Kompas.com - 02/03/2015, 08:51 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak wisata jenis heritage atau peninggalan sejarah adalah tempat ibadah atau ritual kepercayaan. Walau sudah ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, heritage atau peninggalan sejarah yang berupa tempat ibadah masih menarik sebagai kawasan wisata. Sebut saja Candi Borobudur di Jawa Tengah atau makam-makam Wali Songo di Cirebon, Jawa Barat. Bukan hanya yang tua usianya, tempat ibadah yang baru dibangun saja kadang menarik banyak wisatawan. Salah satunya adalah Masjid Kubah Emas di Depok, Jawa Barat. 

Di satu sisi, heritage tempat ibadah ini merupakan peninggalan sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Bukan hanya keindahannya saja tetapi juga bagaimana kita menghargai dan mempelajari sejarah. Namun di sisi yang lain, tempat ibadah adalah tempat yang sakral dan disakralkan oleh manusia. Dua sisi yang sulit dipilih, mana yang lebih penting, sisi sejarah atau ibadah?

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Kelenteng Boen Tek Bio di Tangerang, Banten, yang sering dikunjungi wisatawan saat perayaan Imlek.

Semua kembali ke mental masing-masing pada akhirnya yaitu bagaimana kita menghormati suatu kawasan wisata sebagai tempat ibadah. Bagaimanapun, tetap harus ada batasan. Setidaknya ada beberapa tips secara umum yang harus diperhatikan bila ingin berwisata ke tempat ibadah, baik dalam maupun luar negeri.

Pertama, selalulah lapor atau bertemu dengan penjaga tempat ibadah. Banyak tempat ibadah yang dijadikan kawasan wisata memiliki ruang tiket atau lapor. Kalaupun tidak,  kita bisa menemui penjaganya. Mungkin tidak wajib tapi ini demi menghormati dan menghindari kesalahpahaman. Lebih penting lagi tanyakanlah aturan dan batasan turis atau orang asing yang berkunjung. Bukan hanya batasan wilayah tetapi juga batasan tingkah laku.

Kedua, Jangan terlalu kaget atau tersinggung jika dimintai uang sumbangan di kawasan wisata tempat ibadah. Anggap hal yang lumrah saja. Biasanya toh para penjaga atau manajemen tempat ibadah tidak meminta banyak uang sumbangan bahkan ada yang seikhlasnya saja.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Seorang turis tertidur lelap di Pagoda Shwedagon, Yangon, Myanmar.

Mudahnya, tanyakan kepada orang lokal, staf hotel atau pemandu wisata tentang harga yang wajar untuk menyumbang tempat ibadah. Selain itu tanyakan juga dari awal apakah ada bayaran atau sumbangan dan tegaskan dari awal. Ini menjadi penting agar tidak punya kesan “dipalak” atau “dirampok”.

Ketiga, berpakaian tertutup dan sopan. Jangankan ke tempat ibadah, ke istana negara di semua negara pun memberikan aturan ketat terhadap standar kesopanan pakaian. Minimal jangan tangtop atau tangan buntung dan celana pendek. Pakailah celana di bawah lutut. Jangan juga celana atau baju ketat. Amannya, bawalah scarf yang bisa dijadikan penutup bagian tubuh misalnya dada, rambut, bahkan bisa dijadikan sarung bila dibutuhkan.

Keempat, lepas alas kaki juga jangan lupa. Demi alasan keamanan dan kemudahan memang sebaiknya bawa selalu kantung plastik untuk menyimpan  alas kaki, baik sepatu atau sandal. Kalau bisa bawa kaos kaki agar kaki tidak terlalu kotor. Kaos kaki juga bisa menghindari tapak kaki dari kepanasanan. Kalau terlalu panas bisa membuat kaki melepuh.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Turis di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Kelima, bagi perempuan yang sedang menstruasi, perhatikan aturan agama tempat ibadah yang didatangi. Beberapa tempat ibadah, seperti pura atau masjid, memiliki aturan agama yang melarang perempuan menstruasi masuk ke dalam gedungnya.

Keenam, terpenting adalah siapkan mental dan sikap yaitu jangan mengganggu orang yang datang untuk beribadah, walau hanya suara apalagi kamera. Walau tidak terlihat mengganggu, suara atau kamera tetap akan mengganggu konsentrasi orang yang beribadah. Jangan sekali-kali menunjukkan rasa aneh apalagi merendahkan atau mencibir cara ibadah dalam tempat ibadah. Masing-masing agama dan kepercayaan memiliki cara ibadah masing-masing yang kadang memang sulit diterima akal dan perasaan agama dan kepercayaan lain. Semua kembali kepada sikap untuk saling menghormati sesama umat beragama. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.