Kompas.com - 09/03/2015, 11:02 WIB
I Ketut Santosa sedang membuat sketsa wayang di atas kertas sebagai tahap awal melukis kaca nagasepaha. KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANAI Ketut Santosa sedang membuat sketsa wayang di atas kertas sebagai tahap awal melukis kaca nagasepaha.
EditorI Made Asdhiana

HIDUP memang bukan soal nasib melulu. Jro Dalang Diah menghidupkan harapan warga Desa Nagasepaha, Buleleng, Bali, dengan selembar kaca. Lewat lukisan kaca, ia mewariskan kisah-kisah moral dalam wayang sekaligus memberi denyut ekonomi, yang jadi sumber penghidupan warga sampai kini.

Dua cucu Jro Dalang Diah, I Ketut Santosa (43) dan I Wayan Arnawa (43), tak bisa membayangkan andai kata kakek mereka dahulu tidak menciptakan lukisan kaca. Sejak zaman kakek buyut mereka yang bernama I Gede Wenten, kehidupan keluarga ini sepenuhnya ditopang oleh jalan kesenian. ”Kami sekeluarga sampai sekarang tidak punya sawah atau kebun untuk bertani,” kata Santosa. Ia mengibaratkan ”kebun” hidupnya ada pada selembar lukisan kaca, keahlian yang diwariskan kakeknya.

Menurut cerita Jro Dalang Diah (bernama asli I Ketut Negara, wafat pada usia 101 tahun), seperti yang dituturkannya kepada sastrawan I Made Adnyana Ole, ia belajar melukis, memahat, dan membuat bade (menara jenazah untuk upacara ngaben) dari ayahnya, I Gede Wenten. Wenten sekitar awal abad ke-20 dikenal sebagai pengukir dan pembuat bade di daerah Buleleng. ”Katanya, Jro Dalang Diah belajar secara tidak langsung dari ayahnya. Ia ikut dan melihat segala aktivitas kesenian ayahnya,” kata Ole.

Bedanya kemudian, jika Wenten menurunkan kreativitas seni kepada anak dan cucunya, Jro Dalang Diah mengajarkan teknik melukis kaca kepada siapa saja di Desa Nagasepaha. Bahkan, anak dan cucunya kemudian mengajarkan seni lukis kaca nagasepaha kepada murid-murid di sekolah atau sanggar kegiatan belajar di sekitar desanya. Sampai sekarang I Ketut Suamba (71), anak keempat Jro Dalang Diah, masih mengajar melukis kaca di sebuah sanggar kegiatan belajar di Nagasepaha. Santosa juga sedang mengajar di sebuah sekolah dasar untuk pelajaran ekstrakurikuler. ”Di sini ekskul sudah diisi dengan belajar melukis kaca,” kata Santosa.

Teknik melukis

Jro Dalang Diah memadukan teknik melukis Bali dengan melukis di atas kaca. Selain melukis dengan cara terbalik, melukis kaca nagasepaha dimulai dengan membuat sketsa di atas kertas, kemudian nyigar atau memindah sketsa ke atas kaca, nyawi (mengarsir bagian-bagian lukisan), memberi warna, dan terakhir menggambar latar. ”Bagian nyawi itu yang terpenting karena sangat menentukan gelap terang serta dimensi lukisan,” kata pengajar seni rupa Universitas Ganesha Singaraja, Polenk Rediasa.

KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA Studio pelukis I Ketut Santosa yang dipenuhi lukisan karya para muridnya di Desa Nagasepaha, Buleleng, Bali.

Teknik melukis seperti ini, kata Polenk, sebenarnya sama dengan teknik melukis bali, sebagaimana yang dilakukan para pelukis bergaya Ubud. Cuma, karena memakai medium kaca, teknik melukis nagasepaha sedikit lebih rumit. ”Semuanya harus dibuat terbalik. Pekerjaan awal akan jadi bagian muka, jadi harus dihaluskan,” ujar Polenk. Berbeda dengan melukis di atas kanvas, di mana sentuhan terakhir yang menentukan selesainya sebuah lukisan.

Menurut Polenk, penemuan paling mutakhir dari Jro Dalang Diah, justru pada teknik melukis di atas kaca, yang pasti berbeda dengan teknik melukis kaca di Cirebon atau di Yogyakarta. Selain menggunakan media kaca, Jro Dalang Diah, juga menemukan tinta cina dan cat kayu merek tertentu, yang sesuai dengan kaca. Seluruh media itu sampai kini masih dipergunakan untuk membuat lukisan kaca.

Hal yang paling menarik, apa yang dikerjakan Jro Dalang Diah dalam memenuhi pesanan I Ketut Nitia untuk mencoba melukis wayang di atas kaca tahun 1927, kemudian menjadi pekerjaan yang disakralkan. Lukisan-lukisan pertama Jro Dalang Diah diperlakukan sebagai artefak sakral dan dipakai sebagai ornamen di pura. Kemungkinan itu bermula, menurut penulis seni rupa Hardiman, dari unsur penghayatan terhadap laku kesenian. Di Bali, kesenian hampir selalu dipandang dari perspektif yadnya (persembahan suci kepada Tuhan).

Pekerjaan seperti membuat bade atau mengukir pura adalah pekerjaan yang selalu bermuatan yadnya. ”Semuanya dilakukan dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih. Tidak jarang mereka berpuasa sebelum menjalani laku kesenian,” kata Hardiman.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kondisi TMII yang Terbengkalai Beredar di Twitter, Ini Penjelasannya

Kondisi TMII yang Terbengkalai Beredar di Twitter, Ini Penjelasannya

Travel Update
9 Kafe Instagramable Kediri, Cocok buat Tempat Ngopi dan Nongkrong

9 Kafe Instagramable Kediri, Cocok buat Tempat Ngopi dan Nongkrong

Jalan Jalan
Creative Hub Puncak Waringin Labuan Bajo Diserahkan ke Pemda Manggarai Barat

Creative Hub Puncak Waringin Labuan Bajo Diserahkan ke Pemda Manggarai Barat

Travel Update
Asyiknya Panen Stroberi Sambil Ngopi di Oktobery Tasikmalaya

Asyiknya Panen Stroberi Sambil Ngopi di Oktobery Tasikmalaya

Jalan Jalan
5 Cara Menenangkan Bayi Saat Naik Pesawat Menurut Psikolog

5 Cara Menenangkan Bayi Saat Naik Pesawat Menurut Psikolog

Travel Tips
Harga Tiket Jembatan Gantung dan Gondola di Girpasang Klaten

Harga Tiket Jembatan Gantung dan Gondola di Girpasang Klaten

Travel Update
Daftar 25 Negara yang Terapkan Pajak Turis Mulai 2022, Ada Indonesia

Daftar 25 Negara yang Terapkan Pajak Turis Mulai 2022, Ada Indonesia

Travel Update
Saran Pakar Feng Shui untuk Tahun Macan Air, Cari Tempat Wisata Baru

Saran Pakar Feng Shui untuk Tahun Macan Air, Cari Tempat Wisata Baru

Travel Tips
5 Negara Pilihan Utama Pensiunan 'Crazy Rich', Swiss Salah Satunya

5 Negara Pilihan Utama Pensiunan "Crazy Rich", Swiss Salah Satunya

Jalan Jalan
Pullman Ciawi Vimala Hills Beri Promo Menginap dan Menu Spesial Imlek

Pullman Ciawi Vimala Hills Beri Promo Menginap dan Menu Spesial Imlek

Travel Promo
Perlukah Penutup Telinga Saat Bayi Naik Pesawat? Ini Penjelasan Dokter

Perlukah Penutup Telinga Saat Bayi Naik Pesawat? Ini Penjelasan Dokter

Travel Tips
Bos Maskapai AS Ingatkan Jaringan 5G Bisa Timbulkan Malapetaka

Bos Maskapai AS Ingatkan Jaringan 5G Bisa Timbulkan Malapetaka

Travel Update
Pramugari Lebih Pilih Layani Penumpang di Kelas Ekonomi, Ini Alasannya

Pramugari Lebih Pilih Layani Penumpang di Kelas Ekonomi, Ini Alasannya

Travel Update
Wajib Tahu, 8 Cara Aman Mengemas Makeup Saat Liburan

Wajib Tahu, 8 Cara Aman Mengemas Makeup Saat Liburan

Travel Tips
Sejarah Angpau, Tradisi Memberi Koin untuk Usir Roh Jahat

Sejarah Angpau, Tradisi Memberi Koin untuk Usir Roh Jahat

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.