Kompas.com - 15/04/2015, 11:53 WIB
EditorI Made Asdhiana

Amiruddin rutin menjelajahi kaki dan lereng Tambora dengan hardtop saat musim berburu rusa tiba, yakni sepanjang bulan Mei-November. ”Rata-rata, yang membuka jalur di Tambora adalah hardtop yang dipakai untuk berburu. Segala medan bisa diterabas dengan kendaraan ini ini,” ujarnya.

Selama periode berburu itu, Amiruddin bisa dua kali seminggu naik ke Tambora bersama minimal lima orang rekannya dalam satu mobil. ”Supaya aman di perjalanan dan untuk berjaga-jaga jika ada masalah pada mobil,” katanya.

Di luar hobi berburu, Amiruddin juga kerap memakai hardtop-nya untuk keperluan profesional. Ia banyak mengerjakan proyek-proyek konstruksi di wilayah pedalaman Sumbawa yang sulit diakses kendaraan berat.

”Jadi hardtop itu yang saya pakai untuk mengangkut material proyek,” katanya.

Lain lagi dengan Yuhasmin (54), pemilik hardtop tahun 1982 dan penggemar otomotif di Dompu. Yuhasmin yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Dompu, juga kerap menjadi penggerak event-event off-road di kabupaten tersebut.

Minimal sebulan sekali Yuhasmin jalan ke Tambora dengan hardtop tipe 2F bermesin 4.200 cc miliknya itu untuk berburu rusa. ”Saya mulai pakai jip ini tahun 2000-an dan sudah berburu hampir di seluruh Pulau Sumbawa,” kata pria yang juga penggemar motor trail itu.

Menurut Yuhasmin, kendaraan itu paling cocok untuk medan Tambora karena sasis dan sumbu roda yang relatif lebih pendek ketimbang jenis kendaraan 4X4 lainnya. Kontur jalur di Tambora banyak memiliki patahan dalam yang akan mengandaskan mobil bersumbu roda panjang.

Namanya melahap medan keras, setiap perjalanan off-road pasti berdampak pada kondisi mobil. Amiruddin, contohnya, harus menyiapkan setidaknya Rp 400.000 untuk servis ringan mobil setiap kali pulang berburu. Biaya servis itu bisa membengkak berkali-kali lipat jika terjadi kerusakan parah pada mobil, misalnya patah gardan.

Disewakan

Menurut Yuhasmin, biaya perawatan dan operasional hardtopnya itu bisa mencapai Rp 4 juta-Rp 6 juta per bulan. Biaya perawatan yang tidak sedikit ini yang mendorong dirinya untuk mencari cara mendapatkan insentif baru untuk menutup kekurangan biaya.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.