Secangkir Kopi Tambora

Kompas.com - 13/04/2015, 11:45 WIB
Kopi tambora disangrai hingga kecoklatan. KOMPAS/SUSI IVVATYKopi tambora disangrai hingga kecoklatan.
EditorI Made Asdhiana
RASANYA semua orang sedang memburu Tambora. Tiket pesawat menuju Bima seperti barang langka. Mau tak mau, perjalanan harus ditempuh lewat‎ darat dan kemudian menyeberang laut. Ironisnya, itu bermula dari Bandara Internasional Lombok.

Satu kabar terngiang-ngiang di kepala: ada festival kopi di Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Maka dimulailah perjalanan panjang dan melelahkan. Namun, terus terang ini sedikit membahagiakan. Kabar festival kopi di desa kecil itu bikin penasaran. Sebagai penggemar kopi, saya ingin segera mencicipi rasa kopi tambora!

Perjalanan fase pertama dari Bandara Lombok di Lombok Tengah ke pelabuhan laut Kayangan, Lombok ‎Timur memakan waktu selama 4 jam dengan mobil sewaan. Bersama rombongan panitia World Cultural Forum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kami hanya berhenti sejenak di daerah Selong untuk membeli beberapa ikat rambutan dan tiga buah durian.

KOMPAS/SUSI IVVATY Pulau Satonda dilihat dari Pelabuhan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Fase kedua ditempuh selama 2 jam dengan kapal feri Mutiara Pertiwi menuju pelabuhan Pototano di Sumbawa Barat. Kami membelah laut lepas di tengah teriknya ‎matahari, hilir mudik menelusuri sudut-sudut kapal karena tidak kebagian tempat duduk. Kami melihat empat lelaki berbagi nasi dengan lauk tahu dan ayam kecap di geladak belakang‎.

Perjalanan fase ketiga, kami serasa membelah Pulau Sumbawa, melewati Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, Dompu, lalu Bima. Beruntung, pemandangan di sepanjang perjalanan memberi asupan gizi bagi mata. Panorama pantai Pulau Sumbawa menuguhkan warna biru laut yang beradu lalu menyatu biru langit dan bongkah-bongkah awan putih.

Sekitar sepuluh jam perjalanan kami tempuh sampai tiba di Desa Labuan Kenanga. Sepuluh jam yang melelahkan, yang dengan cepat berubah menjadi semangat setelah melihat gerombolan sapi, kerbau, dan kuda yang dengan santai berjalan di tengah jalan. Pak Nasir, sopir kami, harus beberapa kali mengerem karena di depan mobil tiba-tiba ada sapi, berdiri melintang, entah dari mana datangnya. Nyaris tak ada lampu penerangan sepanjang perjalanan.

Kami tiba tepat tengah malam.

KOMPAS/SUSI IVVATY Proses menyangrai kopi tambora dengan menggunakan bahan bakar arang.
”Festival” kopi tambora

Embusan angin pagi di tubir pantai Kenanga, Desa Labuhan Kenanga, terasa segar, menyapa penduduk yang mulai ramai menuju tempat pelelangan ikan di ujung sana. ‎Di satu sisi pantai, beberapa orang menyiapkan tungku atau anglo dengan bahan bakar arang, wajan atau penggorengan, dan butiran-butiran kopi yang hendak disangrai.

Festival kopi tambora yang dimaksud itu rupanya tak lain dari lomba meracik kopi, mulai dari menyangrai biji kopi hingga coklat kehitaman, menumbuknya hingga menjadi butiran halus, lantas menyeduhnya. Lomba yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bima ini memperebutkan hadiah antara lain ponsel, selimut, serta peralatan elektronik dan kebutuhan rumah tangga lain.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X