Kompas.com - 01/04/2015, 14:23 WIB
Sejumlah muatan diturunkan dari kapal kayu tradisional di Dermaga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jumat (13/3/2015). Pulau Tidung merupakan salah satu pulau wisata di Kepulauan Seribu yang banyak dikunjungi wisatawan. Kapal kayu tradisional menjadi transportasi utama untuk angkutan barang dan wisatawan menuju kawasan ini karena kapal cepat milik pemerintah tidak beroperasi.

 KOMPAS/RADITYA HELABUMISejumlah muatan diturunkan dari kapal kayu tradisional di Dermaga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jumat (13/3/2015). Pulau Tidung merupakan salah satu pulau wisata di Kepulauan Seribu yang banyak dikunjungi wisatawan. Kapal kayu tradisional menjadi transportasi utama untuk angkutan barang dan wisatawan menuju kawasan ini karena kapal cepat milik pemerintah tidak beroperasi.
EditorI Made Asdhiana
GERIMIS masih enggan pergi pada Jumat subuh dua pekan lalu saat kami hendak bertolak menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Berhubung tak ada informasi yang jelas soal keberangkatan kapal, kami langsung menuju Pelabuhan Muara Angke. Tak terbayang ”mimpi buruk” yang menunggu di pelabuhan tersebut.

Ada dua dermaga di Pelabuhan Muara Angke, yakni Kali Adem dan Muara Angke. Pertama, kami menuju Kali Adem untuk naik kapal penumpang yang dioperasikan Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta. Untuk menuju ke sana, taksi yang kami tumpangi berjalan di jalur sempit yang dipenuhi gerobak nelayan. Genangan di badan jalan, dan bau amis tercium.

Rupanya tak ada kapal beroperasi dari dermaga itu. Sudah sejak Desember 2014, 12 unit kapal cepat dari Kali Adem berhenti beroperasi karena RAPBD 2015 belum disetujui.

Kami buru-buru menuju Dermaga Muara Angke, tempat keberangkatan kapal kayu penangkap ikan yang dimodifikasi menjadi kapal penumpang. Area parkir gelap. Genangan hitam ada di mana-mana, campuran sisa rob dan limbah pasar ikan. Untuk mencapai kapal, kami harus berjalan melompati bibir dermaga dan kapal yang parkir di sisi paling pinggir.

Fungsi asli dermaga ini memang untuk pendaratan ikan. Namun, kini dermaga ini menjadi penghubung menuju Kepulauan Seribu.

Tidak aman

Para awak kapal tradisional atau biasa disebut ojek kapal sudah lama meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk bisa sandar di Dermaga Kali Adem. Namun, permintaan itu ditolak lantaran ojek kapal dinilai tidak aman dan tidak memenuhi standar kapal penumpang.

Biasanya, ojek kapal terdiri atas dua dek. Tidak ada kursi. Penumpang duduk lesehan di lantai kapal beralas terpal. Tarifnya Rp 40.000 per orang.

Berdasarkan data di Pelabuhan Pulau Tidung, pada hari biasa, hanya ada satu kapal dari Muara Angke ke Pulau Tidung. Saat akhir pekan, ada setidaknya 13 kapal yang beroperasi karena banyak wisatawan. ”Pada hari biasa, penumpang 50-100 orang. Pada hari libur, penumpang 2.000-3.000 orang,” kata Kepala Pelabuhan Pulau Tidung Chaerul.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Penumpang berjejalan di lantai kapal saat perjalanan dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jumat (13/3/2015). Pulau Tidung merupakan salah satu pulau wisata di Kepulauan Seribu yang dikunjungi banyak wisatawan. Kapal kayu tradisional menjadi transportasi utama menuju kawasan ini karena kapal cepat milik pemerintah tidak beroperasi.
Sebenarnya, pengunjung bisa berangkat dari Dermaga Marina Ancol. Namun, tarifnya Rp 140.000 pada hari biasa dan Rp 160.000 saat akhir pekan.

Informasi yang minim dan infrastruktur transportasi yang kurang memadai ke Pulau Tidung diakui Bupati Kepulauan Seribu Tri Djoko Margianto.

”Seharusnya kapal-kapal dari Kali Adem tetap bisa beroperasi. Harus ada antisipasi bila APBD terhambat,” katanya.

Menurut Tri Djoko, pihaknya kini sedang mempersiapkan sistem informasi manajemen kapal penumpang yang baik serta sistem keamanan dan kenyamanan penumpangnya terjamin.

Tak hanya masalah dermaga, bahan bakar untuk kapal pun belum tersedia di Pulau Tidung. Menurut awak salah satu ojek, Boya, kebutuhan BBM kapal dipenuhi dari Jakarta. Karena tak bisa beli dalam jumlah banyak, awak kapal terpaksa membayar uang lebih kepada seseorang yang memiliki akses membeli solar di Muara Angke.

Harga 1 liter solar yang normalnya Rp 6.400 dibeli seharga Rp 9.000. Satu kapal memerlukan 330 liter solar untuk rute pergi-pulang Muara Angke-Pulau Tidung.

Leman (45), awak kapal lain, mengatakan, mereka telah mengusulkan kepada pemerintah daerah agar disediakan SPBU di Pulau Tidung. Namun, usulan itu belum berbalas. Menurut Camat Kepulauan Seribu Selatan Arief Wibowo, berdasarkan informasi yang dia terima, belum ada keuntungan secara ekonomis dengan membuka SPBU di Pulau Tidung.

”Lokasinya juga tidak tahu mau ditaruh di mana. Bagi warga, yang penting ada BBM. Soal harga mahal, tidak terlalu dipersoalkan,” ujarnya. (Madina Nusrat/Fransisca Romana Ninik)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.