Sihir Bukit Rindu Alam

Kompas.com - 20/02/2015, 15:53 WIB
Kota Singkawang, Kalimantan Barat dilihat dari puncak bukit Rindu Alam. KOMPAS/LUCKY PRANSISKAKota Singkawang, Kalimantan Barat dilihat dari puncak bukit Rindu Alam.
EditorI Made Asdhiana
RASA penat dan gerah perlahan sirna begitu tiba di puncak Bukit Rindu Alam, Singkawang, Kalimantan Barat. Angin sepoi sejuk serta pemandangan laut biru mendatangkan sensasi damai dan teduh. Ke sinilah warga Singkawang dan Pontianak berlibur, di bukit berketinggian 400 meter di atas permukaan laut ini.

Di tepi tebing Bukit Rindu Alam berdiri gubuk atau panggung kayu berlantai keramik. Beberapa sepeda motor terparkir di dekatnya, sementara sang pengendara tertidur dibuai sepoi angin perbukitan. Mereka menikmati betul udara siang itu.

Kami memilih salah satu panggung untuk rehat. Kantuk segera menyerang dan hampir saja kami tertidur. Namun, kami memilih terjaga untuk menikmati angin dan keindahan alam.

Dari atas bukit, kami melihat lanskap Kota Singkawang yang dikelilingi perbukitan Pasi, Sakok, dan Poteng serta dicegat Selat Karimata. Rupanya kondisi geografis itulah sumber inspirasi nama Singkawang, dalam bahasa Khek menjadi San Khew Jong, bermakna sebuah kota yang terletak di perbukitan, dekat laut, dan muara.

Di bawah kami deburan ombak menghantam karang. Tak jauh dari sana, beberapa orang berlarian di Pantai Tanjung Bajau yang tak lain merupakan kaki Bukit Rindu Alam. Pantai Tanjung Bajau pula yang menghubungkan Pantai Pasir Panjang dan Sinka Island Park, tempat bercokolnya Pulau Simping yang diklaim sebagai pulau terkecil di dunia dan sudah tercatat di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Paling tidak begitu yang tertulis dalam flyer dan papan di tepi jalan.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Lokasi Wisata Singkawang, Kalimantan Barat.
Di Pantai Tanjung Bajau juga berdiri beberapa gubuk kayu tempat pengunjung rehat sembari menikmati pantai. ”Kalau musim liburan, ramai sekali di sini. Ribuan orang. Sudah betul awak (Anda) datang hari ini. Agak sepi. Jadi lebih dapat menikmati pantai,” ujar Yoni Mohammad (35), penjaga pantai sekaligus pemilik warung minuman di Pantai Tanjung Bajau.

Kala itu memang hanya belasan orang yang berkunjung sehingga kami bebas berkeliling dari Pantai Panjang, Pantai Tanjung Bajau, hingga Bukit Rindu Alam. Kondisi itu juga yang dipilih A Yong alias Manto (39), pengusaha properti. Dia bersama enam rekannya sengaja mampir untuk berenang di Pantai Tanjung Bajau.

Setiap ke Singkawang untuk urusan bisnis, Manto selalu menyempatkan diri untuk mampir ke pantai ini. Kalaupun tidak berenang, biasanya sekadar duduk-duduk di gubuk sambil minum kopi seperti yang kami lakukan sore itu.

Kota bertabur kelenteng

Menjelang sore, kami kembali ke Kota Singkawang yang berjarak sekitar 13 kilometer. Malam merambat lebih cepat diiringi gerimis yang kemudian menjelma menjadi hujan lebat. Kota Singkawang tiba-tiba senyap, padahal baru sekitar pukul 21.00. Toko-toko tutup dan jalanan sepi. Namun, lampu-lampu lampion di kelenteng-kelenteng yang merah menyala itu memberi kesan hangat.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengalaman Menjelajahi Museum Nasional Indonesia Secara Virtual

Pengalaman Menjelajahi Museum Nasional Indonesia Secara Virtual

Jalan Jalan
Sejarah Makan Daging Anjing di China, Bukan Tradisi?

Sejarah Makan Daging Anjing di China, Bukan Tradisi?

Whats Hot
Imbas Wabah Corona, Kucing dan Rakun di Kafe Hewan Seoul Kesepian

Imbas Wabah Corona, Kucing dan Rakun di Kafe Hewan Seoul Kesepian

Jalan Jalan
Pengalaman Bikin Dalgona Coffee Tanpa Mixer, Pakai Saringan Sederhana

Pengalaman Bikin Dalgona Coffee Tanpa Mixer, Pakai Saringan Sederhana

Travel Tips
InterContinental Bali Resort Bikin Masker Sendiri, Berikan ke Pegawai dan Warga

InterContinental Bali Resort Bikin Masker Sendiri, Berikan ke Pegawai dan Warga

Whats Hot
Ngopi di Rumah? Coba Resep Baru Ini, Kopi Campur Kunyit

Ngopi di Rumah? Coba Resep Baru Ini, Kopi Campur Kunyit

Makan Makan
Turis Berkurang karena Corona, Gajah Thailand Alami Kelaparan

Turis Berkurang karena Corona, Gajah Thailand Alami Kelaparan

Jalan Jalan
Bandara Soetta Sediakan 270 Parking Stand untuk Tempat Parkir Pesawat

Bandara Soetta Sediakan 270 Parking Stand untuk Tempat Parkir Pesawat

Whats Hot
Simak, Cara Permintaan Pembatalan dan Refund di Tiket.com

Simak, Cara Permintaan Pembatalan dan Refund di Tiket.com

Whats Hot
[POPULER TRAVEL] Simpan Telur di Dalam Freezer | Alasan Teripang Mahal

[POPULER TRAVEL] Simpan Telur di Dalam Freezer | Alasan Teripang Mahal

Whats Hot
11 Inisiatif Restoran Terbaik Dunia Saat Pandemi Covid-19, dari Bagi Makanan sampai Bikin Petisi

11 Inisiatif Restoran Terbaik Dunia Saat Pandemi Covid-19, dari Bagi Makanan sampai Bikin Petisi

Makan Makan
Kunjungan Turis Asing ke Bali Menurun, Nyaris Sudah Tidak Ada Tamu

Kunjungan Turis Asing ke Bali Menurun, Nyaris Sudah Tidak Ada Tamu

Whats Hot
Mesin Penyemprot Disinfektan ke Bagasi Hadir di Bandara Soekarno Hatta dan 18 Bandara Lain

Mesin Penyemprot Disinfektan ke Bagasi Hadir di Bandara Soekarno Hatta dan 18 Bandara Lain

Whats Hot
KBRI di Washington Imbau Turis Indonesia di AS Cepat Pulang ke Tanah Air

KBRI di Washington Imbau Turis Indonesia di AS Cepat Pulang ke Tanah Air

Whats Hot
Amerika Serikat Tunda Penerbitan Paspor Baru, Kecuali Urusan Darurat Kesehatan

Amerika Serikat Tunda Penerbitan Paspor Baru, Kecuali Urusan Darurat Kesehatan

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X