Seba, Perjalanan Spiritual Baduy

Kompas.com - 26/05/2015, 14:39 WIB
KOMPAS/DWI BAYU RADIUS Warga Baduy duduk dengan tertib di depan Pendopo Lama Gubernur Banten, Serang, Banten, akhir April 2015. Bertandan-tandan pisang dan hasil bumi lain yang mereka bawa diletakkan di tangga pendopo. Mereka datang untuk bersilaturahim dengan Bapak Gede, yakni Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno. Seba Baduy dilaksanakan setiap tahun, berpatokan pada penanggalan adat.
DIDORONG rasa kasih, warga Baduy Dalam, Banten, menempuh perjalanan jauh. Berjalan kaki menempuh jarak sekitar 115 kilometer, beragam hasil bumi disampaikan kepada Bapak Gede. Bukan upeti, melainkan bentuk ketulusan dan keikhlasan semata yang diungkapkan setiap tahun.

Sejak Kamis (23/4/2015), warga Baduy Dalam bertolak dari kediamannya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, hingga Sabtu (25/4/2015). Perjalanan diawali naik-turun bukit dan lembah sebelum sampai di jalan raya. Dalam arak-arakan yang teratur dan apik, 73 orang menerjang terik dan hujan.

Tanpa alas kaki, perjalanan dilakoni sesuai dengan tradisi yang tak membolehkan warga Baduy Dalam memakai sandal dan sepatu. Setibanya di Kota Serang, Banten, mereka bergabung dengan saudara-saudaranya, 1.884 warga Baduy Luar yang tiba terlebih dulu dengan menumpang bus.

Adat istiadat Baduy Dalam yang tak boleh naik kendaraan berbeda dengan Baduy Luar yang masih dapat menggunakan kendaraan. Secara bersama-sama, rombongan Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan berdampingan menyusuri jalan-jalan utama Kota Serang. Mereka menuju Pendopo Lama Gubernur Banten dan tiba sekitar pukul 17.00.

Acara puncak Seba Baduy digelar sekitar pukul 19.00 di depan bangunan cagar budaya yang didirikan pada 1821 itu. Di tangga pendopo, terlihat puluhan karung berisi, antara lain, pisang, talas, dan gula merah yang dipersembahkan warga Baduy. Mereka duduk di depan pendopo dengan tertib.

Dalam buku Potret Kehidupan Masyarakat Baduy yang ditulis Djoewisno MS dan diterbitkan Cipta Pratama Adv tahun 1987, seba berarti ’sowan’ atau ’berkunjung secara resmi’. Tokoh yang dituju adalah Bapak Gede atau pemimpin pemerintahan di wewengkon (daerah) setempat.

Seba hakikatnya mempererat korelasi warga dengan pemimpin. Juru bicara warga Baduy, Jaro Dainah, pertama-tama menyampaikan maksud kedatangan pihaknya yang hendak bersilaturahim. Warga Baduy juga berharap, Banten ke depan lebih maju. Di situlah esensi acara terjalin.

Seba Baduy tak melulu berisi unggah-ungguh. Sebagai kawula, sudah tentu lazim jika mereka mengingatkan pemimpinnya. Dainah, misalnya, tanpa segan meminta alam dilestarikan. ”Kami wajib mengingatkan. Kalau dirusak, lingkungan bisa menimbulkan bencana,” tuturnya.

Dainah juga meminta aparat patuh kepada hukum dalam menjalankan tugas. Meskipun warga adat jauh dari terpaan media, Dainah secara menakjubkan mampu menyampaikan isu-isu aktual. Dainah berbicara soal sikap anti narkoba, antisipasi kekerasan dengan cinta damai, dan supremasi hukum tanpa tebang pilih.

Di teras Pendopo Lama Gubernur Banten, Dainah bersama beberapa tokoh Baduy Dalam dan Baduy Luar khidmat bersila. Pengharapan, pertanyaan, dan doa menjadi kulminasi Seba Baduy terhadap Bapak Gede, yang dalam hal ini adalah Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno.

”Seba Baduy adalah silaturahim. Tak hanya menarik dari seni budaya dan pariwisata, tapi juga ada amanat yang perlu kita cerna bersama,” kata Rano.

Banyak suri teladan yang patut ditiru dari kearifan lokal warga Baduy dengan prinsip lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung). Artinya, masyarakat Baduy hidup apa adanya tanpa menambah atau mengurangi.

Berbaur

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorI Made Asdhiana
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X