Kompas.com - 27/04/2015, 17:51 WIB
Bendera doa dengan latar belakang tim SAR menggunakan helikopter membawa korban gempa di dari Everest Base Camp, 26 April 2015, sehari setelah gempa berkekuatan 7.9 SR mengguncang Nepal. AFP PHOTO / ROBERTO SCHMIDTBendera doa dengan latar belakang tim SAR menggunakan helikopter membawa korban gempa di dari Everest Base Camp, 26 April 2015, sehari setelah gempa berkekuatan 7.9 SR mengguncang Nepal.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F
JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah gempa bumi yang terjadi di Nepal dan India bagian utara pada Sabtu (25/4/2015), beberapa pendaki Indonesia batal berangkat menuju Everest Base Camp, Nepal. Tur operator asal Indonesia yang menangani pendakian tersebut mengatakan awalnya perjalanan tersebut akan dilakukan pada tanggal 1 Mei 2015.

"Dua orang tamu pendakian pada Bulan Mei kita batalkan. Kota Kathmandu masih diutamakan sebagai pintu masuk pendakian. Belum tahu kapan bisa dilaksanakan," kata CEO Base Camp Adventure saat dihubungi KompasTravel, Senin (27/4/2015).

Pembatalan pendakian menuju Everest Basecamp ini menurut Jacky telah dipertimbangkan dengan sangat matang. Ia mengungkapkan masih melihat perkembangan di Kathmandu beberapa bulan ke depan sambil menunggu musim pendakian terbaik kembali.

Efek gempa bumi juga menimbulkan dua sisi perasaan bagi para calon wisatawan yang akan berangkat menuju Nepal. Pemilik tur operator ini mengatakan para wisatawan di satu sisi merasa sedih dan sisi lain merasa kecewa.

"Pastinya sedih mendengar gempa yang merusak Nepal. Tapi sisi lain, kecewa karena mereka telah mempersiapkan perjalanan sejauh jauh hari. Persiapan mereka sudah matang," ujarnya.

Sesuai dengan rencana, para wisatawan akan berangkat menuju Nepal pada hari Jumat, (1/5/2015). Dengan pembatalan tersebut, maka penginapan dan tiket penerbangan juga dibatalkan. Jacky mengaku belum dapat menentukan waktu untuk mengganti perjalanan pendakian ke Everest Basecamp ini.

Untuk dapat menuju Everest Basecamp di Nepal, para wisatawan tersebut telah mengeluarkan biaya sebesar 1.600 dolar AS. Perjalanan memakan waktu 16 hari mulai dari keberangkatan hingga kembali ke Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan informasi terakhir, lebih dari 3.300 orang diketahui telah tewas akibat Gempa Nepal. Jumlah itu membuat bencana tersebut tergolong yang paling mematikan di negara Himalaya yang rawan gempa itu selama lebih dari 80 tahun terakhir. Salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak gempa tersebut adalah Kathmandu. Sebanyak 18 pendaki dikabarkan meninggal akibat longsor di Gunung Everest yang dipicu oleh gempa tersebut.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NTB Kembangkan Wisata Olahraga, Bisa Contek Kunci Kesuksesan Perancis

NTB Kembangkan Wisata Olahraga, Bisa Contek Kunci Kesuksesan Perancis

Travel Update
Nglanggeran Sukses Wakili Indonesia dalam Daftar Desa Wisata Terbaik UNWTO 2021

Nglanggeran Sukses Wakili Indonesia dalam Daftar Desa Wisata Terbaik UNWTO 2021

Travel Update
Libur Nataru, Kapasitas Tempat Wisata DIY 25 Persen dan Tak ada Perayaan Tahun Baru

Libur Nataru, Kapasitas Tempat Wisata DIY 25 Persen dan Tak ada Perayaan Tahun Baru

Travel Update
Rute The Beach Love Bali dari Bandara Ngurah Rai

Rute The Beach Love Bali dari Bandara Ngurah Rai

Travel Tips
Malaysia Batasi Pelaku Perjalanan dari Negara Berisiko Tinggi Omicron

Malaysia Batasi Pelaku Perjalanan dari Negara Berisiko Tinggi Omicron

Travel Update
Kawasan Heritage Depok Lama Akan Dikembangkan Jadi Tempat Wisata Sejarah

Kawasan Heritage Depok Lama Akan Dikembangkan Jadi Tempat Wisata Sejarah

Travel Update
Korea Selatan Terapkan Karantina 10 Hari untuk Seluruh Kedatangan Internasional

Korea Selatan Terapkan Karantina 10 Hari untuk Seluruh Kedatangan Internasional

Travel Update
Borobudur Marathon Bisa Jadi Contoh Pengembangan Sport Tourism di NTB

Borobudur Marathon Bisa Jadi Contoh Pengembangan Sport Tourism di NTB

Travel Update
Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Travel Update
Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Travel Update
Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Travel Update
Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Travel Update
Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Travel Update
Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Travel Update
Kamboja Batasi Kedatangan dari 10 Negara untuk Antisipasi Varian Omicron

Kamboja Batasi Kedatangan dari 10 Negara untuk Antisipasi Varian Omicron

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.