Kompas.com - 11/04/2015, 23:44 WIB
EditorI Made Asdhiana
BANDA NEIRA, KOMPAS.com - Kota Banda Neira di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku di mata bangsa Eropa memang spesial. Gara-gara rempah-rempah, bangsa Spanyol, Portugis, Belanda sampai Inggris berlomba-berlomba mengarungi samudera, menempuh jarak ribuan kilometer pada tahun 1600-an demi menguasai hasil bumi Banda Neira untuk dijual di Eropa.

Kini, sisa-sisa peninggalan mereka masih bisa dilihat di Banda Neira berupa benteng, istana sampai peralatan perang pada abad 17 tersebut. Selain penghasil rempah-rempah, ternyata Banda Neira yang ditempuh dari Ambon selama 5 jam dengan kapal cepat dan satu jam menggunakan pesawat itu memiliki alam yang indah dan memesona.

Inilah yang melatarbelakangi PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) melakukan survei di Banda Neira sejak Senin (6/4/2015) hingga Rabu (8/4/2015) untuk melihat langsung potensi pariwisata Banda Neira sebelum dijadikan paket wisata PT Pelni.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Wisatawan domestik dan luar negeri turun dari kapal Express Bahari 2B di Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Senin (6/4/2015). Express Bahari 2B melayani Rute Ambon-Banda Neira setiap Senin, Rabu dan Jumat.
Dalam pertemuan antara jajaran PT Pelni dengan para pelaku pariwisata membahas Paket Perjalanan Wisata PT Pelni, "Let's Go Banda Neira" di Hotel Maulana, Senin (6/4/2015) malam, Elfien Goentoro, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelni mengemukakan, pihaknya ingin terlibat langsung untuk mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi ke Indonesia.

Menurut Elfien, langkah Pelni ini terkait dengan target pemerintah mendatangkan 20 juta wisman sampai 2019. "Pelni memiliki aksesibilitas dan hotel terapung. Ada tujuh lokasi yang akan digarap Pelni termasuk Banda Neira untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke destinasi wisata tersebut," katanya.

Untuk itu, sambung Elfien, Pelni sudah menyiapkan tiga kapal yakni KM Tidar, KM Kelud dan KM Tatamailau untuk keperluan pariwisata ke daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau wisatawan karena alasan biaya dan kesulitan penginapan.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Pulau Gunung Api di Banda Neira, Maluku, Senin (6/4/2015).
"Dalam setahun Pelni memiliki 23 frekuensi atau voyage, di mana satu frekuensi ditujukan untuk tujuan wisata bahari. Akses dan hotel terapung adalah kelebihan Pelni," kata Elfien.

Di Wakatobi dan Raja Ampat, lanjut Elfien, Pelni memiliki paket wisata yang didalamnya berisi kegiatan bersepeda, mancing, sosbud, mengunjungi bangunan bersejarah dan membeli suvenir.

"Segmen tamu tak hanya diving, juga ada sepeda. Ke depan kemungkinan mengajak para fotografer dan blogger. Selama ini akses ke Ambon, Wakatobi, dan Raja Ampat kan susah," katanya.

Sementara, Cahyono selaku Senior Manager BBM dan Pelumas PT Pelni dalam pemaparan "Let's Go Banda Neira" menjelaskan Pelni ingin mengubah wacana. "Dulu (Pelni) hanya sebatas mengangkut penumpang dan barang. Sekarang Pelni terjun ke pariwisata. Wisatawan pengguna Pelni bisa menikmati jogging track, gym di kapal serta tidur nyenyak, makan enak, mandi dan sampai tujuan," katanya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.