Di Manggarai, Hutan sebagai "Anak Rona", Manusia sebagai "Anak Wina"

Kompas.com - 16/06/2015, 10:04 WIB
Turis Italia menyusuri Lereng Wae Ngare, di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. KOMPAS.COM/MARKUS MAKURTuris Italia menyusuri Lereng Wae Ngare, di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
|
EditorI Made Asdhiana
BORONG, KOMPAS.com — Seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur harus memiliki satu pemahaman bersama tentang perlindungan mata air di kawasan hutan konservasi di Taman Wisata Alam Ruteng. Pemahaman ini diperlukan karena air sebagai sumber penopang bagi kelangsungan pertanian dan air minum bersih bagi warga masyarakat di empat desa bahkan kebutuhan air minum bersih bagi Kota Borong.

Demikian salah satu butir Rekomendasi Rapat Pengembangan Ekoturisme Taman Wisata Alam Ruteng antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, setelah kegiatan sosialisasi pada Rabu (10/6/2015) lalu di Aula Pertemuan Ranamese.

Butir lain yang disepakati bersama adalah diperlukan nota kesepahaman antara Pemkab Manggarai Timur dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur sebagai dasar kerja sama pengembangan pariwisata alam di Kabupaten Manggarai Timur.

Selain itu, membuat peraturan daerah tentang perlindungan mata air, desa wisata dan perlindungan masyarakat hukum adat di Kabupaten Manggarai Timur. Selanjutnya perlu dilakukan lokakarya pengembangan pariwisata Manggarai Timur, sebagai langkah awal implementasi RIPPARDA dan pengembangan ekoturisme TWA Ruteng.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Valentinus Sene (berdiri) memaparkan program pengembangan pariwisata di Manggarai. Duduk di samping Kadis adalah Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT, Tamen Sitorus (duduk sambil melihat ke layar) dan moderator dalam kegiatan itu, Kepala Teknis BBKSDA NTT, Maman Suharman (duduk paling ujung) di Aula Pertemuan Robo, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu (10/6/2015).
Rekomendasi itu ditandatangani oleh Wakil Bupati Manggarai Timur Agas Andreas, Ketua DPRD Manggarai Timur Lucius Modo, perwakilan dari Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT, Tokoh agama, adat, pelaku usaha wisata, LSM Ayo Indonesia, Camat Rana Mese dan Kepala Desa Golo Loni.

Perwakilan LSM Ayo Indonesia wilayah Manggarai Raya, Tarsi Hurmali mengatakan, pihaknya sudah memanfaatkan air dari hutan konservasi TWA Ruteng dengan pengembangan tanaman sayur di beberapa kampung dan desa disekitarnya. Manfaat langsung dari air yang mengalir dari hutan konservasi TWA Ruteng sudah dirasakan masyarakat, selain untuk irigasi di persawahan juga untuk air minum bersih dan keperluan untuk menyiram sayur-sayuran.

“Petani di sekitar kawasan konservasi TWA Ruteng sudah memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan air yang bersumber dari hutan konservasi TWA Ruteng,” jelasnya.

Sementara Wakil Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas mengatakan, hutan sebagai ‘anak rona’ sedangkan manusia dan makhluk lainnya sebagai ‘anak wina’. Ini merupakan konsep budaya Manggarai Timur di mana ‘anak rona’ sebagai pemberi anak gadis, sedangkan ‘anak wina’ sebagai penerima.

“Orang Manggarai selalu menghargai dan menghormati ‘anak rona’ dalam berbagai aspek oleh ‘anak wina’. Hutan juga ibarat seperti itu. Kita hargai dan hormati serta lindungi hutan sebagai ‘anak rona’yang selalu memberikan kehidupan bagi kita semuanya," kata Andreas.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Turis Italia meminum air kelapa muda di Pantai Mbolata, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Kepala Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT, Maman Suharman pada penutuan kegiatan sosialisasi itu, Rabu (10/6/2015) mengatakan saatnya mengimplementasikan hasil kesepakatan bersama ini dengan kerja nyata untuk kesejahteraan warga masyarakat di Manggarai Timur.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kerja sama dengan terlibat aktif dalam kegiatan sosialisasi pengembangan ekoturisme di TWA Ruteng. Mari kita mulai kerja nyata,” ucapnya.

Keempat desa yang memperoleh manfaat dari mata air dari hutan konservasi TWA Ruteng adalah, Desa Sano Lokom,  Golo Loni,  Golo Rutung dan Compang Teber.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X