Kompas.com - 29/03/2015, 14:17 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Tugu Khatulistiwa

Penyusuran Sungai Kapuas terhenti di Tugu Khatulistiwa. Tugu ini sendiri terdapat dua buah, yaitu tugu asli dan duplikatnya. Duplikat tugu lima kali lebih besar dan terlihat dari jarak berpuluh-puluh meter di kejauhan. Sementara itu, tugu asli berada di dalam tugu duplikatnya.

Tugu asli dibangun saat zaman kolonial Belanda, yaitu tahun 1928, untuk menentukan titik ekuator. Karena masih menggunakan teknologi seadanya, tugu ini tidak berdiri tepat pada posisi 0 derajat. Tugu Khatulistiwa berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik Lintang Utara; dan 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik Bujur Timur. Sementara itu, posisi 0 derajat 0 menit dan 0 detik terletak 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu. Di posisi tepat ini dibangun patokan baru yang bentuknya lebih kecil dari tugu.

Di sekitar patokan baru juga dibuat garis putih memanjang. Di atas garis ini, telur bisa tegak berdiri tanpa bantuan apa pun. Saat peringatan titik kulminasi, pengunjung berebut untuk membuktikan fenomena ini.

Faktanya, sebagian besar telur yang diletakkan di sepanjang garis tersebut memang bisa berdiri. Meski begitu, ada beberapa pengunjung yang sempat gagal mendirikan telur, alasannya karena kurang konsentrasi.

"Ayo Pak, konsentrasi Pak. Pelan-pelan," ujar pemandu acara mengiringi kegiatan pengunjung mendirikan telur, Sabtu (21/3/2015).

Menurut pantauan Kompas.com, ternyata tidak hanya di garis tersebut telur bisa berdiri tegak. Di dekat tugu asli pun, beberapa pengunjung mencoba mendirikan telur dan berhasil. Namun, memang telur yang berdiri tidak sebanyak di garis putih tersebut.

Arimbi Ramadhiani Meriam Karbit yang dipercaya bisa mengusir kuntilanak, hantu penganggu di Pontianak, Kalimantan Barat.

Meriam pengusir kuntilanak

Para ahli sejarah mengemukakan bahwa saat membuka lahan tempat tinggal tahun 1771, Raja Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadrie sempat diganggu oleh hantu kuntilanak. Untuk mengusirnya, Raja menyalakan meriam. Syarif, yang kemudian diakui sebagai pendiri Kota Pontianak, menembakkan meriam ke arah daratan.

Meriam yang digunakan disebut meriam karbit. Meriam ini terbuat dari kayu besar dengan diameter 50-100 sentimeter. Panjangnya 4-7 meter. Meriam ini diisi dengan air, dan karbit dimasukkan sebagai mesiunya. Karbit yang bereaksi dengan air akan menghasilkan gas yang mengakibatkan ledakan jika disulut dengan api.

Suara ledakannya menggelegar hingga mampu menggoyahkan bangunan sekitar. Saat perayaan titik kulminasi, meriam ini menyambut kedatangan para pengunjung. Bahkan, dari kejauhan, bunyi meriam ini cukup membuat hati berdebar. Pada jarak dekat, tidak jarang pengunjung yang terkaget-kaget dengan suara meriam.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.