Ni Ketut Arini, Kesetiaan untuk Tari Bali

Kompas.com - 14/03/2015, 10:35 WIB
Ni Ketut Arini (72), penari asal Denpasar, Bali. Sehari-hari mengajar tari Bali di sanggarnya atau melayani panggilan melatih di luar negeri. KOMPAS/AYU SULISTYOWATINi Ketut Arini (72), penari asal Denpasar, Bali. Sehari-hari mengajar tari Bali di sanggarnya atau melayani panggilan melatih di luar negeri.
EditorI Made Asdhiana

Belajar dari maestro

Memiliki darah seni mempermudah Arini memahami karakter tari-tarian yang dipelajarinya. Dia berkeyakinan, keseriusannya dalam belajar di sekolah seni hingga berguru kepada para maestro tari Bali tidak akan sia-sia.

I Wayan Rindi dan I Nyoman Kaler merupakan dua di antara guru-guru tari terbaik bagi Arini, khususnya untuk tari Legong. Selama hampir 40 tahun, ibu empat anak ini menggeluti tari Legong. Tidak heran kalau 15 jenis tari Legong yang ada telah dikuasainya.

Kepiawaian Arini menarikan tari-tarian Bali membuat dia sering kali diminta untuk mengajar di luar negeri, seperti Jepang dan Filipina. Tak sedikit pula mahasiswa asing dan penari asal mancanegara juga berdatangan ke sanggar yang berada di rumahnya.

Mereka belajar menari Bali di sanggarnya. Arini memang tidak pernah menolak siapa pun yang datang untuk belajar menari. Dia justru merasa senang jika semakin banyak anak muda yang mau belajar menari Bali.

Hanya saja, Arini tetap meminta pertanggungjawaban mereka. Dia akan memberikan semua pengetahuan tari miliknya dengan syarat sang murid mau belajar menari dengan serius.

”Saya tidak suka anak murid yang tidak disiplin. Teknik menari itu ada aturannya, dan bukan sembarangan asal kita bisa menari,” ucap Arini serius.

Penari juga dituntut untuk memahami gamelan pengiringnya. Menurut Arini, hal ini menjadi penting karena penari dan gamelan pengiringnya harus menyatu.

Seorang penari, lanjut Arini, bisa lihai dan gemulai meskipun dia tidak memiliki keturunan darah seni dari keluarganya. Keseriusan seseorang dalam mempelajari tarian menjadi kuncinya. Oleh karena itulah, Arini tidak menuntut siapa pun yang datang belajar kepadanya harus memiliki bakat.

”Bakat itu bukan segalanya. Semangat dan niat seseorang untuk belajar menjadi yang utama. Meski orang itu berbakat tetapi tidak punya semangat dan niat, tidak akan pernah menjadi penari yang hebat,” tutur dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X