Pintu gerbang masuk dari Jalan Kolonel Masturi No. 8 Cikahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sejuk, segar, saat penulis memasuki pintu gerbang Imah Seniman Resort. Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon besar turut menyambut kedatangan. Banyak juga burung yang beterbangan kesana kemari. Selain itu, kupu-kupu cantik yang beterbangan di atas bunga.
Tak hanya itu, suara kecapi dan suling melantunkan irama musik Sunda memanjakan telinga. Lokasi ini sangat khas dengan unsur seni dan budaya sundanya. "Wilujeng Sumping di Imah Seniman Resort," ucap wanita cantik menyambut kedatangan KompasTravel, Sabtu, (9/5/2015) lalu.
Dadan mengajak KompasTravel untuk meihat bangunan-bangunan adat, berciri khas Sunda. Bangunan ini, tak lain adalah hotel atau tempat menginap para tamu. Beberapa bangunan khas adat Sunda tersebut berjejer dengan posisi melingkar, di tengahnya ada danau. Ikan-ikan ikut menghidupkan danau itu. Yang menjadi asyiknya, dari kamar hotel bisa tembus langsung ke danau itu. Dinding kamar yang mengarah ke danau terbuat dari kaca bening. Kita bisa menikmati indahnya danau di kamar itu. "Di sini cocok sekali untuk honeymoon, untuk berbulan madu bagi para pengantin baru," kata Dadan sambil terkekeh.
Wajar jika pasangan pengantin tertarik bermadu kasih di tengah hutan ini, pasalnya cuaca di sini sangatlah dingin, apalagi jika hujan turun. Brrrrr...!!. Beberapa meter dari situ, terdapat air terjun kecil yang mengalir ke danau kecil itu. Di sekitar hotel di pinggir danau kecil itu terdapat kafe-kafe atau tempat nongkrong yang meja dan kursinya terbuat dari kayu. "Ini bisa ngopi-ngopi divsini, sambil santai," katanya.
Perjalanan berlanjut menuju sebuah danau. Terlihat perahu kayu lengkap dengan dayungnya. Para pengunjung bisa berlayar di danau ini. "Mau naik perahu? Ayooo, kita bisa berlayar disini," kata Dadan. Perjalanan dilanjutkan ke titik lainnya, berjalan setapak demi setapak. Di pinggir danau terdapat saung berjejer. Menurut Dadan, danau ini disediakan khusus bagi yang hobi memancing. "Nah, di sini tempat memancing. Banyak ikan ditanam di sini. Jadi, begitu dapat ikannya, kita bisa langsung bakar ikannya di sini," katanya.
Setelah itu, kami menyebrang sungai. Dadan mengajak ke lokasi penginapan lainnya. "Di sini juga bisa (tidur), penginapan di sini ada, di sana juga ada, tinggal pilih, ada beberapa kelas kamarnya, vila juga ada," katanya. Dadan menjelaskan, beberapa hektar dipakai untuk lahan peternakan, perkebunan dan pesawahan. Bahan baku dan rempah-empah untuk memasak menu di restoran ini didatangkan dari perkebunan dan peternakan tersebut.
Setelah itu, Dadan mengajak ke tempat makan. Sambil berjalan, Dadan menjelaskan bahwa lokasi ini berbentuk seperti wajan. "Jadi, tempat ini bentuknya begini," kata Dadan sambil memperagakan tangannya membentuk huruf 'U'. "Seperti wajan lah," sambungnya.
Bahkan, menurut Bob, cara komunikasi di sini diharuskan menggunakan bahasa Sunda. "Maupun itu turis, kita translate, harus pakai bahasa Sunda," katanya terkekeh. Kemudian, dari cara berpakaian para pelayan pun bertema Sunda. Laki-laki pakai pangsi dan perempuan pakai kebaya. "Pakaian pun natural, tidak sama seperti di kota," katanya.
Kemudian, dari segi bentuk bangunan hotel pun beradat Sunda. Penginapan di sini, kata Bob, tersedia mulai dari kelas biasa yang harganya mulai Rp 500.000 sampai dengan Rp 1.000.000. Ada pula vila yang dibanderol dengan harga kisaran Rp 1.750.000 sampai dengan Rp 2.400.000. "Semua penginapan di sini kita design sesuai dengan rumah adat Sunda, tapi, kalau dalamnya sama saja seperti yang ada di hotel-hotel perkotaan. Nanti, kita bikin penginapan yang ekstrem, yang (dalemnya Sunda pisan)," katanya.
Namun, tambah Bob, ada pula makanan yang sudah dipaketkan. "Ada peket yang isinya 10, 8, 6, 4. Harganya bermacam-macam, mulai dari Rp 200 ribu, Rp 300 ribu, Rp 500 ribu," ujarnya. Bob menambahkan, lahan seluas 11 hektar ini baru terpakai 5 hektar. Rencana Bob akan membangun lagi wahana dan tempat rekreasi lainnya. "Ini belum sempurna, kita masih akan terus sempurnakan, ini akan berkembang terus," ujarnya.
Hari mulai gelap, waktu hampir menunjukkan pukul 18.00 WIB. Lampu-lampu yang bergelantungan di ranting-ranting pohon mulai menyala. Begitu pun lampu-lampu di penginapan yang mengelilingi danau.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.