Kompas.com - 25/03/2015, 15:07 WIB
Segelas kopi es dari sebuah kedai yang membekukan tengara denyut pecinan terlawas di Jakarta. Agni MalaginaSegelas kopi es dari sebuah kedai yang membekukan tengara denyut pecinan terlawas di Jakarta.
EditorNi Luh Made Pertiwi F
SAJIAN khas Pecinan Glodok tampaknya tak habis dicecapi dalam semalam. Seruas jalan sempit telah menjadi saksi semaraknya deretan kedai dan toko kawasan pecinan ini, Gang Gloria.

Kita bisa menyaksikan bentangan berbagai gerai dari baktim, pi oh, nasi ayam Hainan, sampai warung Soto Betawi Afung. Terpajang juga deretan warung dari asinan juhi, nasi campur, sampai lontong Cap Go Meh. Semua aroma hidangan berpadu sepanjang gang tersebut.

Sebuah supermarket dan bioskop “Gloria” pernah sohor di kawasan pecinan ini pada 1970-an hingga 1990-an, sehingga namanya diabadikan sebagai penanda nama sebuah gang. Namun, kompleks pertokoan ini terbakar pada 2009.

Sebuah kedai kopi yang menjadi tengara warga kota tentang kehidupan di pecinan pada awal abad ke-20 masih tampak mengepul di sudut Gang Gloria. “Kopi Es Tak Kie”, demikian namanya.      

Kedai ini dikelola oleh Latif Yulus, yang lebih akrab disapa Koh Ayauw (62). Kedai ini terletak di Jalan Pintu Besar Selatan III Nomor 4-6, Pancoran, Glodok. Buka mulai jam 7 pagi sampai jam 2 sore.

Ayauw merupakan generasi ketiga pengelola kedai ini. Ia mengatakan kepada saya bahwa warung ini berdiri pada 1927. Awalnya, Tak Kie belumlah berupa kedai kopi seperti sekarang ini, demikian ungkap Ayauw. Ketika itu primadona dagangan kedai klasik ini adalah teh. Sisik melik dagangan awal kedai ini justru masih terpampang dalam untaian aksara Han di papan namanya—de ji cha shi atau kedai teh Tak Kie.

Namun, lambat laun kopi mulai mendominasi dan lebih disukai, sehingga sajian teh berangsur tak lagi diminati. Ayauw mengenang, "Dulu penganan di warung ini macam-macam, ada tausa, lemper, macam-macam pia, dan cakwe. Tiap pagi, saya tinggal geser lemari ngambil jajanan. Dulu di sini juga jual bubur. Sekarang tidak ada lagi. Sejak tahun 70-an, pelanggan sudah nggak suka lagi jajanan dan bubur. Jadinya hanya jual mi dan nasi campur."

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di masa lalu, ada cara unik menikmati segelas kopi hangat atau es kopi di sini. "Dulu jaman saya kecil, itu cakwe jadi teman minum kopi. Cakwe dicelupin ke kopi sampai nyerep hampir putus, langsung dimakan," ujar Ayauw.

Ayauw pun masih mengingat jelas bahwa roti sarikaya juga dijual di kedainya. "Rotinya nggak dibakar kaya sekarang," ujarnya membandingkan mata dagangan Tak Kie klasik dengan kedai kopi masa kini.

Tak Kie telah berdiri lebih dari delapan dekade dan menjadi saksi untaian peristiwa bersejarah yang terjadi di Ibu Kota Jakarta—sejak masa kolonial hingga era reformasi. Menu-menu kuliner khas warung kopi peranakan Tionghoa pun sudah berubah tergerus waktu. Saat ini Tak Kie hanya menyajikan kopi hitam, kopi susu, es kopi, es kopi susu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

10 Maskapai Penerbangan Paling Tepat Waktu Se-Asia Pasifik 2021, Indonesia Termasuk

10 Maskapai Penerbangan Paling Tepat Waktu Se-Asia Pasifik 2021, Indonesia Termasuk

Travel Update
PT KAI Luncurkan KA Nusa Tembini Jurusan Cilacap-Yogya 2 Juli 2021

PT KAI Luncurkan KA Nusa Tembini Jurusan Cilacap-Yogya 2 Juli 2021

Travel Update
Tebing Laut Ngungap Gunungkidul, Obyek Wisata Alam Tebing dan Lautan

Tebing Laut Ngungap Gunungkidul, Obyek Wisata Alam Tebing dan Lautan

Jalan Jalan
Penerbangan Misterius di Korea Selatan Laris Manis, Ditumpangi Belasan Ribu Penumpang

Penerbangan Misterius di Korea Selatan Laris Manis, Ditumpangi Belasan Ribu Penumpang

Travel Update
Jangan Nekat, Wisatawan Jakarta Dilarang ke Bandung Selama Sepekan

Jangan Nekat, Wisatawan Jakarta Dilarang ke Bandung Selama Sepekan

Travel Update
Malindo Air Mulai Uji Coba IATA Travel Pass

Malindo Air Mulai Uji Coba IATA Travel Pass

Travel Update
Paket Wisata Vaksin, Turis Indonesia Berkesempatan Dapat Vaksin Covid-19 di AS

Paket Wisata Vaksin, Turis Indonesia Berkesempatan Dapat Vaksin Covid-19 di AS

Travel Update
4 Aktivitas Seru Saat Wisata ke Taman Langit Malang

4 Aktivitas Seru Saat Wisata ke Taman Langit Malang

Jalan Jalan
30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian

30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian

Jalan Jalan
8 Desa Wisata di Sumba Timur NTT, Cocok untuk Wisata Alam dan Budaya

8 Desa Wisata di Sumba Timur NTT, Cocok untuk Wisata Alam dan Budaya

Travel Update
Kenapa Edelweis Tidak Boleh Dipetik? Ini 10 Fakta Menarik Si Bunga Abadi

Kenapa Edelweis Tidak Boleh Dipetik? Ini 10 Fakta Menarik Si Bunga Abadi

Travel Update
AirAsia Beri Promo Gratis Bagasi 15 Kilogram, Ini Caranya

AirAsia Beri Promo Gratis Bagasi 15 Kilogram, Ini Caranya

Travel Promo
Asyik! Wisatawan Indonesia Sudah Bisa Liburan ke Perancis

Asyik! Wisatawan Indonesia Sudah Bisa Liburan ke Perancis

Travel Update
Jam Buka dan Harga Tiket Kebun Binatang Jurug Kota Solo 2021, Ada Diskon

Jam Buka dan Harga Tiket Kebun Binatang Jurug Kota Solo 2021, Ada Diskon

Jalan Jalan
5 Tempat Wisata Malang Terbaru 2021, Cocok Dikunjungi Saat Akhir Pekan

5 Tempat Wisata Malang Terbaru 2021, Cocok Dikunjungi Saat Akhir Pekan

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X