Kompas.com - 20/06/2015, 15:18 WIB
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F
JAKARTA, KOMPAS.com – Wisata berenang bersama ikan hiu kini cukup digemari oleh para wisatawan. Tak sedikit wisatawan berkunjung untuk mencicipi bagaimana rasanya berenang dalam sebuah kolam yang dipenuhi oleh ikan hiu. Namun, kebanyakan dari mereka juga tak paham hakikat sebenarnya dari wisata kolam hiu yang mereka cicipi.

“Ini adalah eksploitasi yang mengatasnamakan konservasi. Hiu bisa stres dan ada bahaya lain bagi pengunjung,” ujar pendiri ProFauna, Rosek Nursahid.

Menurut Rosek, kemungkinan timbulnya bahaya bagi para pengunjung cukup besar. Sebab, pada dasarnya hiu merupakan binatang liar juga sebagai predator, maka risiko hiu untuk menyerang manusia kemungkinan besar bisa terjadi.

“Dalam situasi tertentu seperti stress atau lapar, semua binatang liar atau predator akan punya insting untuk memangsa,” imbuh Rosek.

Senada dengan Rosek, pemerhati konservasi alam dan mantan pembawa acara perjalanan Riyanni Djangkaru juga menganggap wisata berenang bersama ikan hiu tidak masuk akal. Alasan penangkaran yang berarti pengembangbiakan, menurut dia, tidak cocok disandingkan dengan kegiatan wisata tersebut.

“Kalau dibilang penangkaran hiu, berarti tujuannya konservasi berarti kita lihat itu pengembangbiakannya, tapi itu orang bayar justru buat berenang,” lanjut Riyanni.

Upaya komersialisasi berbalut konservasi tersebut bagi Riyanni sangat tidak bersahabat dengan lingkungan, khususnya bagi kelestarian hiu. Riyanni menyebutkan kemungkinan hiu mati akan lebih tinggi karena banyak hiu yang stres akibat harus berenang di kolam kecil.

Padahal, hiu-hiu tersebut sudah terbiasa berenang di lautan luas. Tak hanya itu, kelestarian hiu di alam liar juga semakin terancam dengan adanya wisata ini.

“Supaya menarik perhatian orang pasti jumlahnya ditambah, jadi jumlah di alam semakin berkurang,” jelas Riyanni.

Menanggapi hal ini, Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia, Nyoman Iswarayoga mengatakan upaya konservasi harus tetap menjaga keaslian habitat hewan tersebut. Dia pun tidak menampik adanya wisata berenang bersama hiu maupun hewan liar lainnya.

“Fungsi konservasi untuk riset dan edukasi masyarakat memang ada dan diperbolehkan, namun harus dijamin bahwa satwa yang ada di sana memang diperlakukan dengan baik,” jelas Nyoman.

Meski begitu, beberapa elemen penting tetap harus diperhatikan para pengelola konservasi, seperti aspek perizinan dan perawatan selama penangkaran. Perawatan begitu penting menurut Nyoman sebab hewan-hewan tersbeut pada dasarnya merupakan hewan liar sehingga kawasan konservasinya harus dibuat menyerupai habitat aslinya.

Namun, saat ini salah satu atraksi berenang bersama ikan hiu paus yang legal menurut Nyoman sudah ada di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Manokwari, Papua Barat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.