Kompas.com - 20/04/2015, 17:03 WIB
Sejumlah penari menyajikan sendratari atau drama tari Mihing Manasa, salah satu legenda suku Dayak, di halaman Museum Balanga, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (28/3/2015) malam. Sendratari itu digelar untuk melestarikan kebudayaan lokal dan mempromosikan pariwisata budaya di Kalteng. KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONOSejumlah penari menyajikan sendratari atau drama tari Mihing Manasa, salah satu legenda suku Dayak, di halaman Museum Balanga, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (28/3/2015) malam. Sendratari itu digelar untuk melestarikan kebudayaan lokal dan mempromosikan pariwisata budaya di Kalteng.
EditorI Made Asdhiana
ALUNAN suara suling balawung melengking memecah heningnya malam seraya mengawali sendratari kolosal Dayak, Mihing Manasa. Sesosok perempuan beruban berjalan terbungkuk menggunakan tongkat. Suaranya yang parau dari bibirnya yang keriput terdengar memanggil-manggil Bowak, anaknya.

Konon dikisahkan, Bowak dan masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Kahayan, Desa Tumbang Danau, kini masuk wilayah Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah (Kalteng), hidup dalam keterbatasan dan serba berkekurangan.

Suasana gelap dan penderitaan itu diilustrasikan melalui gerakan perlahan dan berat oleh enam penari putri. Rintihan dan tatapan mata yang kosong juga melengkapi tarian awal pembuka drama tari berdurasi 60 menit itu. Mereka pun sama-sama mencari sosok Bowak, pemuda yang ulet dan rajin bekerja, tapi tiba-tiba menghilang dari desa.

Selama menunggu kehadiran Bowak, warga masyarakat tetap bekerja untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari dengan berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Kedekatan suku Dayak dengan alam terutama hutan dan sungai ditarikan dengan gerakan berburu, seperti memanah, menyumpit, serta menombak, oleh para penari putra.

Beberapa saat kemudian, iringan musik semakin cepat. Sorot lampu panggung semakin terang dan cahayanya berputar lincah. Bowak yang telah lama menghilang datang dari kahyangan atau disebut lewutelu dengan membawa sebuah mihing, yaitu alat ajaib pengumpul harta.

Sebelumnya, para dewa di kahyangan membawa Bowak dari bumi karena tertarik keuletan bekerjanya. Selama di kahyangan, para dewa menguji keuletan dan ketangkasannya. Dengan segera, Bowak disegani di kahyangan karena berhasil berburu burung tingang dan ikan lele dalam jumlah banyak. Selama di kahyangan itulah Bowak melihat bagaimana cara dewa-dewa membuat mihing yang terbuat dari kayu, bambu, rotan, batu, dan tanaman merambat.

Sekembalinya dari kahyangan, mihing buatan Bowak berhasil mendatangkan banyak harta berupa emas dan intan. Bowak membagikan semua harta itu kepada masyarakat. Akan tetapi, harta kekayaan yang datang ke dalam mihing Bowak itu ternyata berasal dari kahyangan sehingga murkalah Raja Intan Tunggal Sahawung. Perang adu ketangkasan antara sang raja dan Bowak pun terjadi.

Raja Intan Tunggul Sahawung lalu mengutuk mihing itu menjadi alat penangkap ikan. Meski demikian, ikan-ikan yang ditangkap dari mihing tetap berlimpah dan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. ”Bowak adalah tokoh inspiratif yang mengabdikan dirinya bagi masyarakat sekitar,” kata Sutradara Sendratari Mihing Manasa Arbendi I Tue yang juga memerankan tokoh Bowak.

Drama tari yang dipentaskan oleh 45 penari dan 10 pemusik itu digelar Sabtu (28/3) malam di halaman Museum Balanga, Palangkaraya, Kalteng, dan berhasil menyedot 300-an penonton. Para penari dari berbagai usia, yang paling muda berusia 4 tahun hingga 30-an tahun.

Pada 25 April 2014, sendratari kolosal Tambun dan Bungai juga digelar di Palangkaraya. Pergelaran itu diinisiasi Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Palangkaraya dan para pelaku usaha bidang perhotelan. ”Kami berencana membuat pergelaran setiap tiga bulan sekali untuk melestarikan kebudayaan suku Dayak,” kata Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Yuel Tanggara.

Sendratari Mihing Manasa dengan Koreografer Benny M Tundan disajikan oleh delapan sanggar seni Palangkaraya, yaitu Sanggar Marajaki, Betang Batarung, Intan Manuah, Tunjung Nyaho, Riak Renteng Tingang, Teluh Tabela, Pajawan Tingang Production, dan Soul Break.

Asisten III Sekretariat Daerah Kalteng I Ketut Widhie dalam pembukaan sendratari menilai kebudayaan Dayak memiliki nilai budaya yang tinggi dan harus dilestarikan. ”Saat ini ada banyak budaya asing yang masuk ke dalam negeri kita. Jangan sampai kebudayaan kita makin terpinggirkan,” katanya.

Sejumlah penonton mengapresiasi pergelaran sendratari ini. ”Keren banget. Kalau bisa pergelaran diadakan setiap bulan karena bisa menjadi hiburan bagi masyarakat di akhir pekan,” kata Titi yang datang bersama Edi, calon suaminya.

Yuel menambahkan, pemda menyediakan anggaran Rp 500 juta untuk membiayai dua kali pergelaran sendratari pada 2015, yaitu pada Maret dan Agustus. Pemerintah juga sedang menyiapkan pusat seni yang mulai dibangun dengan dana APBD Rp 1,5 miliar dan APBN Rp 7,5 miliar. (Megandika Wicaksono)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.