Kompas.com - 20/04/2015, 15:34 WIB
Menghindari Serangan. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOMenghindari Serangan.
EditorI Made Asdhiana

Nyale simbol anugerah leluhur. Setiap anggota keluarga, termasuk tamu yang menyantap nyale, diyakini akan mendapatkan rezeki, kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan di kemudian hari.

Nyale itu diyakini diundang oleh para rato satu pekan sebelum pasola digelar, melalui ritual khusus nyale di tepi pantai.

Jika ada warga yang sakit terbaring, nyale itu dioleskan pada bagian tubuh yang sakit. Jika penyakit itu buatan manusia atau tindakan kejahatan, akan hilang dengan sendirinya. Namun, penyakit itu terkait dengan medis tetap harus diobati di puskesmas atau di rumah sakit.

”Nyale dan pasola itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya simbol keharmonisan alam, rezeki, kesejahteraan, dan keselamatan. Tanpa nyale tidak boleh menggelar pasola atau sebaliknya. Nyale sebagai nyawanya pasola karena itu nyale digelar lebih awal. Setelah orang kenyang mengonsumsi nyale, mereka turun bergembira ria di lapangan saling melempar lembing satu sama lain,” kata Ngongo.

Berlaga di medan perang dengan menunggang kuda sambil melempar lembing ke arah lawan adalah simbol kecerdasan, kekuatan, dan ketahanan. Namun, pasola tidak berarti perang melawan musuh. Delapan suku yang berlaga dalam pasola itu adalah satu turunan, leluhur, mewakili warga Sumba Barat. Tidak ada musuh sesungguhnya. Pasola membangun karakter penyayang dan kedewasaan dalam berinteraksi antarsesama.

Wakil Bupati Sumba Barat Reko Detta, ketika membuka pasola di lapangan Wanokaka bersama para rato, mengatakan, budaya nyale dan pasola sebagai obyek wisata yang tidak boleh dilupakan. Masyarakat Wanokaka mewakili Sumba Barat, harus memberi penghargaan dan penghormatan terhadap tamu yang datang menyaksikan ritual adat itu.

Ia mengatakan, keaslian nyale dan pasola tetap dipertahankan. Itu merupakan budaya leluhur, yang harus dimiliki dan diajarkan kepada generasi muda, yang semakin lupa akan tradisi-tradisi asli Sumba.

Aiko (27), turis warga Jepang, mengatakan, penghormatan terhadap tamu dari luar hampir tidak ditemukan selama pelaksanaan nyale dan pasola. Oleh karena nyale dan pasola itu merupakan bagian dari kegiatan wisata, seharusnya tamu dari luar diberikan peran khusus sehingga mereka terlibat.

”Kalau turis dari luar itu diberikan kesempatan untuk bermain pasola, yakni menunggang kuda dan melempar lembing, tentu lebih menarik. Di sini banyak turis yang datang. Mereka dibagi dua kelompok, kemudian diberi kesempatan menunggang kuda dan melempar lembing. Jika itu terjadi, pasti lebih seru, daripada menonton mereka bermain sendiri selama lima jam, dari pukul 09.00 sampai pukul 14.00. Itu membosankan,” papar Aiko.

Aiko yang sedikit memahami bahasa Indonesia itu mengatakan, di lokasi pasola pun perlu disiapkan makanan dan minuman khusus untuk tamu. Panitia hanya menyediakan makanan dan minuman untuk pejabat daerah, tetapi turis yang datang dibiarkan kelaparan. Wisatawan semestinya dihargai pula.

Tak memanfaatkan

Masyarakat pun tak memanfaatkan peluang itu untuk mencari uang dengan menjual nasi atau jenis makanan lain, kecuali menjual air mineral. Padahal, warga yang datang menyaksikan tradisi nyale dan pasola itu mendekati 10.000 orang. Mereka adalah warga Sumba Barat ataupun wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Aiko mengatakan, semestinya di setiap tempat pasola digelar disiapkan penginapan sekalipun dari rumah penduduk. Banyak turis ingin tinggal di lokasi pasola, menyaksikan kehidupan warga Sumba, satu atau dua hari menjelang nyale dan pasola. Jika ada retribusi bagi penonton, pasola pun tetap dihormati oleh pengunjung asalkan mereka dilibatkan. (Kornelis Kewa Ama)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X