FDS 2015 Munculkan Beragam Atraksi Budaya Tradisional

Kompas.com - 09/06/2015, 11:25 WIB
Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama Pemerintah Provinsi Papua serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif setiap tahun menggelar Festival Danau Sentani. Pembukaan Festival Danau Sentani 2014, yang diwarnai dengan sajian tarian kolosal yang menggambarkan keberagaman suku di Papua, menarik perhatian pengunjung. Jumlah wisatawan ke Papua pun setiap tahun meningkat. KOMPAS/DODY WISNU PRIBADIPemerintah Kabupaten Jayapura bersama Pemerintah Provinsi Papua serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif setiap tahun menggelar Festival Danau Sentani. Pembukaan Festival Danau Sentani 2014, yang diwarnai dengan sajian tarian kolosal yang menggambarkan keberagaman suku di Papua, menarik perhatian pengunjung. Jumlah wisatawan ke Papua pun setiap tahun meningkat.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Festival Danau Sentani (FDS) 2015 yang akan digelar di Khalkote, Sentani Timur, Jayapura, 19-23 Juni 2015 dimeriahkan oleh beragam acara yang dibalut kebudayaan tradisional. Selain itu, adanya beragam perlombaan menjadi salah satu pembeda FDS 2015 dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini ada lomba-lomba, nanti kalau responnya baik akan dilanjutkan, kita lihat," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura, Chris K. Tokoro, di Jakarta, Senin (8/6/2015).

Beragam jenis perlombaan yang akan dilaksanakan antara lain lomba bidang kesenian seperti lomba yosim pancar, lomba suling tambur, lomba sosio drama, lomba folk song, lomba tari balada cendrawasih imitasi, lomba cipta cenderamata, dan lomba seni anak. Selain itu, digelar juga aneka lomba olahraga dalam FDS tahun ini.

Ada juga salah satu tradisi unik yang juga dilombakan adalah lomba merokok sambil menyelam. Diakui Bupati Jayapura, Matius Awoitauw, ibu-ibu yang tinggal di kampung sekitaran Danau Sentani memiliki kebiasaan merokok sebelum menyelam. Kebiasaan tersebut bahkan sulit dilepaskan hingga rokok-rokok tersebut ikut dibawa menyelam mencari ikan.

"Rokoknya (sisi yang dibakar) di balik ke dalam. Itu menjadi sesuatu yang biasa, bukan sesuatu yg membahayakan," kata Matius.

Selain merokok sambil menyelam, ada salah satu acara lagi yang menarik, yakni Gema Tifa Kolosal. Tifa merupakan alat musik tradisional Ondofolo atau tetua adat. Nantinya akan ada sebuah ritual yang dinamakan "Turun Tifa" untuk meminta permohonan izin kepada para Ondofolo untuk menggunakan alat musik Tifa yang akan dibunyikan dan digunakan dalam festival dan ritual adat.

KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Lukisan kayu kulit di Pulau Asei, Danau Sentani, Jayapura.
FDS 2015 juga akan memecahkan rekor Muri dengan menebar benih nila 1 juta ekor, kerja bakti massal 10.000 orang, pembersihan Danau Sentani (Save Sentani Lake), dan bursa batu cyclops.

Beragamnya acara yang digelar dalam FDS 2015 diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara khususnya di bidang pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan selama festival berlangsung sebelumnya, perputaran uang pada FDS 2013 mencapai Rp 3,5 miliar dan naik hingga Rp 4,5 miliar pada FDS 2014. "Kalau festival dilaksanakan, maka perekonomian masyarakat akan berjalan," kata Arief.

Mendukung pernyataan Arief, Chris mengakui adanya peningkatan pendapatan di masyarakat. Hal itu disebabkan adanya kegiatan penjualan selama festival berlangsung. "Ada jualan pas festival itu, jualan kerajinan topi dari kulit kayu, cenderamata kulit kayu," tutup Chris.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Banyak Hoaks Virus Corona di Singapura, Buat Masyarakat dan Turis Panik

Banyak Hoaks Virus Corona di Singapura, Buat Masyarakat dan Turis Panik

Whats Hot
4 Wisata di Swiss, Lokasi Syuting Crash Landing on You

4 Wisata di Swiss, Lokasi Syuting Crash Landing on You

Jalan Jalan
Dampak Virus Corona, Wisatawan Nusantara di Lombok Melejit Sampai 70 Persen

Dampak Virus Corona, Wisatawan Nusantara di Lombok Melejit Sampai 70 Persen

Whats Hot
Doyan Makan Ikan? Coba Restoran Sashimi All You Can Eat di Tokyo

Doyan Makan Ikan? Coba Restoran Sashimi All You Can Eat di Tokyo

Promo Diskon
Singapura Prediksi Penurunan Wisatawan hingga 30 Persen akibat Virus Corona

Singapura Prediksi Penurunan Wisatawan hingga 30 Persen akibat Virus Corona

Whats Hot
Imbas Virus Corona, Singapura Kehilangan 20.000 Wisatawan Setiap Hari

Imbas Virus Corona, Singapura Kehilangan 20.000 Wisatawan Setiap Hari

Whats Hot
Melalui Festival Pulau Penyengat 2020, Tanjungpinang Tegaskan Bebas Corona

Melalui Festival Pulau Penyengat 2020, Tanjungpinang Tegaskan Bebas Corona

Jalan Jalan
Dampak Virus Corona, Kyoto Kampanye Pariwisata Sepi untuk Pikat Wisatawan

Dampak Virus Corona, Kyoto Kampanye Pariwisata Sepi untuk Pikat Wisatawan

Whats Hot
Contek Itinerary 'Dare To Surpries S2 Eps. 1' Dari Sushi ke Burger Susun

Contek Itinerary 'Dare To Surpries S2 Eps. 1' Dari Sushi ke Burger Susun

Jalan Jalan
Resep dan Cara Membuat Smash Burger di Rumah

Resep dan Cara Membuat Smash Burger di Rumah

Makan Makan
4 Makanan Murah Meriah Sekitar Stasiun Gubeng Surabaya, Harga Mulai Rp 20.000

4 Makanan Murah Meriah Sekitar Stasiun Gubeng Surabaya, Harga Mulai Rp 20.000

Makan Makan
Praktisi Pariwisata: Dibanding Promo Wisata ke Luar Negeri, Lebih Baik Incar Wisnus Milenial

Praktisi Pariwisata: Dibanding Promo Wisata ke Luar Negeri, Lebih Baik Incar Wisnus Milenial

Whats Hot
Wisman Negara Tetangga Bisa Bantu Pariwisata Indonesia karena Corona

Wisman Negara Tetangga Bisa Bantu Pariwisata Indonesia karena Corona

Whats Hot
Rangkaian Acara Hari Raya Galungan, Sembahyang hingga Mengarak Barong

Rangkaian Acara Hari Raya Galungan, Sembahyang hingga Mengarak Barong

Jalan Jalan
Ngejot, Tradisi Lintas Keyakinan di Bali yang Sarat Makna

Ngejot, Tradisi Lintas Keyakinan di Bali yang Sarat Makna

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X