Kompas.com - 07/03/2015, 18:42 WIB
Jalur trekking puncak Gunung Parang, Desa Pasanggrahan, Tegalwaru, Purwakarta, Jumat (27/2/2015). Wisata alam hutan dan tebing gunung api purba ini jarang dikenal, meskipun hanya berjarak sekitar 70 kilometer dari ibu kota Jakarta. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYATJalur trekking puncak Gunung Parang, Desa Pasanggrahan, Tegalwaru, Purwakarta, Jumat (27/2/2015). Wisata alam hutan dan tebing gunung api purba ini jarang dikenal, meskipun hanya berjarak sekitar 70 kilometer dari ibu kota Jakarta.
|
EditorI Made Asdhiana

BUNYI alarm bersahutan berusaha mengusik lelapnya tidur pada dini hari minggu lalu, Jumat (27/2/2015) di kaki Gunung Parang. Di dalam sebuah saung bambu yang dinamakan Bale Semah oleh pengelola Badega Gunung Parang, Tim Kompas.com beristirahat. Kala itu kami bersiap mendaki gunung batu yang menjulang tinggi untuk mengejar sang mentari keluar dari peraduannya.

Mesin mobil mulai menderu tanda telah siap untuk mengantar ke titik awal pendakian di Desa Pesanggrahan, Tegalwaru, Purwakarta. Kami mengawali di sebuah kantor desa yang masih bersebelahan dengan Kampung Cihuni. Hanya berjarak sekitar satu kilometer dari tempat kami singgah. Tepat pukul 05.00 WIB, mobil meninggalkan pelataran parkir yang berada di pinggir jalan Kampung Cihuni.

Gunung Parang selain terkenal oleh pemanjat sebagai tebing yang sulit untuk dipanjat, ternyata juga dapat didaki layaknya gunung-gunung lain. Melalui punggung gunung, puncaknya yang berketinggian hampir 950 meter di atas permukaan laut dapat diraih. “Di puncak kita bisa lihat Waduk Jatiluhur, perkampungan, persawahan, dan bukit-bukit lain," kata Wawan Lukman Hidayat, Ketua Pengelola Badega Gunung Parang sehari sebelum kami mendaki.

Sinar lampu di kepala membantu kami membelah kegelapan. Lepas dari sebuah kandang kambing, kami mulai memasuki batas hutan. Tak ada yang dapat terlihat tanpa bantuan lampu. Semua terlihat homogen. Hanya hitam yang mewarnai sekitar kami. Namun perlahan fajar telah datang. Sinarnya menembus di antara dedaunan menerangi jalur pendakian.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Jalur trekking puncak Gunung Parang, Desa Pasanggrahan, Tegalwaru, Purwakarta, Jumat (27/2/2015). Wisata alam hutan dan tebing gunung api purba ini jarang dikenal, meskipun hanya berjarak sekitar 70 kilometer dari ibu kota Jakarta.

Baru saja mendaki setengah jam, bebatuan besar menghadang perjalanan. “Di sini biasanya kalau pendaki yang lain suka pada nyerah gara-gara ekstrem jalurnya," kata Dhani Daelani, pemandu dari Badega Gunung Parang yang mengantarkan kami. Benar saja, untuk melewatinya, jemari tangan harus bersusah payah mencari pegangan. Pijakan kaki pun menjadi licin akibat tanah gembur dan akar-akar yang menjulur ke luar.

Mentari makin bergerak menuju singgasana tertingginya. Tak ada angin yang berembus. Hutan yang kami lewati benar-benar membuat keringat makin mengucur deras. Beruntung kami menggunakan kaus dengan bahan quick dry. Dengan bahan yang tipis, ringan, dan berpori membuat kaus bahas menjadi cepat kering. Namun jalur yang terus menanjak memaksa peluh tetap keluar. Bahkan sampai menetes ke tanah.

Sekitar satu jam pendakian melewati punggung gunung yang terjal, kami sampai di sebuah pertigaan. Pertigaan tersebut merupakan puncak bukit kecil dengan dataran yang cukup luas. Jika dilihat berdasarkan kerapatan garis kontur di peta buatan Badan Informasi Geospasial, memang jalur yang kami lewati cukup terjal. Hal itu karena garis kontur jalur kami cukup rapat. Maka jangan heran jika mendaki Gunung Parang bersiaplah untuk kesulitan melintasi medan pendakian. Bawalah cadangan air ekstra untuk menghindari dehidrasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo Pemandangan rumah-rumah kampung yang tersamar kabut dilihat dari puncak Gunung Parang, Jum'at (27/2/2015).

“Permisi kang. Numpang lewat ya," ucap saya. Ternyata kami tidak sendiri di gunung batu ini. Tiga orang terlihat berkumpul di dekat tumpukan batu dan beratapkan plastik. Satu orang sedang tiduran beralaskan matras dan menggunakan kantong tidur. Sementara dua orang lainnya sedang berdiri. Menurut cerita sang kepala Badega Gunung Parang, memang di atas gunung terdapat sebuah makam. Berdasarkan legenda yang diceritakan, tumpukan batu itu adalah makam Nyi Ronggeng yang entah diketahui alasan meninggal dan mengapa dimakamkan di atas gunung.

Sebelum meninggalkan kanopi hutan, kami berkumpul untuk bersama-sama menuju puncak gunung. Kini di kiri dan kanan jalur sudah menjadi jurang yang dalam. Sedikit terpeleset, nyawa taruhannya. Saking terjalnya jalur, kami harus duduk bertumpu sebelum menuruni jalur yang nantinya akan menanjak tajam. Tangan meraba-raba mencari sesuatu yang dapat digenggam. “Hati-hati. Tas kameranya dioper aja. Bahaya," kata saya kepada teman-teman dari Kampung Cihuni yang membawakan alat-alat dokumentasi.

Sekitar pukul 06.00 WIB, pepohonan telah menghilang di atas kepala kami. Langit yang berawan mengganti daun-daun yang sedari tadi menutup pandangan ke langit. Menurut Kang Dhani, sekitar dua puluh menit perjalanan lagi kami akan segera menapakkan kaki di puncak. Namun kami harus melewati igir-igir –pematang cekung dan runcing – tipis sebelum tiba. Bagaikan punuk unta, kami harus naik dan turun igir-igir agar dapat menjejakkan di puncak tebing. Napas mulai terengah-engah, keringat makin deras membasahi tubuh, dan matahari mulai melumuri kulit.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Pendaki berada di puncak 2 Gunung Parang di Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (27/2/2015). Pendakian menuju puncak dapat ditempuh selama 2 jam dari titik awal di Desa Pasanggrahan. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT

Impian untuk pemandangan Waduk Jatiluhur, pemukiman, bukit-bukit, dan persawahan yang diceritakan tampak sirna seperti debu tertiup angin. Kabut-kabut tipis turun perlahan menutup jarak pandang. Semburat jingga matahari pun tak terlukis di langit Jawa Barat ini. Ekspresi kekecewaan sedikit tersurat di wajah Fikria Hidayat yang mana akan mengambil gambar lanskap Purwakarta dari atas puncak. Sementara saya dan Roderick duduk, para pemandu dari Badega Gunung Parang bersiap-siap untuk menyiapkan alat-alat pemanjatan.

Sekitar setengah jam menunggu sang kabut, kami sedikit lega karena dapat melihat rumah-rumah yang terlihat kecil di kaki gunung. Salah satu waduk terbesar di Indonesia ini akhirnya muncul di balik kabut. Bukit-bukit yang berlomba-lomba untuk menjadi yang tertinggi juga menampakkan diri. Sawah hijau menghampar berdampingan dengan rumah-rumah penduduk. Kami tersenyum. Inilah perjuangan menggapai puncak tebing andesit tertinggi kedua di Asia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Desa Wisata Carangsari Bali, Desa dengan 14 Daya Tarik Wisata

Desa Wisata Carangsari Bali, Desa dengan 14 Daya Tarik Wisata

Jalan Jalan
Menparekraf Sandiaga Tanggapi PHRI yang Menolak Sertifikasi CHSE

Menparekraf Sandiaga Tanggapi PHRI yang Menolak Sertifikasi CHSE

Travel Update
Setelah Bali, Batam dan Bintan Ditargetkan Buka untuk Turis Asing

Setelah Bali, Batam dan Bintan Ditargetkan Buka untuk Turis Asing

Travel Update
Syarat Turis Asing yang Boleh Wisata ke Bali, Sehat dan Bervaksin Covid-19

Syarat Turis Asing yang Boleh Wisata ke Bali, Sehat dan Bervaksin Covid-19

Travel Update
Ada Hoaks soal Wisata Jogja, Ini Daftar Resmi 7 Tempat Wisata di Sana yang Buka

Ada Hoaks soal Wisata Jogja, Ini Daftar Resmi 7 Tempat Wisata di Sana yang Buka

Travel Update
Rencana Argentina Terima Turis Asing Mulai November 2021

Rencana Argentina Terima Turis Asing Mulai November 2021

Travel Update
Norwegia Akan Buka Perbatasan secara Bertahap

Norwegia Akan Buka Perbatasan secara Bertahap

Travel Update
Kedai Kopi Pucu'e Kendal Ramai Pengunjung, meski Buka Saat Pandemi

Kedai Kopi Pucu'e Kendal Ramai Pengunjung, meski Buka Saat Pandemi

Jalan Jalan
Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

Jalan Jalan
4 Tipe Glamping di The Lodge Maribaya Lembang, Mulai Rp 800.000 Per Malam

4 Tipe Glamping di The Lodge Maribaya Lembang, Mulai Rp 800.000 Per Malam

Jalan Jalan
Fasilitas Glamping Lakeside Rancabali, Resor Tepi Situ Patenggang yang Indah

Fasilitas Glamping Lakeside Rancabali, Resor Tepi Situ Patenggang yang Indah

Jalan Jalan
3 Spot Foto Favorit di Kawah Putih Ciwidey, Bisa Lihat Sunrise

3 Spot Foto Favorit di Kawah Putih Ciwidey, Bisa Lihat Sunrise

Jalan Jalan
Bosan di Rumah Terus karena Pandemi? Berikut 3 Ide Piknik Bersama Pasangan Tanpa Keluar Mobil

Bosan di Rumah Terus karena Pandemi? Berikut 3 Ide Piknik Bersama Pasangan Tanpa Keluar Mobil

BrandzView
Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan di The Lodge Maribaya

Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan di The Lodge Maribaya

Jalan Jalan
Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik Buka Lagi, Ini Syaratnya

Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik Buka Lagi, Ini Syaratnya

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.