Kompas.com - 14/04/2015, 08:54 WIB
EditorI Made Asdhiana
Penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga dalam rangka memperingati 200 tahun meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa merupakan pintu masuk untuk mengembangkan pariwisata berbasis olahraga atau yang disebut wisata olahraga (sport tourism). Kegiatan olahraga di kawasan Gunung Tambora itu tidak hanya untuk memosisikan daerah tujuan wisata, tetapi juga membuka potensi daerah.

Peserta Tambora Bike 2015, kegiatan bersepeda dalam rangka 200 tahun meletusnya Gunung Tambora, misalnya, tak henti-hentinya mengabadikan diri dengan latar belakang panorama Sumbawa, terutama ketika mereka melintasi pinggiran Teluk Saleh dan padang sabana Doro Ncanga. Bahkan seorang peserta dari Jakarta berencana mengajak istri dan anaknya liburan ke Sumbawa, terutama ke Teluk Saleh.

”Saya juga akan mengajak keluarga saya ke Pulau Satonda yang ada danau air asinnya itu,” kata Adrian Rusmana (45), peserta Tambora Bike dari Jakarta, seusai Tambora Bike 2015 yang diselenggarakan pada 9-11 Agustus, sejauh 408 kilometer dari Mataram di Pulau Lombok berakhir di Doro Ncanga di kaki Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Tambora Bike merupakan salah satu acara yang dihelat Kompas bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB terkait dengan peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora. Kegiatan lain adalah Trans-Sumbawa 200 atau ultramaraton sejauh 320 kilometer dari Poto Tano di ujung barat Pulau Sumbawa hingga ke Doro Ncanga. Dalam acara bertajuk Tambora Challenge ini, Kompas dan Pemprov NTB juga menggelar Tambora Trail atau lari lintas alam dari Doro Ncanga ke arah puncak Tambora.

Olahraga dan wisata

Peserta mengapresiasi acara-acara itu karena kegiatan olahraga dan wisata dapat dikombinasikan dengan baik. Pemenang ultramaraton Trans-Sumbawa 200, Alan Maulana, misalnya, sangat bangga bisa mengikuti lomba lari 320 kilometer yang pertama kali diadakan di Indonesia. Apalagi ia jadi orang pertama yang mampu berlari sejauh 320 kilometer dari Pantai Poto ke Doro Ncanga yang melewati tempat-tempat eksotis.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Peserta Tambora Bike memasuki etape terakhir dari Pidang Sumbawa Besar menuju Dorocanga, Nusa Tenggara Barat, Barat, Sabtu (11/4/2015). Etape terakhir akan ditempuh sejauh lebih dari 120 kilometer.
”Lomba ini awal yang bagus untuk perkembangan olahraga lari,” kata Alan, yang memastikan diri akan ikut lagi jika ajang Trans-Sumbawa digelar lagi. Setelah berhasil di Sumbawa, dia pun bertekad menjajal di tempat lain. ”Indonesia masih punya banyak tempat indah untuk dijadikan rute lari,” katanya.

Hendra Wijaya, penggagas Trans-Sumbawa 200 sekaligus peserta, mengatakan, banyak pelari dari luar negeri yang sebenarnya berminat mengikuti lomba ini. Namun, mereka belum dapat berpartisipasi karena waktu persiapan pendek. ”Mungkin batas waktu 64 jam yang ditentukan terasa berat, pelari kesulitan menikmati pemandangan sekitar,” katanya.

Meskipun tidak mengikuti Trans-Sumbawa 200, beberapa pelari asing ikut dalam Tambora Trail Run. Pemenang putra kategori 42 kilometer lari lintas alam di lereng Gunung Tambora itu, Zachary Thomas, asal Amerika Serikat, senang karena dapat berlomba sekaligus membuktikan keindahan Tambora.

Joaquin Monserrate (48), peserta Tambora Bike yang juga Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Jawa Timur, pun senang dapat mengikuti acara tersebut. Meskipun sudah tidak asing lagi dengan NTB karena merupakan wilayah kerjanya, Joaquin tetap ingin menikmati keindahan Sumbawa. Dia juga ingin mengenal lebih dalam potensi daerah. Dia tahu, Dompu, misalnya, terkenal dengan mete yang dapat dikembangkan lagi.

Jakob Bader (53), peserta Tambora Bike dari Swiss, juga menikmati alam NTB, terutama Sumbawa, meskipun hampir sepanjang perjalanan matahari bersinar terik.

KOMPAS/SUSI IVVATY Pulau Satonda dilihat dari Pelabuhan Kenanga, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB Andy Hadianto, Minggu (12/4), mengatakan, wisata olahraga adalah salah satu upaya andalan NTB untuk mengundang kedatangan wisatawan ke daerah kepulauan. Kekayaan alam yang dimiliki NTB menjadi modal utama bagi KONI dan pemerintah daerah menyelenggarakan wisata olahraga.

”Selain menggenjot prestasi olahraga, KONI juga berupaya mengemas olahraga-olahraga prestasi itu agar bisa mendatangkan wisatawan,” ujar Andy. (DEN/REK/IKA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.