Kota Sabang, Pariwisata yang Menjanjikan

Kompas.com - 14/06/2015, 16:53 WIB
Keindahan alam Teluk Balohan di Sabang, Aceh. KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAHKeindahan alam Teluk Balohan di Sabang, Aceh.
EditorI Made Asdhiana

Penerbangan pesawat dari Bandara Kuala Namu, Deli Serdang (Sumatera Utara)-Bandara Maimun Saleh, Sabang, hanya tiga kali pulang-pergi per minggu, yakni pada Rabu, Jumat, dan Minggu. Penerbangan itu dilayani PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 dengan kapasitas penumpang 70 orang.

Pengusaha oleh-oleh khas Sabang Bakpia AG, Marfin Gunawan (58), mengatakan, kondisi ini membuat jumlah kunjungan wisatawan ke Sabang terbatas, terutama ketika cuaca buruk. ”Situasi ini merugikan pelaku usaha karena jumlah pembeli tidak maksimal,” ujarnya, Senin (8/6/2015).

Keberadaan tempat penginapan pun terbatas. Tidak ada hotel berbintang di Sabang. Hanya ada penginapan kelas melati dan bungalo ataupun rumah tinggal milik warga setempat yang disewakan (homestay). Ketika hari libur nasional ataupun akhir pekan, para wisatawan harus bersiap tidak kebagian tempat menginap jika tidak memesan jauh-jauh hari.

”Saya sudah lumrah dengan situasi itu. Saya selalu siap membawa tenda dan sleeping bag (kantung tidur) jika datang ke Sabang saat libur hari raya, Tahun Baru, ataupun akhir pekan,” ucap Andeski (24), wisatawan asal Banda Aceh.

Fasilitas lainnya, seperti sumber air bersih, belum ada di tempat-tempat penginapan ataupun warung makan, terutama di kawasan Iboih dan Titik 0 Kilometer. Para pengusaha penginapan mengeluhkan kondisi itu. Sebab, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih, yakni Rp 70.000 per ton. ”Adapun kebutuhan air bersih mencapai 1-5 ton per hari,” kata Zulfikar (42), Pemilik Fina Bungalo di Iboih sejak 2008.

Selain itu, upaya promosi wisata pun belum optimal. Pemerintah setempat jarang menyelenggarakan acara wisata ataupun budaya untuk menarik minat pelancong. Pemerintah pun dinilai kurang aktif mempromosikan wisata Sabang ke tingkat nasional dan internasional. Selama ini, promosi wisata Sabang aktif dilakukan oleh masyarakat, seperti melalui media sosial ataupun laman.

”Saya tahu soal Sabang dari FB (Facebook) dan cerita teman yang pernah ke sini,” tutur wisatawan asal Jambi, Yuliana Wulandari (25).

Kreativitas masyarakat

Selama ini, masyarakat setempat maupun pendatang yang aktif menghidupkan pariwisata Sabang. Warga asli Sabang, Muhammad Ali (48), misalnya. Tadinya, ia berprofesi sebagai nelayan. Namun, ia beralih membuka warung makanan dan minuman di sekitar Titik 0 Kilometer sejak 2009.

”Saya melihat banyak wisatawan yang butuh makanan dan minuman, tetapi kesulitan mencarinya ketika berkunjung ke sini,” ujarnya. Ali mengaku mendapatkan keuntungan yang lebih pasti dari usaha itu, yakni sekitar Rp 2 juta per bulan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X