Kompas.com - 25/06/2015, 09:03 WIB
Batu Jaramasih dari puncak Bukit Wolobobo di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. WENNY KOHONGIABatu Jaramasih dari puncak Bukit Wolobobo di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
EditorI Made Asdhiana
PERNAHKAH Anda melihat fenomena langka matahari terbit dan terbenam di lokasi yang sama? Saya menyaksikannya di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kabut menggantung rendah saat kami memasuki Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Dua gunung berapi menjulang di kiri dan kanan, Inerie kebanggaan Ngada serta Ebulobo andalan Nagekeo. Meski jingga sore itu hanya berpendar samar, tak urung kami berhamburan keluar saat mobil menepi. Siapa sanggup melawan mantra mentari terbenam di punggung Ebulobo?

Syahdan, Ebulobo adalah seorang pemuda yang mencintai Inerie akan tetapi pujaannya lebih memilih pemuda lain bernama Masih. Tidak ada tempat yang lebih dramatis untuk mendengarkan kisah kasih tak sampai ini selain Bukit Wolobobo. Di antara ilalang tinggi yang membentuk sabana kecil di puncak bukit, saya berdiri sangat dekat dengan Gunung Inerie dan melihat jelas Batu Jaramasih (kuda milik Masih).

WENNY KOHONGIA Sunrise di punggung Ebulobo, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Pemandangan ini terbingkai rimbun pepohonan yang tumbuh subur dan lautan biru di kejauhan. Sementara Ebulobo berada di sisi bukit lainnya, seolah tersingkir dari kehidupan dua sejoli itu.

Kisah pilu tersebut hanyalah satu dari sekian legenda tentang Ibu Agung Inerie. Apa pun kisahnya, Inerie adalah gunung penghias imaji setiap kanak-kanak saat menggambar – bentuknya segitiga dengan ujung nyaris runcing sempurna.

Saat trekking ringan ke puncak Wolobobo, saya menyaksikan fenomena langka yang tidak saya mengerti hingga kini. Matahari terbit dari balik lokasi yang sama dengan terbenam kemarin – punggung Ebulobo! Well, setidaknya itu yang terlihat oleh mata awam saya yang – tentu saja – bukan ahli astronomi. Semesta sontak terbangun oleh cahaya jingga yang sangat berkilauan pagi itu.

WENNY KOHONGIA Gunung Inerie di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Pagi itu pula saya berkenalan dengan Mama Maria yang sedang menenun di teras rumahnya di Bena. Nama Bena cukup masyhur di kalangan pejalan domestik maupun asing berkat jejak Megalitikum yang berpadu selaras dengan ajaran Katolik. Desa adat ini tidak seberapa luas namun tertata apik. Rumah tradisional dibangun rapat di atas tanah bertingkat memagari altar batu di tengahnya. Goa Maria adalah titik terbaik untuk menikmati kebersahajaan Bena dari ketinggian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kain Ikat yang dipajang di teras rumah sesekali melambai tertiup angin, memikat siapa saja yang lewat. Binar mata dan jabat hangat Mama Maria saat menyambut kami merupakan sebuah pengalaman yang akan selalu saya kenang.

Bicara soal Bajawa tentu tak lepas dari kopi. Kualitas kopi Bajawa diakui internasional sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Bahkan saya yang bukan peminum kopi jatuh cinta pada renyahnya biji kopi Bajawa yang baru disangrai.

WENNY KOHONGIA Desa Adat Gurusina di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Di Sentra Kopi Organik Papa Wiu kami melihat proses pengolahan kopi mulai dari pemilihan biji, pengupasan, penjemuran, hingga siap dijual. Pada akhir kunjungan kami menikmati ngopi sore ala Bajawa yang menghadirkan pilihan kopi pahit, kopi manis dan kopi bercampur Moke – minuman khas Flores yang berasal dari sadapan pohon lontar atau enau.

Halaman:


25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X