Cerita di Balik Kain Tenun Ikat Sikka

Kompas.com - 07/06/2015, 09:35 WIB
Kain tenun merupakan salah satu produk khas dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang tersedia di pasar, salah satunya di Pasar Alok, Jumat (17/1/2014). Selembar kain tenun rata-rata bisa dibawa pulang dengan merogoh uang hingga Rp 400.000. KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJOKain tenun merupakan salah satu produk khas dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang tersedia di pasar, salah satunya di Pasar Alok, Jumat (17/1/2014). Selembar kain tenun rata-rata bisa dibawa pulang dengan merogoh uang hingga Rp 400.000.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Nusa Tenggara Timur bagi kedua perempuan muda ini memberikan satu hal yang paling berkenang dalam perjalanan hidupnya. Berawal dari perjalanan liburan selepas masa kuliah, mereka menemukan satu warisan budaya yang bernilai tinggi untuk diperkenalkan ke khalayak umum. Kain tenun ikat Maumere berhasil memikat mereka ketika berlibur di Nusa Tenggara Timur.

Adalah Cendy Mirnaz (25) dan Annisa Hendrato (25), dua wisatawan asal Jakarta yang pada awalnya ingin berlibur ke Nusa Tenggara Timur selama 40 hari. Mereka mengawali perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya menggunakan kereta api dan melanjutkan penerbangan menuju Lombok menggunakan pesawat terbang. "

"Awalnya kita pengen banget ke Flores. Kita malah dari Jakarta rencana mau ngajar di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan," kata lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual, Universita Bina Nusantara, Cendy kepada KompasTravel beberapa waktu lalu di Jakarta.

Cendy dan Annisa sepakat mengatakan bahwa rencana ini yang mereka usung dari Jakarta adalah tidak diduga. Namun, mereka telah mempersiapkan rencana tersebut dengan membawa perlengkapan seperti kertas lipat, lem, gunting, dan alat-alat lain.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Pemandangan matahari terbenam dari desa Darat Pantai, Kabupaten Sikka, Flores Nusa Tenggara Timur, Sabtu (26/5/2012).
Pertemuan mereka dengan kain- kain tenun ikat tradisional Nusa Tenggara Timur ketika ia melewati sepanjang jalan di Maumere. "Pas di jalan itu, sedikit banget yang jualan kain-kain Sikka. Kita coba telepon Pak Daniel dari Sanggar Bliran Sina," ujar Annisa.

Dari perbincangan di telepon, Annisa dan Cendy bersama Daniel kemudian berkeliling kampung untuk melihat kain-kain tenun. Beruntung adalah teman bagi mereka. "Sebelumnya kita pernah nebeng ke Pelabuhan Sape dari Lombok. Eh sekarang kebetulan ada tamu-tamu dari Jerman mau kunjungan ke Kampung Watu Blapi. Kita bisa lihat upacara adat untuk menyambut tamu," kata Cendy.

Terletak di sebuah pegunungan, 45 menit perjalanan arah timur dari Kota Maumere, dua perempuan tersebut menyaksikan upacara adat penyambutan tamu. Cendy dan Annisa mengaku dapat melihat motif-motif kain tenun ikat dengan warna-warni yang memukau melalui acara tersebut. Sebuah acara yang menurut mereka adalah kesempatan yang langka bagi wisatawan dengan persiapan dana yang minim.

"Daya pikat susunan warna yang konstan dan menggunakan pewarna alam yang alami. Menurut Pak Daniel, ini sintetik. Itu yang membuat kami tertarik," kata Annisa.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Wisatawan asing tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Nusa Tenggara Timur, Jumat (17/5/2013). Wisata alam, rohani dan sejarah menjadi andalan sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur.
Dari pengalaman ketika liburan ke Nusa Tenggara Timur tersebut mereka akhirnya tertarik untuk belajar memahami kain tenun ikat Sikka. Bahkan kedua gadis tersebut membantu untuk mempromosikan dan mempopulerkan warisan budaya Nusa Tenggara Timur tersebut. Dengan perkenalannya dengan Daniel, mereka pun serius untuk mengembangkan kain tradisional tersebut.

"Kita tetap kontak-kontakan dengan Daniel. Nah pas ke Jakarta, kita ketemu lagi di Jakarta Trade Expo tahun 2013, Kemayoran," kata Cendy.

Sebuah acara berbentuk workshop kain tenun ikat digagas oleh kedua gadis bersama Daniel. Dengan bekal kemampuan yang didapatkan dari bangku kuliah, mereka membantu dalam hal pembayaran dan pemanduan. Dengan harapan, ke depannya masyarakat Sikka dapat mandiri untuk mengelola produksi kain tenun ikat.

Mereka mengakui bahwa secara produksi kain tenun ikat Sikka telah cukup baik tapi dalam segi promosi masih kurang baik. Dengan usaha yang mereka bentuk dengan nama Noesa, mereka berusaha membantu Daniel dari Nani House untuk membantu dalam segi pemasaran dan promosi kain tenun ikat hingga saat ini.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X