Kompas.com - 20/04/2015, 15:34 WIB
Warga Sumba, Nusa Tenggara Timur, mendatangi Pantai Wanokaka mencari cacing laut (nyale) sebagai simbol rezeki, kesejahteraan, dan keselamatan. KOMPAS/KORNELIS KEWA AMAWarga Sumba, Nusa Tenggara Timur, mendatangi Pantai Wanokaka mencari cacing laut (nyale) sebagai simbol rezeki, kesejahteraan, dan keselamatan.
EditorI Made Asdhiana
JARUM jam menunjukkan pukul 08.30 Wita, tetapi panas begitu menyengat. Ribuan peserta ritual nyale dan pasola dari dalam dan luar negeri, yang berhamburan di tepi Pantai Madidi Nyale, pun berhamburan mencari perteduhan. Penduduk asli Sumba Barat menenteng ember dan kantong plastik berisi nyale, cacing laut, simbol rezeki hidup, keselamatan, dan kesejahteraan.

Sementara para rato, tetua adat, berkumpul di bawah kaki bukit Madidi Nyale, membawakan ritual kepada leluhur, sebelum pasola digelar di lapangan terbuka.

Wisatawan dari sejumlah negara hadir di Pantai Madidi Nyale, Kecamatan Wanokaka, yang berjarak tak kurang dari 25 kilometer (km) dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka menyaksikan perburuan nyale, cacing laut, dan pasola atau perang tanding antara delapan suku di Wanokaka.

Sejumlah 24 pria dari delapan suku di daerah itu terbagi dalam dua kelompok, yakni suku Wanokaka atas sebanyak empat suku dengan jumlah anggota 12 pria. Suku di Wanokaka bawah, dengan jumlah anggota yang sama dengan suku dari Wanokaka atas.

Kepala Rato Wanokaka, Ngongo Detta, di Wanokaka, beberapa saat lalu, mengatakan, sebelum pasola digelar di lapangan terbuka berukuran 50 meter x 20 meter, tepatnya pukul 03.00 Wita, sebelum matahari terbit, delapan rato atau kepala suku dari delapan suku di Wanokaka berkumpul di bawah bukit Madidi Nyale. Di tengah kegelapan itu, mereka membawakan ritual, memanggil nyale.

Dua rato tertidur pulas di samping batu, yang diyakini sebagai raja. Jika ada mimpi aneh dari salah satu rato yang hadir, diceritakan seluruhnya, kemudian dibahas bersama, apakah mimpi itu pertanda sukses atau gagal dalam pelaksanaan pasola dan kehidupan masyarakat di masa depan. Pada pasola, 13 April yang lalu, Ngongo Detta bermimpi melihat sebuah padang rumput hijau. Mimpi itu pun diterjemahkan sebagai kesuburan dan kesuksesan akan dialami warga setempat.

Setiap suku membawa seekor ayam, ketupat, sirih pinang, dan dua tongkat (lembing), mewakili lembing pasola. Ayam itu pun didoakan oleh rato sebelum diserahkan kepada kepala rato. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, angka 2015, angka ganjil simbol keberanian. Adapun angka genap menjadi simbol kelemahlembutan.

Ayam yang dibawa pun lalu dipotong, dilihat hati, jantung, dan paru. Jika terdapat luka atau tanda aneh pada bagian tubuh pada salah satu ayam milik suku itu, mereka percaya akan ada luka atau kejadian aneh saat pasola berlangsung, yang menimpa peserta dari suku itu. Untuk menghilangkan ancaman itu, rato dari suku itu pun segera mengganti ayam, setelah memohon ampun dan bertobat.

Doa adat

Saat para rato mendaraskan doa adat, ribuan warga Sumba berhamburan di tepi pantai, mencari nyale. Pagi hari, sebelum pasola digelar, cacing-cacing itu meliuk-liuk di bibir pantai, di setiap kubangan air laut, dan permukaan air. Warga pun beramai-ramai menangkap cacing-cacing itu kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang disiapkan dari rumah. Makin banyak nyale, pertanda tahun itu mereka mengalami kesuburan dan kelimpahan hasil panen. Hari itu, nyale begitu banyak ditemukan warga.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Menghindari Serangan.
Nyale simbol anugerah leluhur. Setiap anggota keluarga, termasuk tamu yang menyantap nyale, diyakini akan mendapatkan rezeki, kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan di kemudian hari.

Nyale itu diyakini diundang oleh para rato satu pekan sebelum pasola digelar, melalui ritual khusus nyale di tepi pantai.

Jika ada warga yang sakit terbaring, nyale itu dioleskan pada bagian tubuh yang sakit. Jika penyakit itu buatan manusia atau tindakan kejahatan, akan hilang dengan sendirinya. Namun, penyakit itu terkait dengan medis tetap harus diobati di puskesmas atau di rumah sakit.

”Nyale dan pasola itu tidak bisa dipisahkan. Keduanya simbol keharmonisan alam, rezeki, kesejahteraan, dan keselamatan. Tanpa nyale tidak boleh menggelar pasola atau sebaliknya. Nyale sebagai nyawanya pasola karena itu nyale digelar lebih awal. Setelah orang kenyang mengonsumsi nyale, mereka turun bergembira ria di lapangan saling melempar lembing satu sama lain,” kata Ngongo.

Berlaga di medan perang dengan menunggang kuda sambil melempar lembing ke arah lawan adalah simbol kecerdasan, kekuatan, dan ketahanan. Namun, pasola tidak berarti perang melawan musuh. Delapan suku yang berlaga dalam pasola itu adalah satu turunan, leluhur, mewakili warga Sumba Barat. Tidak ada musuh sesungguhnya. Pasola membangun karakter penyayang dan kedewasaan dalam berinteraksi antarsesama.

Wakil Bupati Sumba Barat Reko Detta, ketika membuka pasola di lapangan Wanokaka bersama para rato, mengatakan, budaya nyale dan pasola sebagai obyek wisata yang tidak boleh dilupakan. Masyarakat Wanokaka mewakili Sumba Barat, harus memberi penghargaan dan penghormatan terhadap tamu yang datang menyaksikan ritual adat itu.

Ia mengatakan, keaslian nyale dan pasola tetap dipertahankan. Itu merupakan budaya leluhur, yang harus dimiliki dan diajarkan kepada generasi muda, yang semakin lupa akan tradisi-tradisi asli Sumba.

Aiko (27), turis warga Jepang, mengatakan, penghormatan terhadap tamu dari luar hampir tidak ditemukan selama pelaksanaan nyale dan pasola. Oleh karena nyale dan pasola itu merupakan bagian dari kegiatan wisata, seharusnya tamu dari luar diberikan peran khusus sehingga mereka terlibat.

”Kalau turis dari luar itu diberikan kesempatan untuk bermain pasola, yakni menunggang kuda dan melempar lembing, tentu lebih menarik. Di sini banyak turis yang datang. Mereka dibagi dua kelompok, kemudian diberi kesempatan menunggang kuda dan melempar lembing. Jika itu terjadi, pasti lebih seru, daripada menonton mereka bermain sendiri selama lima jam, dari pukul 09.00 sampai pukul 14.00. Itu membosankan,” papar Aiko.

Aiko yang sedikit memahami bahasa Indonesia itu mengatakan, di lokasi pasola pun perlu disiapkan makanan dan minuman khusus untuk tamu. Panitia hanya menyediakan makanan dan minuman untuk pejabat daerah, tetapi turis yang datang dibiarkan kelaparan. Wisatawan semestinya dihargai pula.

Tak memanfaatkan

Masyarakat pun tak memanfaatkan peluang itu untuk mencari uang dengan menjual nasi atau jenis makanan lain, kecuali menjual air mineral. Padahal, warga yang datang menyaksikan tradisi nyale dan pasola itu mendekati 10.000 orang. Mereka adalah warga Sumba Barat ataupun wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Aiko mengatakan, semestinya di setiap tempat pasola digelar disiapkan penginapan sekalipun dari rumah penduduk. Banyak turis ingin tinggal di lokasi pasola, menyaksikan kehidupan warga Sumba, satu atau dua hari menjelang nyale dan pasola. Jika ada retribusi bagi penonton, pasola pun tetap dihormati oleh pengunjung asalkan mereka dilibatkan. (Kornelis Kewa Ama)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X