Kompas.com - 18/06/2015, 18:21 WIB
|
EditorI Made Asdhiana
KATHMANDU, KOMPAS.com - Pemerintah Nepal memutuskan untuk membuka kembali situs warisan budaya dunia yang mereka miliki. Pembukaan kembali itu bertujuan untuk memulihkan kembali pendapatan pariwisata di daerah yang terkena gempa pada April lalu itu. Namun, keputusan ini mendapat perhatian khusus dari UNESCO. Sebab menurut mereka bangunan-bangunan itu belum siap untuk dikunjungi.

Seperti diketahui, keberadaan candi dan juga istana di Nepal memegang peran signifikan bagi negara itu sendiri. Sayangnya, hampir seluruh bangunan itu hancur akibat gempa yang mengguncang Nepal 25 April silam dan menewaskan lebih dari 8.700 orang.

“Situs warisan dunia yang menjadi harta bagi perekonomian Nepal tidak bisa ditutup selamanya,” kata Sekretaris Pariwisata Nepal, Suresh Man Shrestha.

Lebih lanjut Shresta mengatakan, dibukanya kembali situs ini bahkan bisa jadi wisata pendidikan gempa bagi para wisatawan. Dia menyebutkan anggaran biaya untuk merekonstruksi lebih dari 700 monumen yang rusak dianggarkan lebih dari 10 juta dollar AS. Pembukaan kembali monumen-monumen itu antara lain Kompleks Durbar Square di Kathmandu, Bhaktapur, dan Patan serta Swayambhunath.

“Kini Nepal sudah aman,” kata Menteri Budaya, Pariwisata dan Penerbangan Sipil Nepal, Kripasur Sherpa saat membuka kembali Durbar Square, Senin (15/6/2015) lalu.

Meski telah dibuka kembali, Kepala UNESCO Perwakilan Nepal, Christian Manhart mengatakan pihaknya sudah mengimbau pemerintah Nepal untuk menunda pembukaan kembali situs tersebut. Dia mengatakan dua di antara situs tersebut masih belum aman.

“Di Durbar Square, Kathmandu, terdapat sebuah museum istana yang besar, salah satu bangunannya masih sangat ringkih,” katanya.

Shutterstock Lapangan Durbar di Bhaktapur, Nepal.
Kekhawatiran Manhart bukan tanpa alasan karena antara satu dinding dengan dinding lain kini sudah terpisah sehingga dinding raksasa ini bisa jatuh kapan saja.

Departemen Pariwisata Nepal mengatakan pemerintah akan meningkatkan standar keamanan, termasuk memberi helm pada pengunjung dan pihak keamanan monumen. Selain itu, bangunan museum di Durbar Square Kathmandu akan tetap ditutup.

Namun, meski ditutup, menurut Manhart, mengizinkan pengunjung berkunjung ke sana tetap berbahaya.

Sebelumnya, Manhart berupaya mengirim surat ke Direktur Jenderal Departemen Arkeologi Nepal, Besh Narayan Dahal, dua minggu lalu untuk mendesak dia memundurkan pembukaan kembali Durbar Square. “Mereka mengatakan terdapat beberapa tekanan untuk membuka kembali situs ini, mereka akan meminta biaya masuk ke situs tersebut dan itu memang dibutuhkan untuk rehabilitasi monumen,” kata Manhart.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.