Kompas.com - 17/04/2015, 18:17 WIB
EditorI Made Asdhiana
SIAPA bilang Indonesia kalah segalanya dari negara lain. Untuk yang satu ini, Indonesia harus berbangga. Banyak orang menyukai, bahkan rela jauh-jauh menyeberang samudra hanya untuk mendapatkannya, yakni menikmati kuliner asli Indonesia.

Saya selalu membutuhkan yang asli buatan Indonesia. Pemasok bahan saya dari Bandung dan setahu saya ia mengambilnya dari Jawa Timur. Tanpa itu, rasa masakan ada yang kurang,” ujar Bahar Riand Passa, direktur sekaligus pengelola bisnis keluarga Ayam Penyet Presiden di Singapura, awal April lalu.

Terasi dan petis. Dialah si kecil yang sekilas remeh, tetapi penting bagi kenikmatan cita rasa masakan Indonesia ala Bahar. Tanpa terasi dan petis Indonesia, ia tidak akan bisa menyajikan Ayam Penyet Presiden yang sudah dibangunnya sejak 2009. Kini, Ayam Penyet Presiden sudah buka di tiga tempat di Singapura, yaitu di kawasan Jalan Orchard, Serangoon, dan di Tampines.

Dalam sehari, satu restoran keluarga Bahar tersebut bisa dikunjungi 600-an konsumen, baik orang Indonesia yang berada di Malaysia maupun orang Singapura, serta orang AS dan Eropa. Tinggiya minat terhadap masakan Indonesia membuat Bahar berencana membuka cabang ayam penyet lagi tahun ini.

Jika masakan Indonesia ala Bahar mewakili era kekinian, ada juga masakan Indonesia yang sudah berkembang sejak tahun 1940-an di Singapura. Dialah sate Sudi Mampir milik Pak Johan, warga asli Klaten yang saat itu mengadu nasib di Singapura.

ARSIP DOYANKULINER.COM Sate ayam madura di Blok S, Jakarta Selatan.
Warung Sudi Mampir menyediakan sate ayam dan sate babat favorit orang Singapura. Warung tersebut kini diteruskan oleh anaknya, Pak Gunawan (65). Lokasinya berada di food court Jalan Haig, Singapura. Warung ini buka pukul 10.30-17.00 waktu setempat (Rabu dan Kamis tutup). Namun, biasanya pukul 15.00 WIB, sate sebanyak 3.000-an tusuk yang dibawa Pak Gunawan sudah ludes terjual.

”Masakan Indonesia itu luar biasa. Rasanya sangat nikmat sehingga banyak orang suka, mulai dari warga biasa hingga penghuni istana,” ujar Gunawan menceritakan kisah sate Sudi Mampir yang pernah menjadi suguhan di istana negara Singapura.

Jika Bahar dan Gunawan adalah pelaku usaha kuliner Indonesia berdarah Indonesia, lain halnya dengan Fiona (55). Ia adalah warga Singapura tetapi pencinta sejati masakan Indonesia. Mulai tahun 2000, ia membuka rumah makan masakan Indonesia Cumi Bali di daerah Tanjong Pagar.

Fiona menjual menu di antaranya lodeh, tahu tempe balado, sate, rendang, tahu telor, ikan asam pedas, es cendol, dan bubur ketan hitam. Ia yang dibantu dua koki asal Indonesia (Padang dan Bintan) berusaha menyuguhkan aneka masakan khas Indonesia dengan cita rasa asli.

”Untuk mendapatkan rasa otentik, saya harus mendapatkan gula jawa dari Indonesia. Gula merah di sini berbeda, tidak memberikan rasa nikmat seperti gula jawa dari Indonesia. Untuk bumbu lain, saya bisa dapatkan dari Singapura atau Batam,” ujar Fiona.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Unik, Ada Lukisan Sawah Bung Karno di Bergas Lor Kabupaten Semarang

Unik, Ada Lukisan Sawah Bung Karno di Bergas Lor Kabupaten Semarang

Travel Update
Rute ke Bandara Adi Soemarmo yang Ternyata Bukan di Kota Solo

Rute ke Bandara Adi Soemarmo yang Ternyata Bukan di Kota Solo

Travel Tips
Batik Air Resmikan Rute Medan Kualanamu-Singapura Mulai 1 Juli 2022

Batik Air Resmikan Rute Medan Kualanamu-Singapura Mulai 1 Juli 2022

Travel Update
Candi Plaosan, Saksi Cinta Beda Agama di Desa Wisata Bugisan Jateng

Candi Plaosan, Saksi Cinta Beda Agama di Desa Wisata Bugisan Jateng

Jalan Jalan
Mahalnya Tiket Pesawat Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Lombok Tengah

Mahalnya Tiket Pesawat Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Lombok Tengah

Travel Update
Piala Dunia 2026 Digelar di 3 Negara dan 16 Kota, Simak Stadionnya

Piala Dunia 2026 Digelar di 3 Negara dan 16 Kota, Simak Stadionnya

Jalan Jalan
Kapan Waktu Menyampaikan Ucapan Idul Adha? Jangan Sampai Telat

Kapan Waktu Menyampaikan Ucapan Idul Adha? Jangan Sampai Telat

Travel Tips
Mengenal Rumah Paling Terpencil di Dunia di Islandia

Mengenal Rumah Paling Terpencil di Dunia di Islandia

Jalan Jalan
Jangan Bawa Barang Saat Evakuasi Darurat dari Pesawat, Ini Alasannya

Jangan Bawa Barang Saat Evakuasi Darurat dari Pesawat, Ini Alasannya

Travel Tips
Kenapa Idul Adha Disebut Lebaran Haji? Simak Penjelasannya 

Kenapa Idul Adha Disebut Lebaran Haji? Simak Penjelasannya 

Jalan Jalan
147 Desa di Sikka NTT Diimbau Prioritaskan Sektor Pariwisata

147 Desa di Sikka NTT Diimbau Prioritaskan Sektor Pariwisata

Travel Update
10 Wisata Alam Subang, Bisa Dikunjungi Saat Hari Libur

10 Wisata Alam Subang, Bisa Dikunjungi Saat Hari Libur

Jalan Jalan
Wacana Biaya Kontribusi Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Wacana Biaya Kontribusi Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Travel Update
Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Travel Update
6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.