Yuk ke TMII, Ada Pesta Adat Reba Ngada

Kompas.com - 10/02/2015, 13:25 WIB
Para tetua adat memperlihatkan tarian adat Reba, sebagai salah satu bagian penting dalam pesta Reba Ngada di Desa Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/1/2015). KOMPAS/KORNELIS KEWA AMAPara tetua adat memperlihatkan tarian adat Reba, sebagai salah satu bagian penting dalam pesta Reba Ngada di Desa Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Jumat (16/1/2015).
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com – Komunitas Masyarakat Ngada – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta kembali menggelar Perayaan Adat ‘Reba’ etnis Ngada di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (14/2/2015). Perayaan Adat ‘Reba’ ini merupakan yang kedua kali setelah untuk pertama kalinya dirayakan pada Februari tahun lalu.  

Perwakilan Komunitas Masyarakat Ngada Jakarta sekaligus Ketua Panitia Perayaan ‘Reba’, Siprianus Bate Soro dalam siaran pers, Senin (9/2/2015) mengungkapkan, pihaknya merasa perlu mengadakan kembali Perayaan Reba mengingat perayaan ini adalah simbol kehidupan dan identitas hakiki masyarakat Ngada.

Selain memperkenalkan kekhasan dan kekayaan budaya masyarakat Ngada di pentas nasional, perayaan ini mengukuhkan kembali hubungan yang tak terpisahkan antara masyarakat Ngada di Jakarta dan sekitarnya dengan akar budaya dan identitas kulturalnya. (Baca juga: Reba, Pesan Persatuan Warga Ngada)

“Ritus Reba dirayakan oleh semua suku atau kelompok masyarakat di Ngada. Yang akan kami tampilkan dalam atraksi Ritus Reba kali ini adalah tradisi atau langgam sub-etnis Golewa, salah satu kelompok etnis di wilayah Ngada bagian tengah,” ujarnya.

Mengawali rangkaian perayaan Reba tersebut, Masyarakat Ngada Jakarta juga menggelar Sarasehan Reba dan Dialog Budaya pada Rabu (11/2/2015) di Aula Kolese Kanisius, Menteng Raya, Jakarta. Sarasehan akan mengkaji nilai dan kebijaksanaan hidup dalam ritual Reba serta berbagai model aktualisasi nilai ritus reba tersebut dalam budaya modern seperti musik pop dan rohani. Sarasehan akan menghadirkan pembicara, antara lain Dr Hubert Muda, SVD (Pakar Budaya Ngada), Martin Runi (Pakar Musik Liturgi Inkulturasi), dan Ivan Nestorman (Pegiat Musik Ethnis Flores). (Baca juga: Mengagumi Keindahan Padang Sabana Mausui di Flores)

Sebagai bagian tak terpisahkan dan menjadi salah satu asimilasi aktual dari budaya Ngada masa kini, perayaan Reba juga diselingi Misa Inkulturasi, yaitu perayaan ekaristi yang dikemas dalam budaya masyarakat Ngada. Misa inkulturasi tersebut dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr Vinsensius Sensi Potokota, Pr.

Siprianus Bate Soro menjelaskan, berbeda dengan tahun lalu, perayaan Reba tahun ini tidak saja menampilkan O Uwi, tetapi juga atraksi adat seperti Soka Uwi, Kelo Ghae, Ka Kobho, Reto Api, Mia Kuse, dan atraksi tinju tradisional Sudu. (Baca juga: Menyusuri Rimba Suka, Ndolu, dan Mbengan di Bumi Flores)

Atraksi budaya tersebut tidak hanya sekadar tarian, nyanyian, adu ketangkasan, dan berbalas pantun bijak, tetapi merupakan ritual sakral yang menggambarkan asal muasal masyarakat Ngada, kepercayaan, nilai-nilai kehidupan yang dianut, serta kekayaan budi pekerti yang diwariskan turun temurun, dari generasi ke generasi masyarakat Ngada hingga kini.

Perayaan Reba akan dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya. “Acara ini terbuka untuk publik. Kami mengundang para simpatisan, pemerhati budaya, dan masyarakat umumnya untuk menyaksikan dan ikut merayakan khasanah budaya orang Ngada ini,” tambah Siprianus. (*)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X