Mapala UI, Adi Seno ketika membagi “ilmu gunung” saat pendidikan anggota baru.

Matahari mulai meninggalkan birunya langit. Menyisakan kerinduan di Merbabu. Kami harus terus menggeser posisi ke arah hutan. Kini semakin malam. Target meleset dari yang semestinya tiba sebelum maghrib. Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, kami memburu waktu. Embusan angin membelai rambut yang telah dua hari belum dicuci. Sinar lampu di kepala menerangi jalur yang berkelok-kelok. Kiri dan kanan kembali hutan lebat. Namun jalur cukup jelas untuk dilewati. Pos Dok Malang kami lampaui tanpa beristirahat. Beruntung turunan terjal yang terkenal dengan “Tikungan Tajam” ini tak terlalu menyusahkan.

Tapal batas terlihat. Tanah berubah menjadi coran semen. Hutan gelap berganti perumahan Dusun Pakis. Syukur kita turun selamat, semua bergeming. Hiruk pikuk kembali terlihat. Pendaki-pendaki lain terlihat bersiap mendaki pada malam hari. Adapun yang sudah membersihkan diri di Basecamp Pendakian Pak Parman. Rerumputan menguning, tanjakan curam, turunan terjal, kelelahan setelah 11 jam berjalan, panas terik matahari dan puncak-puncak di Gunung Merbabu membuat rindu untuk kembali mendakinya kelak.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X