Kompas.com - 23/05/2015, 10:35 WIB
EditorNi Luh Made Pertiwi F

Pesanggrahan Menumbing merupakan destinasi wajib dikunjungi para pelancong. Jaraknya 12 kilometer dari kota Muntok. Pasalnya, di tempat dengan ketinggian 445 meter di atas permukaan laut (mdpl) inilah para tokoh kemerdekaan, Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan Belanda pasca Agresi Militer Belanda di Yogyakarta. Mereka diasingkan ke Muntok untuk membatasi pergaulan para tokoh ini dengan dunia internasional. Selain Bung Karno dan Bung Hatta, para tokoh yang turut diasingkan ke Muntok adalah A Gafar Pringgodigdo, Ass'aat, Surya Darma, Ali Sastroamidjojo, Moh Roem, dan H Agus Salim.

Penjaga Pesanggrahan Menumbing, Mas Sutejo dengan ramah akan menunjukkan dan menjelaskan secara detil ruang-ruang bangunan yang dibangun tahun 1928 itu kepada wisatawan yang datang. Setelah memasuki ruang tamu, wisatawan akan melewati sebuah aula. Dulunya aula ini merupakan penjara untuk para tokoh republik sebelum dialihfungsikan sebagai tempat sidang tentara Belanda.

Di pojok ruangan terdapat mobil Ford Deluxe 8 silinder berpelat BN 10 yang sering digunakan Bung Hatta bolak-balik Muntok-Menumbing. Kamar Bung Karno ada di pojok ruangan. Suasana masih dipertahankan sesuai aslinya. Bung Karno sempat diasingkan di Pesanggrahan Menumbing. Namun karena tidak tahan dengan udara dingin, Bung Karno minta dipindahkan ke Pesanggrahan Muntok atau Wisma Ranggam.

Setelah tanggal 5 Juli 1949 diumumkan pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta, maka tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Bung Hatta serta para tokoh nasional itu diterbangkan ke Yogyakarta.

2. Museum Timah

Banka Tin Winning (BTW) merupakan Kantor Pertambangan Timah Bangka pada zaman Belanda ini didirikan pada tahun 1915. Awalnya gedung ini bernama Hoofbureau Banka Tinwinning Bedriff yang juga sekaligus sebagai pusat pemerintahan (residen) Belanda di Pulau Bangka.

Museum Timah ada dua di Indonesia, yakni di Pangkalpinang dan di Muntok. Museum Timah di Jalan Jenderal Soedirman Muntok merupakan salah satu aset dari PT Timah ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama diisi dengan berbagai macam galeri pertimahan. Sedangkan lantai dua merupakan ruang perpustakaan, kantor, auditorium dan lain-lain.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Museum Timah di Muntok, Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung.
Di Museum Timah ini, wisatawan juga akan membaca pengakuan Suster Vivian Bullwinkel yang selamat dari pembantaian tentara Jepang. Kisahnya bermula tanggal 22 Februari 1942 ketika sekitar 65 perawat Angkatan Darat dari Rumah Sakit Umum Australia hendak kembali ke Australia menggunakan KM Vyner Brooke.

Saat berlayar tanggal 14 Februari 1942 kapal tersebut dibom pesawat tentara Jepang di perairan Selat Bangka yakni di Pantai Radji, kawasan Tanjung Kelian. Akibatnya 12 perawat hilang dan 22 lainnya berhasil mencapai pantai utara Pulau Bangka dengan naik sekoci dan sebagian lagi berenang. Saat mendarat di pantai, mereka ditawan tentara Jepang. Tanggal 16 Februari 1942 mereka dibawa ke pantai dan ditembak.

Suster Vivian selamat karena pura-pura tewas dengan menjatuhkan diri di antara teman-temannya yang telah tertembak. Dari 65 perawat tersebut, 24 perawat, termasuk Vivian yang selamat dan kembali ke Australia setelah Perang Dunia II usai. Tanggal 2 Maret 1993, Vivian mengunjungi Muntok untuk meresmikan monumen di Tanjung Kelian atas nama Pemerintah Australia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.