Kompas.com - 20/06/2015, 18:43 WIB
EditorI Made Asdhiana

Lariangi diwariskan turun-temurun hingga kini. Gerakan menari diajarkan secara lisan dari generasi ke generasi, juga lagunya. Bupati Wakatobi Hugua ‎yakin, tarian ini bisa menjadi warisan dunia tak benda mengingat banyaknya simbol-simbol bermakna di setiap detail riasan dan pakaian, juga pesan-pesan kebaikan dalam syair-syairnya.

Simbol-simbol itu antara lain hiasan yang disebut panto yang di‎letakkan di kepala, menandakan derajat kebangsawanan. Lalu ada bunga konde sebagai lambang pagar beton keraton, kalung dengan bentuk matahari dan bulan sebagai sumber cahaya, dan hiasan naga sebagai lambang penjaga benteng keraton.

”Karena tarian ini berasal dan tumbuh di kepulauan, juga gaya menariknya yang lemah gemulai, saya menyebutnya tarian di atas gelombang,” kata Sekretaris Kabupaten Buton Sudjiton. Kini lariangi makin menyesuaikan dengan zaman. Penonton boleh masuk ke dalam barisan penari dan ikut melenggak-lenggok kendati dengan gerakan asal-asalan. Seperti pada pertunjukan Minggu itu, Sudjiton ikut menari dan setelah itu nyawer, meletakkan uang ke dalam piring yang telah disediakan.

Banyak tradisi di ‎Wakatobi yang sarat dengan nilai. Pasikamba, misalnya, satu prosesi doa agar beruntung dalam mencari ikan. Pasikamba mengajari nelayan untuk akrab dengan alam, membaca alam. Lalu ada issu, tradisi mengatur waktu untuk berlayar.

Beragam tradisi itu dilingkupi satu semangat gau satoto‎, yakni sebuah ideologi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Gau satoto dimaknai sebagai penyatuan kata dan perbuatan, dijabarkan ke dalam lima prinsip nilai, yakni tara (tangguh), turu (sabar), toro (teguh), taba (berani), dan toto (jujur). Ideologi ini mengontrol laku orang Wakatobi (Hadara, Ali, Gau Satoto: Kearifan Lokal Orang Wakatobi, 2014).

Simbol dan kearifan lokal warga di mana pun, mungkin dianggap sebagai mitos. Namun, mitos itu memiliki tujuan kreatif yang mampu melindungi suatu kawasan yang seharusnya dilindungi oleh masyarakat adat. (Susanto, Hary: 1987). Dengan demikian, tradisi-tradisi lisan tersebut berperan penting dalam menjaga lingkungannya. (SUSI IVVATY)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.