Dingin, Manis, dan Melintasi Zaman

Kompas.com - 12/05/2015, 09:21 WIB
KOMPAS/RADITYA HELABUMI Petugas melayani pengunjung yang datang untuk menikmati es krim Baltic di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2015).
PADA masa lalu, Jakarta pernah memiliki sejumlah restoran es krim terkenal. Dingin dan manisnya menemani warga kota mengisi waktu luang, akhir pekan, atau untuk merayakan ulang tahun. Selain es krim Italia ”Ragusa” di Jalan Veteran I, Jakarta Pusat, yang sudah berdiri sejak 1932, masih ada es krim Baltic dan Tjanang yang sudah ada sejak 1950-an dan dapat ditemui hingga saat ini. Uniknya, es krim-es krim itu masih dibuat sendiri oleh pemilik atau penerusnya.

Terus berinovasi. Itulah kunci es krim Baltic tetap bertahan di tengah maraknya industri es krim masa kini. Selain itu, kualitas bahan dan metode pembuatan yang terus dijaga membuat es krim yang mulai diproduksi tahun 1939 ini tak ditinggalkan orang.

Satu-satunya gerai es krim Baltic ada di kawasan Senen, tepatnya di Jalan Kramat Raya Nomor 10-12, Jakarta Pusat. Barangkali, tak banyak lagi orang mengetahui gerai ini sebab Baltic tidak memasang iklan komersial.

”Dulu toko es krim ada di sebelah. Lebih luas, dengan lebar toko sampai 20 meter. Sejak tahun 1975, kami pindah ke lokasi sekarang ini. Selain itu, bagian depan toko juga sudah berkurang karena tiga kali tergusur proyek perluasan jalan,” kata Mulya Setiawan (62), generasi kedua pemilik Baltic, Kamis pekan lalu.

Baltic didirikan Mulya Santosa, ayah Setiawan, tahun 1939. Sejak awal, Baltic didesain sebagai restoran es krim. Es krim disajikan dalam mangkuk kecil. Pembeli menikmati es krim ini di meja dan bangku yang disediakan di restoran ini.

Waktu itu tak ada es krim yang dibawa pulang, belum dikenal es kering (dry ice) untuk menjaga es krim tetap membeku dalam perjalanan pulang.

Lantaran menjadi makanan restoran, es krim menjadi pilihan masyarakat keturunan Belanda atau mereka yang pernah mengecap pendidikan di negara tersebut.

Letak toko Baltic, yang sederet dengan kampus Universitas Indonesia di Salemba, juga membuat es krim pelan-pelan menjadi jamak di kalangan mahasiswa. Belakangan, dengan bertambahnya kampus perguruan tinggi di kawasan Senen, Baltic juga menjadi tujuan nongkrong anak muda.

”Saya dulu sering ke sini waktu kuliah. Sekarang saya mampir kalau pas lewat,” kata Anin (30), karyawan swasta di kawasan Menteng yang hari itu datang bersama teman-teman sekantornya.

Sejak tahun 1998, Baltic dikemas menjadi es krim yang siap dibawa pulang. Ada dua pilihan es krim reguler, yakni dalam kemasan mangkuk plastik kecil dan es krim stik. Es kering siap menjaga kebekuan es krim sampai tiga jam di perjalanan.

Meskipun sudah berumur cukup ”tua”, tidak semua orang yang besar di Jakarta mengenal tempat ini. Nila (50), misalnya, malah mendapatkan rekomendasi Baltic dari anaknya yang kuliah di kawasan Senen.

”Anak saya yang suka ke sini (toko Baltic). Menurut dia, rasa es krim ini enak. Makanya saya mau coba sekalian beli untuk kawan-kawan di kantor,” katanya sambil menenteng satu plastik berisi es krim.

Buah asli

Mulya mengatakan, ada beberapa rasa es krim yang diwarisi sejak dulu, antara lain cokelat, stroberi, moka, dan alpukat. Beberapa rasa es krim lain dikreasikan seiring berjalannya waktu. Sebut saja blueberry, durian, rum raisin, peppermint, kacang, ketan hitam, dan green tea.

Tercatat ada sekitar 20 varian es krim reguler yang dijual di gerai ini. Penambahan rasa es krim, menurut Mulya, sebagai bagian strategi hingga Baltic bisa bertahan lebih dari 70 tahun.

”Kami juga memilih buah yang baik untuk diolah. Kendalanya, tak semua buah ada sepanjang tahun. Untuk itu, kami harus membuat stok buah agar produksi bisa terjamin,” ucap Mulya, yang turun langsung mengawasi produksi.

KOMPAS/MADINA NUSRAT Kotak pendingin es krim Tjanang di toko milik Leny di Jalan Cikini Raya 50, Jakarta Pusat, ini menjadi salah satu sisa kejayaan restoran es krim Tjanang yang pernah populer di era 1960-1980-an.
Selain buah, bahan lain yang penting adalah susu sapi dan susu bubuk. Menurut Mulya, pencampuran bahan masih dilakukan manual.

Untuk mempertahankan rasa, lanjut Mulya, pihaknya tidak mengejar pengembangan maksimal dari adonan es krim karena akan membuat es krim terasa terlalu ringan. Itu sebabnya, es krim Baltic terasa padat.

Selain menambah variasi rasa, Mulya juga mengubah karakter Baltic yang dulu bertekstur agak kasar menjadi lembut. Ini menjadi bagian dari respons terhadap selera pasar.

Selain penjualan di gerai, Baltic juga menyediakan layanan pesan antar es krim dengan minimum pembelian Rp 100.000.

Bagi pelanggan yang akan mengadakan pesta, es krim berbentuk kue tart juga bisa menjadi pilihan. Baltic juga menyediakan model es krim ini berdasarkan pesanan konsumen.

Es krim Tjanang

Selain Baltic, es krim tua lain di Jakarta adalah es krim Tjanang. Manisnya es krim Tjanang kini masih dapat ditemukan di rumah makan milik Leni atau Tshu Ing Kue (65) di Jalan Cikini Raya 50, Jakarta Pusat. Namun, es krim Tjanang kini tak lagi dijual dalam mangkuk-
mangkuk stainless steel kecil seperti masa lalu, melainkan dikemas dalam mangkuk plastik.

Sampai tahun 1980-1990-an, es krim Tjanang merupakan restoran es krim yang tak hanya dikenal warga Jakarta, tetapi juga kalangan ekspatriat.

Hal menarik dari restoran itu adalah es krim rasa beragam buah-buahan khas Indonesia, seperti rasa cempedak, nangka, cokelat, dan juga tape ketan hitam. Es krim disajikan di mangkuk-mangkuk stainless steel berukuran kecil dan disajikan bersama segelas air putih dingin.

Restoran Tjanang yang asli, yang dibuka sejak tahun 1951, berdiri beberapa rumah dari rumah makan milik Leni saat ini. Bangunannya berupa rumah berdinding kaca, dan biasanya di dekat pintu masuk ada seorang penjual sate ayam dengan gero-
baknya.

Pada malam hari, pengunjung kala itu sangat ramai menikmati es krim Tjanang. Terkenang bagaimana para pengunjung, warga setempat bercampur dengan para ekspatriat duduk di bangku kayu menikmati es krim sambil menonton siaran televisi. Di luar, asap dari gerobak sate ayam merambati dinding kaca.

Sriyati (59), warga yang sudah bermukim di Jakarta sejak tahun 1965, menjadi salah satu pelanggan setia Tjanang. ”Dulu, sekitar tahun 1965, saya kenal Tjanang dari papa saya. Hingga menikah, giliran saya membawa anak-anak ke sana. Ini es krim pernah menjadi es krim paling enak di Jakarta,” katanya.

Ya, pernah paling enak, dan karena itu jangan membandingkannya dengan es krim ala gelato yang kini populer di Jakarta. Es krim Tjanang lebih menyerupai es sorbet, bertekstur agak kasar tetapi sarat krim, dengan buah asli sebagai bahan baku utama es krim.

Dulu, semua es krim Tjanang dibuat sendiri pemiliknya waktu itu, Tjan Njan.

Menurut Leni, kini es krim Tjanang dibuat salah satu keturunan Tjan Njan yang tinggal di Tebet. ”Tjan Njan sendiri sekarang sudah tua dan tinggal di Amerika,” kata Leni.

Menurut Leni, awal kedekatannya dengan Tjan Njan terjadi tahun 1965 saat pecah kemelut politik di Indonesia yang membuat sekolah-sekolah Tionghoa ditutup. Suami Leni, Su Tjan Yo, yang berprofesi sebagai guru sejarah, lalu dipercaya Tjan Njan untuk mendidik anak-anaknya.

”Waktu itu, saya dan suami masih tinggal di Gunung Sahari, baru tahun 1980-an pindah ke Cikini,” kata Leni.

Hubungan mereka pun makin dekat, dan akhirnya pada 1990, restoran Tjanang pindah ke rumah Leni, saat Tjan Njan meninggalkan Indonesia dan menetap di Amerika Serikat.

Tahun 1995, lanjut Leni, Tjanang tak lagi membuka restoran dan hanya menjual es krim. Es krim Tjanang saat ini hanya dijual di sebuah kotak pendingin di rumah makan Leni. ”Keluarga Tjan Njan hanya menitipkan es krim buatan mereka ke saya untuk dijual hingga saat ini,” tutur Leni.

Meski demikian, kenangan es krim Tjanang tak pernah luntur di kalangan warga Jakarta yang pernah mencicipi nikmatnya es krim itu. ”Meskipun sekarang hanya dikemas dalam mangkuk-mangkuk plastik, tetap ada saja yang beli. Umumnya mereka adalah yang pernah menjadi pelanggan setia restoran es krim Tjanang dulu,” tutur Leni.

Semangkuk es krim pun bisa bercerita tentang riwayat kota ini.... (Agnes Rita Sulistyawaty & Madina Nusrat)


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X