Museum Angkut, Pertama di Asia Halaman all - Kompas.com

Museum Angkut, Pertama di Asia

Kompas.com - 27/07/2015, 19:14 WIB
KOMPAS.COM / RODERICK ADRIAN MOZES Pengunjung melihat berbagai koleksi dan pernak-pernik alat transportasi yang berada di Museum Angkut di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (8/4/2015). Museum yang dibangun di lahan seluas 3,8 hektar ini menyimpan 300 koleksi jenis angkutan baik dari tradisional sampai modern yang dipadukan dengan model bangunan eksotis dunia.

 

DILIHAT dari namanya, yang menjadi koleksi Museum Angkut (MA) adalah semua jenis moda transportasi yang ada di muka bumi, mulai yang tradisional, modern, sampai replika. Terletak di lereng Gunung Panderman yang memiliki pemandangan indah, museum seluas 3,8 hektare ini menyimpan 300 koleksi berbagai jenis moda transportasi.

“Helikopter sampai duplikat gerobak yang ditarik sapi, juga motor dan mobil kuno, ada di sini,” kata Titik S. Ariyanto, Operational Manager MA.

Tujuan didirikannya museum ini di tahun 2014 adalah sebagai bentuk penghargaan bagi para pencipta moda transportasi. “Sebagai masyarakat sosial, kita saat ini tinggal menikmati semua moda transportasi yang ada, mulai yang tradisional sampai yang menggunakan teknologi tinggi. Tapi, selama ini kita tidak pernah tahu siapa pembuatnya. Karena itu, sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada si penemu, didirikanlah MA ini,” tambah Titik sambil menjelaskan bahwa MA adalah museum angkut pertama di Asia.

Barang-barang di museum ini memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah helikopter yang pertama kali dimiliki Indonesia. Helikopter ini diperoleh semasa era pemerintahan Presiden Soekarno dan merupakan pemberian pemerintah Amerika Serikat setelah mata-mata negara adikuasa tersebut tertangkap oleh Indonesia. Sebagai bentuk pengakuan rasa bersalah, Amerika Serikat kemudian memberikan helikopter tersebut.


Yang tak kalah menyenangkan, di MA juga dipajang ratusan mobil kuno bermacam merek, buatan berbagai negara di dunia. Mobil-mobil tersebut tertata dan terawat dengan sangat baik. “Bahkan sebagian besar mobil-mobil tersebut masih bisa digunakan dengan baik,” imbuh Titik.

KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Koleksi dan pernak-pernik alat transportasi yang berada di Museum Angkut di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (8/4/2015). Museum yang dibangun di lahan seluas 3,8 hektar ini menyimpan 300 koleksi jenis angkutan baik dari tradisional sampai modern yang dipadukan dengan model bangunan eksotis dunia. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES

Museum MA sengaja dibagimenjadi dua bagian. Selain indoor, sebagian mobil serta moda transportasi lain juga ditempatkan di areal terbuka dan ditata sesuai zona di di mana negara tersebut berada. Misalnya, ketika pengunjung memasuki kawasan Broadway, Amerika Serikat, di sepanjang jalan yang terkenal dengan gangster-nya itu diparkir mobil-mobil bak terbuka merek Ford tahun 70-an.

Demikian pula suasana di sekitarnya, ditata menyerupai kawasan aslinya di Amerika. Karena lokasinya yang memang bagus, area ini pun menjadi tempat favorit untuk selfie atau foto ramai-ramai para pengunjung yang memenuhi kawasan itu.

Memasuki zona Italia, lukisan-lukisan di dinding museum menggambarkan suasana di negara yang dikenal dengan mafiosonya, sementara mobil Fiat kuno serta motor Vespa kuno memenuhi areal tersebut.

“Ayo foto-fotoan mumpung kita di Italia nih,” teriak seorang remaja kepada teman-temannya sambil tertawa.

KOMPAS.COM / RODERICK ADRIAN MOZES Pengunjung melihat berbagai koleksi dan pernak-pernik alat transportasi yang berada di Museum Angkut di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (8/4/2015). Museum yang dibangun di lahan seluas 3,8 hektar ini menyimpan 300 koleksi jenis angkutan baik dari tradisional sampai modern yang dipadukan dengan model bangunan eksotis dunia.


Demikian pula ketika memasuki zona Eropa dan Prancis. Selain berjajar mobil-mobil tua buatan Eropa, di tengah-tengahnya juga berdiri miniatur menara Eiffel berukuran cukup besar dengan lampu warni-warni menyelimuti tiang menara.

Tak hanya zona luar negeri saja, kawasan lama yang ada di Jakarta juga ada di MA. Salah satunya adalah kawasan Pecinan di Sunda Kelapa, Jakarta. Di depan gerbang yang sengaja di-setting mirip Stasiun Kota Jakarta itu, terdapat bajaj yang menjadi ikon angkutan massal di Jakarta.

Sebelum keluar dari areal museum, pengunjung juga bisa mampir ke Pasar Apung. Dinamakan Pasar Apung karena pasar itu dikelilingi “sungai” kecil yang bisa dilintasi perahu. Di dalam pasar, terdapat stan-stan penjual aneka suvenir yang bisa dijadikan oleh-oleh. (Gandhi Wasono M / NOVA)


Page:
EditorNi Luh Made Pertiwi F

Close Ads X