Kompas.com - 08/04/2015, 10:02 WIB
Matahari terbit dari belakang kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (23/3/2015). Kaldera memiliki luas diameter 7 kilometer yang terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOMatahari terbit dari belakang kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (23/3/2015). Kaldera memiliki luas diameter 7 kilometer yang terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F
KOMPAS.com - Angin bertiup pelan membelai punggung Gunung Tambora ketika tim "Ekspedisi Alam Liar" dari Kompas.com "bercumbu" dengan bibir kaldera. Malam semakin riuh ramai dengan kehadiran bintang-bintang yang menyesaki langit. Tim ekspedisi menutup hari dengan beristirahat di lima meter ke arah selatan dari bibir kaldera, Minggu (22/3/2015).

“Besok kita bangun pagi. Dokumentasi sunrise,” ucap Kristianto Purnomo, fotografer di dalam tenda.

Malam itu, kami puas melihat hamparan bintang di gugusan bima sakti. Keesokan pagi, pancaran matahari di ufuk timur menjadi target bidikan lensa kami.

Bunyi alarm berdering memenuhi tenda yang berkapasitas untuk 3-4 orang. Jam telah menunjukkan pukul 04.50 WITA, pertanda sang fajar segera datang. Kami bergegas membawa alat-alat dokumentasi. Peralatan masak dan logistik juga dibawa ke bibir kawah untuk menemani pagi yang indah berbalut angin dingin yang membalur kulit.

Dari tempat kemah tim, bibir kaldera dapat dicapai dengan trekking hanya 3 menit. Langit masih gelap dan bintang-bintang pun masih kerlap-kerlip menyala. Kami segera mencari sudut terbaik untuk membuat timelapse matahari terbit. Tripod dan kamera dipasang dekat Puncak Doro Ncanga yang berjarak hanya 15 menit dari tempat kami berdiri. Para porter tak mau ketinggalan untuk menikmati sang raja siang yang bersiap menuju singgasanannya.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Matahari terbenam di kawasan bibir kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Minggu (22/3/2015). Kaldera memiliki luas diameter 7 kilometer yang terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815.

“Mau ke puncak Doro Ncanga, Mas? Tapi agak hati-hati. Rawan terpeleset,” kata Anton, sang porter yang menemani tim ekspedisi.

Puncak Doro Ncanga memang menggiurkan untuk didaki. Namun, karena masih terlalu gelap, tim urung menggapai puncak tersebut. Kami masih setia menunggu sang fajar di bibir kaldera dengan ditemani segelas kopi dan makanan ringan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semburat merah mulai muncul di ufuk timur. Bayang-bayang hitam pepohonan mulai tampak di kejauhan. Gurat-gurat awan juga mulai terlukis di langit.Memori nestapa bergulir ketika bagaimana sehari setelah letusan Tambora menggulir. Penderitaan yang mengerikan bertaburan di tanah Sumbawa.

Letusan dua ratus tahun yang lalu itu tak hanya dirasakan di bumi nusantara, tetapi bahkan sejauh sampai ke daratan Eropa. Setahun setelah meletusnya Tambora, masyarakat dunia barat mengenalnya sebagai tahun tanpa musim panas yang menyebabkan gagal panen.

KRISTIANTO PURNOMO Lanskap kaldera Gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (23/3/2015). Kaldera Gunung Tambora memiliki diameter 7 km dan kedalaman 1 km. Kaldera terbentuk akibat letusan dahsyat pada tahun 1815.
Hidup tanpa hadirnya matahari, hujan turun tanpa henti hingga hanya meringkuk di dalam rumah. Keindahan fajar pagi hari sudah tentu tak dapat dinikmati masyarakat korban letusan yang selamat. Bukan seperti kami yang saat ini tersenyum sumringah melihat sang fajar.

Dirgantara telah terang. Setangkup matahari telah menyinari dan menghangatkan tanah Sumbawa. Kaldera yang berdiameter hampir 7 kilometer mulai terungkap. Asap-asap putih mengepul dari kaki kaldera menandakan gunung masih aktif.

Kemegahan kaldera Tambora berhasil menyihir pandangan kami. Setelah bersusah payah menembus jalur pendakian, tim berhasil mencapai puncak. Keindahan matahari terbit di Gunung Tambora membawa kami ke dalam perasaan kagum bercampur haru. (bersambung)

Ikuti kisah perjalanan "Ekspedisi Alam Liar'' dari tim Kompas.com saat menjelajahi Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat pada 18-25 Maret 2015 dalam liputan khusus "Ekspedisi Alam Liar".

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kitagawa Pesona Bali, Tempat Wisata Bernuansa Pulau Dewata di Wonogiri

Kitagawa Pesona Bali, Tempat Wisata Bernuansa Pulau Dewata di Wonogiri

Jalan Jalan
Ancol Belum Terima Wisatawan Usia di Bawah 12 Tahun Saat Libur Maulid

Ancol Belum Terima Wisatawan Usia di Bawah 12 Tahun Saat Libur Maulid

Travel Update
Wisatawan di Bantul Diharapkan Tunjukkan Kartu Vaksin Jika Susah Akses PeduliLindungi

Wisatawan di Bantul Diharapkan Tunjukkan Kartu Vaksin Jika Susah Akses PeduliLindungi

Travel Update
Dari Sejarah hingga Budaya, Temukan 4 Kegiatan Harmonis di Desa Wisata Kampung Majapahit

Dari Sejarah hingga Budaya, Temukan 4 Kegiatan Harmonis di Desa Wisata Kampung Majapahit

Jalan Jalan
Syarat Terbaru Naik Pesawat, Wajib Tes PCR walau Divaksin Dosis Lengkap

Syarat Terbaru Naik Pesawat, Wajib Tes PCR walau Divaksin Dosis Lengkap

Travel Update
DAMRI Buka Rute Baru untuk Perjalanan Yogyakarta-Jakarta PP

DAMRI Buka Rute Baru untuk Perjalanan Yogyakarta-Jakarta PP

Travel Update
Turis Asing Wajib Punya Asuransi Rp 1,4 Miliar Dirasa Berat, Ini Tanggapan Sandiaga

Turis Asing Wajib Punya Asuransi Rp 1,4 Miliar Dirasa Berat, Ini Tanggapan Sandiaga

Travel Update
Harga Paket Karantina di Hotel untuk Turis Asing di Bali Masih Digodok

Harga Paket Karantina di Hotel untuk Turis Asing di Bali Masih Digodok

Travel Update
Turun ke PPKM Level 2, Wisata Yogyakarta Boleh Buka dengan Syarat

Turun ke PPKM Level 2, Wisata Yogyakarta Boleh Buka dengan Syarat

Travel Update
Ada Rencana Sambutan untuk Turis Asing Pertama yang Tiba di Bali

Ada Rencana Sambutan untuk Turis Asing Pertama yang Tiba di Bali

Travel Update
Penerbangan Reguler dari Luar Negeri ke Bali Masih Sepi, Kemenparekraf Gencarkan Promosi

Penerbangan Reguler dari Luar Negeri ke Bali Masih Sepi, Kemenparekraf Gencarkan Promosi

Travel Update
Ganjil Genap Diterapkan di Puncak dan Sentul Bogor, Antisipasi Libur Nasional.

Ganjil Genap Diterapkan di Puncak dan Sentul Bogor, Antisipasi Libur Nasional.

Travel Update
PPKM Level 2, Sebagian Besar Wisata Gunungkidul Siap Dikunjungi

PPKM Level 2, Sebagian Besar Wisata Gunungkidul Siap Dikunjungi

Travel Update
Sandiaga Angkat Bicara Soal Bali yang Masih Sepi Turis Asing

Sandiaga Angkat Bicara Soal Bali yang Masih Sepi Turis Asing

Travel Update
Hanya Turis Asing Berpaspor dari 19 Negara yang Bisa Langsung ke Bali dan Kepri

Hanya Turis Asing Berpaspor dari 19 Negara yang Bisa Langsung ke Bali dan Kepri

Travel Update

Video Pilihan

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.