Kompas.com - 02/04/2015, 09:20 WIB
Personel satu grup Rabbani Wahed Pante Rheng Samalanga, Bireuen sedang mengikuti latihan rutin. KOMPAS.COM/DESI SAFNITA SAIFANPersonel satu grup Rabbani Wahed Pante Rheng Samalanga, Bireuen sedang mengikuti latihan rutin.
|
EditorI Made Asdhiana
BIREUEN, KOMPAS.com - Tarian Rabbani Wahid, kini tak hanya milik masyarakat Desa Pante Rheng, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, namun juga sudah menjadi tarian daerah yang dikenal luas hingga mancanegara. Demikian penjelasan pimpinan sanggar Tari Rabbani Wahid, Muzakkir Zulkifli, dalam seminar bertajuk "Rabbani Wahid Event In Show 2015", Rabu (1/4/2015), di Aula Setdakab lama Bireuen.

Sejarah mencatat, Desa Pante Rheng -- dulunya dikenal meunasah -- merupakan daerah asal mula tarian ini lahir. Dulunya, pernah di bawah besutan almarhum Ridwan Ahmad, puluhan pemuda dididik untuk menguasai tarian bernapaskan Islami tersebut. ”Bahkan pada masa konflik Aceh dan berstatus darurat militer, seni itu tetap hidup. Bila didaerah lain DM-nya jam 6 sore, di Pante Rheng bisa jam 9 malam,” ungkap Muzakkir menyakini DM di Aceh tidak mengganggu bangkitnya seni dimaksud.

Kegigihan dan keseriusan para pemuda untuk terus berlatih tak sia-sia. Buktinya, Tari Rabbani Wahid kian dikenal tak hanya seantero nusantara tapi juga mancanegara. Beberapa kali mereka tampil seperti di Malaysia, Singapura maupun Turki pada rentang Aceh sebelum damai seperti saat ini.

KOMPAS.COM/DESI SAFNITA SAIFAN Seminar Tari Rabbani Wahid digelar Lembaga Rangkang Sastra Bireuen sebagai suatu kesenian khas Kabupaten Bireuen, Aceh, yang perlu penyelamatan dan pengembangan agar menjadi budaya daerah yang dikenal.
Muzakkir menambahkan, tongkat estafet pembina pun berganti hingga sebelum dirinya, sempat di bawah kepemimpinan M Kasem Ahmad. Baru pada 2013 Muzakir dipercaya untuk melanjutkan tongkat estafet guna menggenjot kesenian daerah Bireuen ini untuk lebih dikenal.

”Sebelumnya banyak masyarakat Bireuen tidak familiar dengan Rabbani Wahid. Ke depannya kita berharap melalui Dinas Pendidikan agar tari ini menjadi kegiatan ekstra kurikuler seni di sekolah-sekolah di Kabupaten Bireuen,” katanya.

Belajar dari Tari Saman dan Seudati yang sama-sama sudah mendunia, Muzakkir berharap suatu saat Rabbani Wahid juga memiliki pesona dan menempatkannya sebagai tarian yang dikenal luas oleh masyarakat dunia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.