Kompas.com - 15/06/2015, 11:08 WIB
EditorI Made Asdhiana

Sayangnya, peninggalan yang bisa dilestarikan hanya tarian sanghyang jaran, termasuk kidung-kidungnya dan dua kayu melengkung setengah lingkaran berdiameter kurang dari 10 sentimeter dengan bentuk kepala kuda di salah satu ujungnya.

Ketua Sekaa (kelompok) Once Srawa I Made Subitra mengatakan, tinggal dia bersama 40 warga lain yang tergabung dalam sekaa ini pelestarinya. Ia menambahkan, tarian ini mulai dikomersialkan, baik di kalangan masyarakat sebagai tontonan maupun kepentingan pariwisata. Tarian yang sebenarnya dipentaskan di Pura Desa Jungut Batu setahun sekali.

”Kami pun tetap meminta izin untuk menarikan di luar pura. Diperbolehkan, tapi jarannya harus yang baru. Jaran (kuda) yang asli tidak boleh keluar dari pura,” katanya.

Subitra merupakan generasi keempat dari Pedanda Punia yang melanjutkan pesan Pedanda agar melestarikan tarian ini.

Beberapa tahun terakhir, tarian ini diminati sebagian masyarakat untuk membayar kaul (utang) ucapan. Beberapa pengalaman Subitra, ia dan sekaa-nya disewa untuk menari selama lima malam karena si penyewa sembuh dari sakit. Tak hanya soal sakit, lanjut Subitra, ia juga pernah menarikan karena kaul dari seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki.

Sekaa-nya pun tetap bertahan meski hanya di Nusa Penida, di tengah beberapa sekaa yang mati. Sekali pentas, Subitra meminta bayaran Rp 2,5 juta.

”Kami berusaha tetap bertahan bersama 40 anggota sekaa. Memang tak seberapa penghasilannya karena kadang ada turis, kadang ada yang sewa, kadang tidak ada sama sekali. Kami sudah berniat ini tetap lestari,” kata Subitra.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengatakan, Festival Semarapura yang perdana ini diupayakan melibatkan seluruh desa di daratan dan di seberang. ”Ya, tentu saja masih banyak hal diperbaiki. Tapi, setidaknya bisa memberikan angin segar kepada saudara kita di Nusa Penida untuk hadir di sini,” katanya.

Ia senang masyarakat dapat menampilkan tari-tari klasik yang hampir hilang, seperti Sanghyang ini. Banyak hal dari Klungkung yang masih harus terus digali potensi seni dan budayanya. Sanghyang ini tercatat ada lebih dari lima jenis dan nama selain sanghyang jaran. Bahkan, sanghyang jaran pun ada beberapa versi di beberapa desa di Klungkung, termasuk pemakaian simbol kudanya.

Api mulai padam, dan yang tersisa asap tipis. Suwidra dan Dirnan mulai lemas serta kembali disadarkan. Penonton pun bertepuk tangan, mengakhiri penampilan sanghyang jaran. (Ayu Sulistyowati)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.