Kaldera Itu Bukti Kengerian Letusan yang Mengubah Dunia

Kompas.com - 07/04/2015, 15:30 WIB
Gugusan bintang terlihat dengan latar depan bibir kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (23/3/2015). Kaldera memiliki luas diameter 7 kilometer yang terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOGugusan bintang terlihat dengan latar depan bibir kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (23/3/2015). Kaldera memiliki luas diameter 7 kilometer yang terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F

Kaldera nan luas

Kini, memandang kaldera Tambora di depan mata, napas kembali terhela dengan kepala sedikit menunduk. Sepasang mata tak cukup untuk memandangi seluruh bagian kawah yang pernah menggemparkan dunia tersebut.

“Besar banget. Bayangkan hampir 7 kilometer diameternya,” ujar Kristianto Purnomo, fotografer Kompas.com yang tergabung dalam ekspedisi tersebut.

Dengan diameter sepanjang itu, jika ditempuh oleh kendaraan bermotor dengan kecepatan 20 kilometer per jam, maka memerlukan waktu sekitar 3 menit. Sementara kedalaman dasar kaldera diperkirakan mencapai 1 kilometer. Fikria Hidayat, salah satu anggota tim ekspedisi yang pernah turun ke dasar kaldera, mengatakan perlu waktu hingga 8 jam perjalanan dengan beberapa bagian medan yang sangat curam.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Lanskap kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (23/3/2015). Kaldera Gunung Tambora memiliki diameter 7 km dan kedalaman 1 km. Kaldera terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815.
Dari bibir kaldera, menghadap barat laut, gugusan Pulau Moyo dan Pulau Satonda tampak di depan mata. Di sebelah utara dari titik akhir pendakian lewat Doro Ncanga, Anton menunjuk jalur pendakian lain yang melewati Desa Kawinda Toi, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima.

Sementara di ujung sisi barat, terdapat jalur pendakian melewati Desa Pancasila. Di arah timur, masih ada lagi jalur pendakian yaitu melewati Desa Sanggar.

Asap tipis mengepul di sisi barat laut dasar kaldera. Diikuti juga dengan awan-awan yang tipis ketika berada di bibir kaldera. Selepas tahun 1815, sang Tambora berupsi kembali, tetapi dengan skala yang jauh lebih kecil.

Tercatat pada 1819, selama 1847-1913 yang membentuk kerucut Doro Afi Toi, dan terakhir kali pada 1967. Anak gunung yang baru terbentuk tak dapat terlihat dari bibir kaldera jalur Doro Ncanga. Jika dilihat dari jalur Pancasila, Doro Afi Toi dapat terlihat. Tambora tidak benar-benar mati. Ia hanya tertidur sebentar. Seakan menanti waktu untuk terbangun dan kembali menunjukkan kedahsyatannya. (bersambung)

Ikuti kisah perjalanan "Ekspedisi Alam Liar'' dari tim Kompas.com saat menjelajahi Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat pada 18-25 Maret 2015 dalam liputan khusus "Ekspedisi Alam Liar".

Halaman:
Baca tentang


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X