Kompas.com - 25/02/2015, 13:19 WIB
EditorI Made Asdhiana

Seperti diutarakan Direktur Heritage Surabaya, Freddy H Istanto, perkembangan Surabaya ke segala arah, kecuali wilayah utara, Jembatan Merah hingga Kembang Jepun justru stagnan. Penduduk memilih menyingkir dari jantung perdagangan karena jika siang hiruk-pikuk tak tertahankan. Situasi siang kontras dengan malam hari karena kawasan ini bak kota mati.

Padahal, kata Freddy, kawasan utara menyimpan jejak sejarah yang khas. Pada tahun 1870-an, Surabaya dibentuk Belanda sebagai kota benteng. Dalam peta, Surabaya dibagi tiga, yakni barat Kalimas milik Belanda, timur Kalimas dibagi dua, pecinan di selatan Jalan Kembang Jepun yang didominasi saudagar Tionghoa dan di utara ada kampung Melayu dan Arab. ”Jejak ini masih sangat kuat sebagai penanda kota dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata,” kata Freddy.

Kawasan seperti Jalan Panggung dan Pabean dapat dikembangkan untuk wisata pecinan, termasuk Jalan Karet. Di Jalan Panggung, misalnya, penjual minyak wangi bisa bersanding dengan pedagang ikan basah dan barang kebutuhan pokok lain. Di kawasan ini juga nuansa budaya Arab masih sangat khas, terutama menjelang Ramadhan, termasuk kuliner ala Timur Tengah.

Wisata pecinan, ungkap Freddy, bisa digarap mulai di Jalan Karet dengan tiga rumah abu besar, yakni Rumah Abu Han, The, dan Tjoa, dengan karakter masing-masing. Nuansa pecinan di Jalan Karet pun dapat diperkuat dengan memasang lampion dan dekorasi oriental.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyebutkan, pemerintah kota sudah menyusun rencana itu. Namun, ada beberapa kendala dalam mempercantik kawasan itu karena perlu ada revitalisasi. Pengelola atau pemilik gedung tua seperti rumah abu perlu lebih terbuka kepada publik dan dibarengi dengan kegiatan ekonomi dan budaya.

Mengeksekusi rencana itu, Pemkot Surabaya memang perlu dukungan dari komunitas Tionghoa di Surabaya. Kawasan ini dapat menggelait kembali melalui berbagai pertunjukan secara rutin dan terjadwal sehingga turis tak hanya melihat gedung tua, tetapi mendapat berbagai hiburan dan kuliner khas Surabaya.

Kelak kawasan kota tua itu tak lagi hanya riuh di siang hari pada saat jam kerja, setelah itu gelap gulita. (AGNES SWETTA PANDIA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.