Festival Sentani, Pemerintah Libatkan Para Bloger

Kompas.com - 22/06/2015, 14:09 WIB
Pemerintah Kabupaten Jayapura bersama Pemerintah Provinsi Papua serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif setiap tahun menggelar Festival Danau Sentani. Pembukaan Festival Danau Sentani 2014, yang diwarnai dengan sajian tarian kolosal yang menggambarkan keberagaman suku di Papua, menarik perhatian pengunjung. Jumlah wisatawan ke Papua pun setiap tahun meningkat. KOMPAS/DODY WISNU PRIBADIPemerintah Kabupaten Jayapura bersama Pemerintah Provinsi Papua serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif setiap tahun menggelar Festival Danau Sentani. Pembukaan Festival Danau Sentani 2014, yang diwarnai dengan sajian tarian kolosal yang menggambarkan keberagaman suku di Papua, menarik perhatian pengunjung. Jumlah wisatawan ke Papua pun setiap tahun meningkat.
EditorI Made Asdhiana
SENTANI, KOMPAS - Meski sudah delapan kali digelar, Festival Danau Sentani di Papua dinilai belum terlalu berhasil meningkatkan jumlah wisatawan. Kementerian Pariwisata kini menggunakan trik-trik baru, termasuk melibatkan lebih banyak anak muda, bloger, dan media untuk menaikkan promosi.

”Jumlah peningkatan wisatawan per tahun (di sini) maksimal hanya 10 persen. Belum signifikan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di sela-sela peresmian Festival Danau Sentani (FDS) Ke-8 yang bertema ”Budayaku, Sejahteraku” di Pantai Khalkote, Sentani, Provinsi Papua, Sabtu (20/6/2015).

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan peningkatan wisatawan mancanegara sebanyak 20 persen dari jumlah rata-rata 35.000 per tahun. Pemerintah Provinsi Papua diminta menyisihkan lebih banyak anggaran untuk pembangunan wilayah pariwisata, terutama akses. Selain itu, Kemenpar kini melibatkan bloger (aktivis pengelola blog di internet) yang memberi masukan segar.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuty, ada 12 bloger yang dipilih untuk mengikuti festival dan mempromosikan keindahan alam di wilayah itu. ”Sebagian adalah bloger dengan pengikut mencapai ribuan orang,” tuturnya.

Para bloger itu diberi waktu empat hari untuk menikmati FDS. Selain mengunjungi kampung-kampung di sekitar Sentani, mereka juga mendatangi berbagai tempat wisata lain di Jayapura, seperti Tugu McArthur.

Kekuatan bloger

Salah seorang bloger, Yuki Anggia Putri, mengutarakan, bloger memiliki kekuatan untuk menggapai berbagai kalangan masyarakat. Pengikut mereka terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang dewasa, karena setiap blog dirancang sesuai dengan berbagai jenis selera pembaca. Para pengikut blog jarang mengunjungi kanal-kanal resmi Kemenpar ataupun dinas pariwisata karena artikel di situs pemerintah lazimnya disajikan secara monoton dan tidak personal.

”Ada blog yang unggul di foto dan ada yang di teks. Semuanya bisa berkontribusi untuk mempromosikan Sentani kepada masyarakat, termasuk dari luar negeri,” ujar Yuki.

Sepanjang FDS dan perjalanan mengunjungi Kampung Asei, sebuah permukiman di pesisir Danau Sentani, para bloger tidak henti-hentinya memotret kemudian mengunggah foto-foto dan pesan singkat melalui media sosial, seperti Twitter, Path, dan Instagram.

KOMPAS/FABIO M LOPES COSTA Perlombaan tarian yosim pancar khas Papua ditampilkan saat pembukaan pameran Festival Danau Sentani di kawasan wisata Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Jumat (19/6/2015). Diikuti 15 tim dari Papua dan dua tim dari Papua Barat, Festival Danau Sentani akan berlangsung hingga 23 Juni 2015.
Masih seremonial

Festival tahun 2015 dibuka Sabtu kemarin, dengan melepaskan 1 juta ekor benih ikan nila ke keramba-keramba di Kampung Asei agar bisa meningkatkan potensi ketahanan pangan masyarakat. Ini memecahkan rekor jumlah pelepasan benih ikan yang ditetapkan Lembaga Prestasi Indonesia. Acara juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dan Bupati Jayapura Mathius Awoitauw. Menurut Mathius, pemecahan rekor itu untuk memberi keunikan setiap FDS, sekaligus menunjukkan potensi masyarakat.

Sebagian masyarakat menilai, festival masih kental dengan seremoni dan belum menonjolkan kebudayaan masyarakat dari 50 kampung yang hidup di sekitar Danau Sentani. Ramses Ohe, tokoh masyarakat adat Kabupaten Jayapura, mengatakan, belum pernah ada kegiatan rutin mengunjungi kampung-kampung di sekitar Danau Sentani selama festival. (DNE/FLO)

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X