Kompas.com - 13/05/2015, 09:06 WIB
EditorI Made Asdhiana

Pada saat penerbangan berjalan tenang tanpa gumpalan mengusik sekalipun, Surya bisa membayangkan lantai pesawat seolah-olah bakal jebol. Di sisi lain, ia membayangkan tak akan ada harapan hidup jika pesawat mengalami kecelakaan. ”Kalau terperangkap dalam bus karena suatu kecelakaan, misalnya, masih bisa dibayangkan usaha menyelamatkan diri seperti apa. Kalau di udara bagaimana?” ujarnya.

Beberapa hari sebelum bepergian dengan pesawat, Surya biasanya sudah stres. Namun, puncak ketegangannya tentu terjadi ketika ia memasuki pesawat. Akhirnya, ia meminum obat penenang tiap kali menempuh penerbangan jarang menengah dan panjang. ”Begitu masuk pesawat, minum obat penenang itu, biasanya efeknya saya bisa tidur nyenyak. Teman seperjalanan yang kadang mengeluh karena saya tidur terus, tidak bisa diajak ngobrol,” ujarnya.

Penyair Warih Wisatsana (50) jauh hari sebelum naik pesawat selalu stres. Ia bahkan bisa muntah-muntah seminggu sebelum keberangkatannya dari Bali menuju Jakarta, misalnya. Di dalam kabin, jika di kantong kursi tersedia lembaran doa, ia akan membacanya dari semua agama berulang-ulang. ”Kalau masih boleh memilih, saya lebih baik berkereta,” katanya. Ketakutan itu, katanya, dipicu oleh imajinasinya yang liar tentang ketinggian dan pesawat. ”Saya tidak bisa pasrah. Selalu mikir gimana kalau jatuh...,” tuturnya.

Meskipun takut terbang, Nury, Ani, maupun Surya tetap akan naik pesawat. Dalam waktu dekat ini, Ani dan Nury sudah merencanakan perjalanan. ”Aku pengin melihat dunia belahan Bumi yang lain. Aku suka jalan-jalan. Aku terpaksa naik pesawat karena tidak mungkin ke Korea (misalnya), naik kereta he-he-he,” kata Nury yang sudah puluhan kali
terbang.

Turbulensi

Kapten Boby Ary Subagio, Quality Manager di Training Center Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan, menjelaskan, turbulensi terjadi karena adanya perubahan aliran udara sehingga mengganggu keseimbangan pesawat. Turbulensi bisa diakibatkan oleh kecepatan udara atau awan yang berakibat pada perubahan aliran udara. Saat terjadi turbulensi, pesawat terguncang seperti mobil saat melintasi jalan berlubang atau gundukan.

Indriatno Mulyatmoko, Flight Safety Instructor dari Garuda Indonesia, menambahkan, sebelum terbang, pilot pasti mengadakan briefing dengan awak pesawat yang antara lain membahas cuaca selama penerbangan. Mereka sudah mengantongi catatan prakiraan cuaca dari lembaga terkait sehingga paham betul apa yang harus dilakukan, termasuk membatalkan atau menunda penerbangan jika cuaca tidak memungkinkan.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Penumpang pesawat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (18/2/2015).
Ia menambahkan, turbulensi itu sebuah keniscayaan bagi penerbangan. Apalagi untuk pesawat yang melintas di wilayah khatulistiwa seperti Indonesia yang sering terjadi pancaroba dan berpengaruh pada cuaca. ”Tapi kami sudah menghitung secara cermat semua kemungkinan demi keselamatan penumpang,” katanya.

Semua awak kabin dan pilot, lanjut Mulyatmoko, sudah mengetahui prosedur yang harus dilakukan jika terjadi turbulensi. Pilihan paling bijak bagi penumpang adalah mengikuti seluruh instruksi awak kabin dan tak perlu panik.

Gangguan kecemasan

Diah Karmiyati, psikolog dari Universitas Muhammadiyah Malang, menjelaskan, ketakutan terbang termasuk gangguan kecemasan. Sumbernya biasanya peristiwa traumatik yang tidak harus dialami sendiri. Sumbernya bisa dari berita atau cerita teman yang memengaruhi keadaan psikologis menjadi trauma. ”Mereka sudah membayangkan hal-hal yang ekstrem bagaimana kalau hal itu menimpa aku. Kecemasan yang mendominasi memengaruhi pemikiran (kognitif) bisa berpikir macam-macam yang perlu diluruskan,” ujar Diah.

Ia menganjurkan penumpang yang cenderung takut terbang agar memilih maskapai yang aman atau paling kecil angka kecelakaannya. Cara lain, terbang dengan mengajak teman yang dapat memberi ketenangan. Dalam kondisi harus pergi seorang diri, upayakan menyibukkan diri untuk mengalihkan pikiran negatif tentang terbang, misalnya dengan menonton film atau membaca.

Diah menyarankan agar menghindari meminum obat tidur atau sejenisnya karena dikhawatirkan berdampak buruk pada badan. Apalagi bagi mereka yang harus sering terbang. (MHF/DAY/CAN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.